Rabu, 31 Desember 2008

Selamat Tahun Baru

Tahun Baru Tiba


Dimana-mana terlihat ucapan singkat dengan berbagai variasi guna mengucapkan datangnya tahun baru. Ada dua tahun baru yang sedang berlenggang dihapadapan kita bersama, tahun baru masihi dan hijriyah penulisan yang pertama antara dua nama penamaan tahun ini tidak kami maksudkan untuk memberikan keistimewaan satu dari lainnya. Tahun baru hanyalah sebuah pemahan bersama yang disepakati jadi tidak menjadi keistimewaan yang begitu berarti atau tidak ada kewajiban mutlak untuk merayakan tahun baru. Ada hal lain yang perlu dan lebih layak untuk kita bahas adalah dari sisi sejarah atas setiap tanggal yang ada. Kenapa kita perlu memperhatikan sejarah tidak malah memperhatikan tahun baru sebagaimana telah dilakukan dan sudah begitu melekat menjadi budaya pada kebanyakan kebudayaan masyarakat dunia? Disini kami tidak mengajak untuk menjadi sosok-sosok “antipati” tahunbaru tapi hanya menawarkan sebuah pandangan sekiranya bisa dibahas bersama.
Kalau kita melihat kebudayaan bangsa brazil, cina, myanmar bangsa besar lainnya akan kita dapati bahwa mereka demi memperingati tahun baru dengan begitu ragam Ada berbagai cara dalam menyambut tahun baru yang bisa kita temui. Masyarakat Karibati mengangkat tangan mereka untuk menyambut terbitnya matahari pada awal tahun. Masyarakat yang tinggal di kepulauan pasifik ini melakukan pesta di Caroline Island yang kemudian pada tahun 1997 mereka namakan dengan Millennium Island. Sedang di Syney salah satu kota di Australia lain lagi, mereka menyambut tahun baru ini dengan pesta kembang api, di Kamboja para biarawan dengan pakaian khas agama budha, memeriahkan tahun baru di vihara terkenal Angkor Wat sebagai salah satu bentuk peribadahan. Masyarakat Prancis di kota Paris membuat kombinasi kembang api di menara Eiffel. Semua ini hanyalah suatu ekspresi masyarakat untuk menyambut tahun baru ataukah ada hal lain yang tersimpan rapi dibalik semua itu?
Ketika kita menengok sedikit lebih jauh akan kita dapati hampir di setiap tahun baru dari berbagai tahun baru yang ada pasti dilakukan perayaan khusus. Pada kalender mereka tanggal pertama pada awal tahun diberi tanda khusus dan hari itu pun diliburkan.

Sebagai ummat islam kita juga memiliki tahun sendiri yaitu tahun Hiriyah atau dikenal juga tahun Qomariyah dan ini berarti kita juga memiliki tahun baru juga. Dengan adanya kebiasaan masyarakat dunia yang senantiasa merayakan tahun baru mereka, ada yang berfikir bahwa kita pun harus atau semestinya melakukan hal yang sama. Kita juga merayakan tahun baru Hijriyyah. Penanggalan islam memiliki sejarah tersendiri. Pada awalnya masyarakat islam menggunakan patokan tahun dengan mengingat kejadian besar yang terjadi pada tahun tersebut. Seperti kejadian penyerangan Abrahah pada tempat ibadah yang didirikan nabi Ibrahim dengan anaknya. Masyarakat pada waktu itu menamai tahun itu dengan Tahun Gajah. Mengapa tahun baru dirayakan?

Sebagai masyarakat muslim kita tentunya memiliki sikap tersendiri, tidak sepantasnya kita sebagai makhluk yang berakal melakukan tindakan hanya karena alasan mengikuti kebiasaan dan adat istiadat yang ada. Agama kita adalah timbangan untuk menakar sikap terbaik yang semestinya dilakukan. Dari sisi lain tahun baru adalah takaran itu sendiri, dengan perputaran tahun kita akan tahu berapa lama perjalanan yang sudah kita tempuh dan bisa menilai efektifitas perjalanan tersebut dengan membandingkan dengan apa yang sudah mampu kita karyakan hingga tahun itu.

Di negara kita pesta tahun baru juga sudah begitu lekat dengan kebiasaan masyarakat dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang bersuku jawa memiliki kebiasaan khusus dalam menyambut tahun baru tahun jawa. Tahun yang diadopsi dari tahun hijriyah. Pada bulan pertama awal tahun mereka melakukan suatu kebiasaan khusus, salah satunya membuat bubur syura. Mungkin cerita ini agak terdengar basi namun ada yang bisa kita tilik adalah bagaimana mewujud respon atas kebiasaan itu, sudah semestinya kita memberikan respon yang tepat karena semua itu pasti tidak lepas atas suatu alasan dan tidak menutup kemungkinan ada penyampaian berita orang-orang masa lalu yang ditujukan pada manusia setelahnya yaitu kita. Dari sinilah pengetahuan sejarah memberikan peranan penting. Ada apakah dengan kebiasaan itu? mengapa harus seperti itu? ada rahasia apa dengannya? Dari sini beruntunglah orang yang mencoba memaksimalkan eksistensi kemanusiaannya, karena siapapun yang memiliki kriteria ini pasti tidak hanya membiarkan adanya kebiasaan masyarakat itu semabari lalu saja. Tidak hanya mengatai “Ah itu hanya kebiasaan kuno” sebuah penyakit yang menjadikan kebutaan sebagian masyarakat bangsa atas kebudayaan sendiri.

Tidak bisa kita pungkiri perkembangan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam di gubah pada awalanya oleh para ustadz yang lebih dikenal dengan nama para wali songo(wali Sembilan). Kenyataan sejarah ini menceritakan pada kita bahwa pasti gagasan yang disampaikan oleh para wali Sembilan itu ada. Dari sini apakah salah ketika mengambil sebuah premis awal bahwa ada hal-hal yang telah disampaikan oleh para wali ssembilan itu. Dengan cara melihata tata cara melakukan dakwah baik berupa dengan seni wayang, pembuatan syair, dengan ilmu kesaktian dan semacamnya pasti ada hal lain yang sebenarnya menjadi inti dari dakwah para wali Sembilan itu.

Salah satu cara yang dipakai adalah dengan menggunakan wayang kulit. Yaitu metode dakwah yang dipakai oleh Sunan Kali Jogo. Dari penamaan pembawa karakter setiap wayang, terlihat ada sebuah berita yang menjadi simpul yang membutuhkan suatu takwil dan tafsir secara lebih dalam. Sebagai contoh tokoh Semar, pelaku dengan criteria sebagai tokoh dari masyarakat kecil bertubuh gendut, tidak begitu ganteng dan hidup begitu sederhana. Pada setiap lakon yang dilakukan ternyata tidak seperti karakter fisik dan ekonomi yang melekati dirinya. Dia memiliki kekuatan yang lebih kuat dibanding para dewa dimana kekuatan ini hanya dia keluarkan pada saat terpaksa saja. Semar sering diidentikkan dengan kata “samar” yang berarti “tidak begitu jelas”. Jadi tidak ada identitas khusus yang disampaikan untuk menjelaskan jati diri tokoh Semar. Semua ini mirip dengan konsep manusia sempurna yang menjadi wakil Tuhan yang berada didunia dengan criteria khusus. Dimana sebagaimana disinggung oleh Mulla Shadra keberadaan seseorang semacam ini menjadi suatu keharusan. Dari sini dapat kita ambil titik simpul bahwa setiap tokoh wayang yang dipakai oleh Suanan Kali Jogo adalah salah satu bentuk pelajaran Filsafat yang ingin disampaikan pada masyarakat yang ada pada waktu itu. Dan ini menjadi ibarat bahwa sunan yang lain yang membuat suatu penetapan tertentu dan penamaan tertentu pada kaidah penghitungan tahun jawa juga memiliki alasan tersendiri.

Bulan pertama pada tahun kalender jawa dinamakan bulan Syura, nama ini berasal dari kata Asyarah yang bermakna kesepuluh atau angka sepuluh dalam kebahasaan bahasa arab. Ada apakah dengan tanggal sepuluh muharam? Atau tanggal sepuluh bulan Syura milik penanggalan jawa itu? Pada tanggal itu ternyata merupakan hari bersejarah tetap adanya agama islam di muka bumi. Jadi jika kejadian itu tidak ada bisa dikatakan sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang yang mempercayai islam sebgai sebuah agama, atau bentuk minimalnya agama islam sudah di takhrif sebagaiman beberapa agama laingit yang lain yang juga diturunkan oleh Allah. Tanggal 10 asyura adalah titik awal bangkitnya kembali islam setelelah dikacau balau oleh pemerintah berstempel islam namun bertindak layaknya binatang jauh dari nilai-nilai keislaman.
Apakah anda ingin mengenal lebih dalam makna 10 asyura? Anda dapat melihat diberbagai media yang telah mengupas luas masalah terkait masalah ini. Dan hanya pada allah mengharapkan petunjuk dan Allahlah Zat Yang Maha Tahu.
Suparno Qom 29-12-08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar