Minggu, 14 Desember 2008

Belajar Sepanjang Hayat

Seminggu mertua saya menginap di rumah kami. Berhubung sebagian besar buku sudah dibawa ke Tanjung Sari, ayah dan ibu mertua saya hanya disuguhi buku-buku tentang tanaman obat untuk selingan, karena buku-buku itu-lah yang masih tertinggal di rumah kami di Bandung. Karena sudah banyak juga keluhan sakit, searching tanaman yang berkhasiat obat pun jadi menarik. Ayah mertua saya sampai mem-foto copy beberapa buku yang bersinggungan dengan penyakit beliau.

Ada satu hal yang membuat saya sangat takjub. Saat saya mematikan mesin air, saya lihat sepintas dari jendela, ibu mertua saya sedang menulis di atas secarik kertas. Bahkan mungkin bukan secarik, tapi beberapa lembar juga sudah tergeletak di atas kasur. Saya tak bertanya, karena siapa tahu beliau sedang mencatat surat penting.

Akan tetapi, ketika saya sedang mempersiapkan sarapan di dapur, ibu mertua saya melongok ke dapur dan bercerita bahwa beliau sudah mencatat beberapa tanaman dan khasiat serta resep obat dari buku, dan tinggal sedikit lagi yang belum ditulis. Subhanallah! Saya sampai geleng-geleng kepala... Saat saya lihat ke kamar, memang benar, catatan itu sudah dengan rapinya tertulis pada beberapa lembar kertas.

Tentu sangatlah tidak bijak bukan, kalau saya membiarkan seorang ibu yang begitu bersemangat untuk mendapatkan ilmu harus mencatat begitu rupa, dengan tulisan tangan pula. Akhirnya buku itu pun saya hadiahkan buat beliau. Wah! Mama mertuaku tentu saja senang.

Bagaimana dengan anak-anak muda? Masihkah menyala semangat belajar itu? Sampai kapan? Semoga sepanjang hayat, kita selalu terinspirasi dan bersemangat untuk belajar, tak peduli sudah berapapun usia kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar