Kamis, 31 Juli 2008

Intermezzo 2: Kalo Udah Gede Jadi Buaya

Pagi ini semua sibuk. Saya punya bertumpuk-tumpuk cucian, suami saya ngoprek website yang error, si sulung lagi betah-betahnya naik sepeda, tantenya sibuk nge-print , dan.... dari jendela dapur saya melihat si kecil tumben asyik mengamati tanaman. Satu per satu daunnya dipegang.

Wah, melihat tingkah si bungsu ini saya agak-agak khawatir. Soalnya dia kadang-kadang iseng menarik daun-daun tanaman. Saya dekati dia dan menyiapkan serangkaian kalimat peringatan super halus.

"Ade, hati-hati ya. Daun-daunnya jangan dipetik," ujar saya.
Seperti biasanya dia akan berkilah untuk mengalihkan perhatian saya kalau agak dilarang-larang, "Kalau yang ini, Mama?" katanya sambil menyentuh daun sambiloto.
"Iya," jawab saya.
"Ini juga? Ini juga? Itu juga? Lidah buaya juga?" kata dia lagi.
"Iya. Semuanya," jawab saya sambil berlalu membelakangi dia.

Tapi setelah beberapa detik, saya mendengar dia berbicara lagi, "Oh, Mama. Lidahnya penuh duri-duri"
"Lidah apa?" tanya saya
"Lidah buaya. Nanti kalau sudah besar dia pasti jadi buaya!" serunya sambil beranjak keluar pagar.
Dia tak tahu kalau kami yang mendengar tak kuat menahan tawa.

Dasar anak kecil!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar