Minggu, 06 Juli 2008

Pendidikan keluarga

Peranan Seorang Bapak Dalam Pendidikan Untuk Anak.

Bab 1 “Berbagi dalam Hal Kemanfaatan”
Kebutuhan untuk saling berbagi dalam perkara-perkara kehidupan dan urusan keluarga sangat perlu agar kasih sayang Ilahiah dalam keluarga tercipta, ketentraman serta ketenangan akan terwujud sempurna. Bukankah berbagi yang paling mulia adalah berbagi dalam ilmu? Semestinya antara suami istri tidak ada keengganan untuk saling belajar satu dengan yang lain.Rasul saww bersabda, ”Akal adalah menjaga pengalaman, dan sebaik-baik pengalaman adalah yang mamberikakan nasihat kepadamu (Almusawi, 2000). Beliau juga berkata, ”Ilmu sebagai jiwanya (akal)...” ketika seorang bapak mencarikan refrensi buku untuk mebuka cakrawala keluarga dia harus pandai memilih bacaan atau media masa yang berkualitas. “Sesungguhnya ilmu itu ada tiga, ayat yang jelas, sunah yang benar, dan kewajiban yang harus dilakukan”. Ayat yang jelas meliputi ilmu tauhid, usuludin, dan kajian-kajian tentang Sang Pencipta. Bagian kedua adalah imu yang terkait masalah keikhlasan, ilmu tentang kemulyaan manusia dan cara menggapainya, kehinaan manusia serta tata cara untuk menghindarinya. Ketiga adalah terkait dengan masalah fikih. Dijelaskan bahwa ilmu selain tiga golongan diatas adalah ilmu sebagai pelengkap semata ( Husain madzaheri, pintar mendidik anak). Sebagai seorang imam dalam keluarga seorang suami harus mengarahkan keluarganya terutama anak-anaknya sehingga mereka tidak menemui kesukaran untuk mendapatkan tiga jenis ilmu diatas.

Bab 2 “Penjagaan Dari Maksiat”
Semakin tinggi kesadaran akan pentingnya pengetahuan maka semangat untuk mencari ilmu akan semakin tinggi. “Tidak ada artinya ilmu tanpa amal, tidak ada artinya amal tanpa ikhlas....” Ilmu adalah sarana menuju kesempurnaan jadi ketika ilmu tidak digunakan atau dimanfaatkan maka fungsinya akan hilang atau tidak akan didapatkan hasil darinya. Semakin banyak keilmuan seseorang maka kewajiban yang harus dilakukan akan semakin banyak. Ketiga jenis Ilmu yang perlu dimiliki oleh seorang muslim akan menjadikan orang yang mempelajarinya menjadi faham dengan jalan kebenaran dan jalan keburukan, pelanggaran dari kewajiban yang sudah diketahui. Sehingga mampu membedakan dan bersungguh-sunguh menjalankannya perintah serta berusaha semaksimal mungkin menjauhinya laranganNya. Semua ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah adalah tatanan yang akan menggiring manusia pada kesempurnaan. Allah adalah zat yang menciptakan manusia, jadi hanya Dialah yang mengetahui kapasitas dari yang diciptakan itu secara sempurna. Dengan keMaha Murahan dan limpah kasih-Nya manusia ditunjukkan pada hal-hal yang akan membawa mereka pada kemuliaan dan diperingatkan akan hal-hal yang dapat mejerumuskan manusia pada kesengsaraan. Allahlah yang mengetahui kelebihan dan kekurangan dari manusia secara sempurna. Islam memerintahkan manusia agar menjauhi tempat-tempat maksiat. Sangat indah perumpamaan tersebut, pernyataan yang memiliki nilai yang tinggi. Ungkapan dengan tujuan dan penuh dengan ajaran. Pernyataan tersebut tidak secara langsung menyuruh manusia menjauhi maksiat tapi lebih dari itu adalah agar menjauhi tempat-tempat maksiat, sebuah nilai diatas sebuah nilai dengan suatu penekanan yang jelas.
ada sebuah konsep yang menyatakan bahwa “mencegah itu lebih baik dari mengobati.” Perbuatan maksiat adalah suatu penyakit ruhani. bagi seorang bapak mencegah anak menjadi seseorang ahli maksiat akan lebih mudah dari merubah mereka menjadi lebh baik kembali setelah mereka terjerumus menjadi ahli maksiat. Upaya apakah yang bisa dilakukan untuk mejaga anak dari menjadi pelaku maksiat? Semua perbuatan anak adalah sebuah disain yang telah diukir dan dipahat pada mereka. Kepribadian para orang tua disini di awali dari seorang suami yang merupakan pimpinan keluarga, seorang suami menjadi tonggak awal pembenahan akhlak mulia dari keluarga, kebijakan yang dia ambil tidak jarang akan memberi pengaruh cara berpikir dari istri yang telah mempercayakan diri kepadanya, kepedulian para orang tua untuk mengajak anak mencari teladan yang sebenarnya akan sangat membantu, anak-anak butuh seorang publik figur sebagai idola yang menjadikan mereka bersemangat melakukan sesuatu. Sudah semestinya para orang tua memperkenalkan anak pada para pemilik pribadi mulia.Adalah kebahagiaan tak tertandingi ketika anak-anak menjadi para pencontoh manusia-manusia mulia, sosok suci dari segala cela. Anak-anak itu akan menjadi pencinta ilmu. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin mendekati sumber-sumber pengetahuan. Mereka akan dekat dengan para kekasih Allah. Mereka akan mencintai Allah Dzat pemilik ilmu dan mereka akan menjadi orang yang dicintai oleh Allah.

Bab 3 “Menjadi Pemimpin”
Seorang pemimpin adalah orang yang paling khidmat pada orang-orang yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarga, dia harus berhidmat kepada istri juga anak-anaknya (memberikan yang terbaik). Rasul saww adalah orang yang memiliki kekayaan, dalam kehidupan beliau berhidmat kepada rakyat yang dipimpinnya, beliau tidak pernah terlena untuk menggunakan kekayaan itu untuk memanjakan diri. Beliau hidup penuh kesederhanaan. Rasul saww sangat memperhatikan rakyat-rakyat kecil. Sehingga orang-orang miskin tidak pernah sungkan makan bersama dengan pribadi besar ini. Mereka sangat dimanusiakan oleh Rasul saww. Karena merasa sebagai pencari nafkah beberapa orang suami bertindak sebagai diktator dalam keluarga. Dalam kehidupan rumah tangga dia suka memerintah dan meminta istrinya untuk menyiapkan kebutuhan pribadinya, sudah seberapa besarkah peran suami-suami yang sewenang-wenang itu untuk keluarga. Bukankah mencari nafkah memang sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan sebagai seorang suami. Mengapakah hal itu dijadikan alasan bahwa dia menjadi layak untuk dilayani. Jihad seorang istri adalah dengan berkhidmat pada suami mereka. Suami yang seperti apakah yang yang dimasud disini. Hanyalah suami berkepribadian mulia yang layak mendapat perlakuan semacam itu. Suami yang juga mau mengerti dan mau memahami keluarga baik istri maupun anak-anaknya. Ditangan suami dan istri yang bijaklah rumah tangga akan menjadi surga. Bersama berjuang saling menghargai, saling mengerti insyaAllah keluarga akan menjadi sakinah penuh dengan ketentraman. Dalam perjalanannya sebuah bahtera rumah tangga akan menemui permasalahan-permasalahan disebabkan perbedaan yang muncul. Pemimpin harus mampu mencari solusi, mampu memunculkan semangat mencari jawaban pemecahan, bukan menjadi penyebab dari adanya permasalahan. Pemimpin adalah penengah, ketika anak antara anggota keluarga sedang ada masalah jangan sampai ikut pada salah satu pihak tapi berusaha mencarikan solusi bagi keduannya. Dia harus punya kesiapan mental dan realistis menerima kenyataan. Salah satu penyebab munculnya permasalahan dalam keluarga adalah sikap yang suka membandingkan. Seorang suami yang suka membandingkan istrinya dengan wanita lain didepan istrinya secara langsung maka disaat yang sama dia sedang memecah pikiran dan mengahancurkan kejiwaan istrinya itu. Rasul saww. Bekata “ Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik pada istrinya“. Bukankah ketika sang istri mau mengimbangi dengan sikap yang sama akan tercipta suatu pokok dasar yang kokoh sebagai pendukung tiang-tiang rumah tangga mereka? Kecacatan yang dimilliki istri atau anak kadang menjadi pemicu unutuk membandingkan mereka dengan yang lain. Seorang suami yang suka membandingkan anak mereka dengan anak lain yang lebih memiiki kesempurnaan adalah seorang bapak yang hendak membelenggu anak-anak mereka dengan keputusasaan, kemurungan, dan kerendahdirian. Membandingkan anak dengan anak lain yang kurang sempurna juga akan berakibat buruk. Sikap semacam itu akan mendidik anak menjadi seorang angkuh, sombong dan egois. Sikap membanding-bandingkan ini akan membentuk noktah-noktah cacat ruhani bagi anak atau istri yang diperbandingkan.

Bab 4 “Contoh Seorang Pemimpin”
Posisi sebagai seorang bapak sering menjadi tempat mengambil pelajaran anak dalam belajar menjadi seorang pemimpin, menjadi seorang pelindung, dan penjagaan terhadap komitment. Kepemimpianan seorang bapak didalam rumah tangga menjadi salah satu tolok ukur kepemimpinan dan sebagai pertimbangan bagi seorang anak disaat dia dituntut menjadi seorang pemimpin dalam kehidupannya.

Bab 5.“ Penghormatan Pada Sang Istri”
Keharmonisan yang terbentuk dalam keluarga akan sangat mendukung upaya pendidikan untuk anak. Penjagaan hubungan kepada istri adalah piranti penyokong terbesarnya.

Seorang wanita ketika telah menerima pinangan seorang pria maka kesempatan untuk mendapat perhatian berupa kasih sayang serta kemudahan yang lain dari keluarga sudah tidak sama sebagaimana ketika dia belum menerima pinangan. Ia ingin dihargai, dihormati. Para istri akan sangat berharap pada suaminya agar lebih menghormatinya lebih dari yang diberikan orang lain kepadanya. Penghormatan kepada istri tidak akan menjadikan suami lebih rendah bahkan hal itu akan menjadi bukti kecintaan dan kasih sayangnya pada sang istri. Ia akan sangat bahagia ketika suami yang ia cintai memanggilnya dengan nama yang ia sukai. Dengan memuliakan istri secara tidak langsung suami akan terjaga oleh istrinya, sang istri akan sangat menjaga rahasia sang suami maupun apa-apa yang dimiliki suaminya. Ketika dalam pertemuan dengan teman-temanya beberapa suami ada yang menggunakan istrinya sebagai bahan guyonan, pada saat diperlakukan seperti itu mungkin istri diam tapi bukan berarti dia suka diperlakukan seperti itu. Tidak ada satu istri pun berkenan diperlakukan semacam itu.

Jika suami menghormati istrinya, sang istri juga akan memberikan perilaku yang sama. Rasulallah saww. Menyatakan: ”Makin setia seseorang pada pada pasangannya, semakin banyak kebaikan hati yang diungkapkannya”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar