Kamis, 18 September 2008

antara Barrack Obama & Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien (1850-1908)

Perempuan Aceh Berhati Baja


Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.

Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh, tahun 1850, ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Wanita yang dua kali menikah ini, juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-pejuang kemerdekaan bahkan juga Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Jiwa pejuang memang sudah diwarisi Cut Nyak Dien dari ayahnya yang seorang pejuang kemerdekaan yang tidak kenal kompromi dengan penjajahan. Dia yang dibesarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dan Belanda semakin mempertebal jiwa patriotnya.

Ketika Lampadang, tanah kelahirannya, diduduki Belanda pada bulan Desember 1875, Cut Nyak Dien terpaksa mengungsi dan berpisah dengan ayah serta suaminya yang masih melanjutkan perjuangan. Perpisahan dengan sang suami, Teuku Ibrahim Lamnga, yang dianggap sementara itu ternyata menjadi perpisahan untuk selamanya. Cut Nyak Dien yang menikah ketika masih berusia muda, begitu cepat sudah ditinggal mati sang suami yang gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Gle Tarum bulan Juni 1878.

Begitu menyakitkan perasaaan Cut Nyak Dien akan kematian suaminya yang semuanya bersumber dari kerakusan dan kekejaman kolonial Belanda. Hati ibu muda yang masih berusia 28 tahun itu bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya sekaligus bersumpah hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu usahanya menuntut balas tersebut. Hari-hari sepeninggal suaminya, dengan dibantu para pasukannya, dia terus melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Dua tahun setelah kematian suami pertamanya atau tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar, kemenakan ayahnya. Sumpahnya yang hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu menuntut balas kematian suami pertamanya benar-benar ditepati. Teuku Umar adalah seorang pejuang kemerdekaan yang terkenal banyak mendatangkan kerugian bagi pihak Belanda. Teuku Umar telah dinobatkan oleh negara sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Sekilas mengenai Teuku Umar. Teuku Umar terkenal sebagai seorang pejuang yang banyak taktik. Pada tahun 1893, pernah berpura-pura melakukan kerja sama dengan Belanda hanya untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang. Setelah tiga tahun berpura-pura bekerja sama, Teuku Umar malah berbalik memerangi Belanda. Tapi dalam satu pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Pebruari 1899, Teuku Umar gugur.

Cut Nyak Dien kembali sendiri lagi. Tapi walaupun tanpa dukungan dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut, dia terus melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman Meulaboh. Dia seorang pejuang yang pantang menyerah atau tunduk pada penjajah. Tidak mengenal kata kompromi bahkan walau dengan istilah berdamai sekalipun.

Perlawanannya yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh, sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya tapi sekalipun tidak pernah berhasil.

Tapi seiring dengan bertambahnya usia, Cut Nyak Dien pun semakin tua. Penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit orang tua seperti encok pun mulai menyerang. Di samping itu jumlah pasukannya pun semakin berkurang, ditambah lagi situasi yang semakin sulit memperoleh makanan.

Melihat keadaan yang demikian, anak buah Cut Nyak Dien merasa kasihan kepadanya walaupun sebenarnya semangatnya masih tetap menggelora. Atas dasar kasihan itu, seorang panglima perang dan kepercayaannya yang bernama Pang Laot, tanpa sepengetahuannya berinisiatif menghubungi pihak Belanda, dengan maksud agar Cut Nyak Dien bisa menjalani hari tua dengan sedikit tenteram walaupun dalam pengawasan Belanda. Dan pasukan Belanda pun menangkapnya.

Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien sehingga ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap pun dia masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya. Dia lalu ditawan dan dibawa ke Banda Aceh.

Tapi walaupun di dalam tawanan, dia masih terus melakukan kontak atau hubungan dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga dia pun akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pembuangan itulah akhirnya dia meninggal dunia pada tanggal 6 Nopember 1908, dan dimakamkan di sana.

Perjuangan dan pengorbanan yang tidak mengenal lelah didorong karena kecintaan pada bangsanya menjadi contoh dan teladan bagi generasi berikutnya. Atas perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar kepada negara, Cut Nyak Dien dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Penobatan tersebut dikuatkan dengan SK Presiden RI No.106 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964. ► juka-atur

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Barack Hussein Obama II (pronounced /bəˈrɑːk hʊˈseɪn oʊˈbɑːmə/; born August 4, 1961) is the President-elect of the United States and the first African American to be elected President of the United States. Obama was the junior United States Senator from Illinois from 2005 until he resigned on November 16, 2008, following his election to the Presidency. His term of office as the 44th U.S. president begins January 20, 2009.

He is a graduate of Columbia University and Harvard Law School, where he was president of the Harvard Law Review. Obama worked as a community organizer and practiced as a civil rights attorney before serving three terms in the Illinois Senate from 1997 to 2004. He also taught constitutional law at the University of Chicago Law School from 1992 to 2004. Following an unsuccessful bid for a seat in the U.S. House of Representatives in 2000, he announced his campaign for the U.S. Senate in January 2003, won a primary victory in March 2004, and was elected to the Senate in November 2004. Obama delivered the keynote address at the Democratic National Convention in July 2004.

As a member of the Democratic minority in the 109th Congress, he helped create legislation to control conventional weapons and to promote greater public accountability in the use of federal funds. He also made official trips to Eastern Europe, the Middle East, and Africa. During the 110th Congress, he helped create legislation regarding lobbying and electoral fraud, climate change, nuclear terrorism, and care for U.S. military personnel returning from combat assignments in Iraq and Afghanistan.

Contents



Siapa ngga kenal Cut Nyak Dien? Kalo sampe ada yang ngacung, perlu saya pertanyakan dulu lulus eSDe-nya nyogok apa ngga. Ya betul… siapa yang ngga kenal Cut Nyak Dien, yang merupakan salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.

Sejarah mengenai perjuangan beliau banyak tercatat. Di buku-buku sejarah, di blog-blog banyak orang, di berbagai web.. tinggal masukan kata kunci, dan viola… catatan mengenai beliau bisa sampeyan baca di sana. Mulai dari sejak beliau lahir, bagaimana kehidupan beliau, bagaimana perjuangan beliau, sampai akhirnya beliau wafat. Banyak catatan yang begitu indah.

dan membaca catatan-catatan tersebut, saya makin mengagumi sosok beliau. Seperti yang ditulis Zen disini;

“Seperti Srikandi, di jelujur riwayat Tjut Njak Dien, kita saksikan bagaimana feminitas dan maskulinitas seperti melebur. Kesetiaan feminin dan kekerashatian maskulin berpadu-padan dengan sedemikian rupa sehingga Tjut Njak Dien hadir dalam ruang imajinasi bangsa Indonesia dengan begitu impresifnya. Sejarah kita mencatat banyak sosok perempuan hebat. Tetapi dalam hal tersebut, keunikan Tjut Njak Dien bisa dibilang tak ada padanannya dalam sejarah perlawanan rakyat Nusantara terhadap penjajahan Belanda.”

Hari ini adalah 100 tahun wafatnya beliau. Saya tidak tahu apakah banyak diantara sampeyan yang mengenangnya atau tidak. Tapi saya salah satunya yang ikut mengenang. Mengenang betapa teguhnya pendirian Cut Nyak Dien sehingga ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap pun dia masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Seperti yang saya saksikan dalam film buatan Om Eros Djarot beberapa tahun yang lalu itu.

Saya bukan orang Aceh, baru satu kali seumur hidup saya berkunjung ke sana, pun belum pernah mengunjungi makan beliau di Sumedang sana. Tapi cerita mengenai beliau begitu lekat di benak saya, sejak saya mengenal sosok beliau waktu eSDe sampai sekarang.

lalu apa hubungannya dengan Barrack Obama?

Ngga tau. Saya bikin judul seperti itu karena sebagian warga Indonesia saat ini masih euforia dalam kemenangan Barrack Obama dalam pemilu As yang baru lewat itu. Euforia yang *maaf* tidak pernah saya saksikan dalam pemilu-pemilu yang terjadi disini. Mau itu pemilu pemilihan ketua erte sampe pemilu pemilihan presiden. Yang saya saksikan disini hanya lah gontok-gontokan, tawuran antar para pendukung, tidak mengakui kekalahan, dan merasa dicurangi sehingga mengajukan diri lagi dalam pemilu berikutnya. *sigh* Yah mudah-mudahan yang pada bergembira karena kemenangan Obama itu tidak lupa akan keberadaan Cut Nyak Dien disini.

Bukan, saya ngga sinis dengan euforia orang-orang itu. Saya justru mendapat pencerahan dari pemilu AS itu. Lihat saja, semua berlangsung cepat. Ngga pake tawuran, ngga pake nunggu sidang pleno KPU. Karena McCain secara legowo sudah mengakui kekalahannya, dan saya berharap ada pemimpin di sini yang mempunyai sikap begitu juga dalam setiap pemilu. Terpilihnya Obama sebagai orang kulit hitam pertama yang menduduki jabatan nomor satu di AS yang terkenal rasis itu, tidak saja membuat semua anak di seluruh permukaan bumi ini sekarang punya setiap alasan untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi apapun yang mereka inginkan bahkan menjadi Presiden, tapi juga membuat saya percaya bahwa perubahan untuk menjadi lebih baik itu ada dan bukan hanya sekedar wacana atau cita-cita.

Ya.. seperti perjuangan Cut Nyak Dien untuk Aceh.

dan perjuangan para pahlawan lainnya untuk Indonesia. semoga perubahan ke arah yang lebih baik itu memang bukan sekedar wacana dan cita-cita.

Sumber:
1. http://simplychi.wordpress.com/2008/11/06/antara-barrack-obama-cut-nyak-dien/#more-368

2.http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/c/cut-nyak-dien/index.shtml

3. Wikipedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar