Kamis, 28 Agustus 2008

Arti Sebuah Mainan

Sesekali, jika kita perhatikan anak-anak, kita akan dapati mereka lebih asyik memainkan sepotong kayu, tali plastik, dan sebuah gelas air mineral bekas daripada mainan mahal yang kita belikan. Berjam-jam mereka bisa berinteraksi dengan mainan sederhana semacam itu tanpa bosan.

Setelah sebelumnya sempat menjadi "maniak" membelikan mainan edukatif, yang sebagiannya bahkan cukup mahal untuk ukuran kami, kini saya melihat kebutuhan akan mainan dari sudut pandang yang berbeda. Sebagai sebuah alat untuk mengeksplorasi kecerdasan anak, mainan edukatif sesungguhnya bertebaran di rumah kita: Tanpa harus kita beli secara khusus. Kenapa bisa begitu? Ya, tentu saja bisa, karena alat-alat bermain itu adalah juga perabotan dan benda-benda yang biasa kita pakai sehari-hari.

Karena saya memutuskan untuk berhenti dulu membeli mainan, tampaknya hal itu membuat anak-anak'terpaksa' jadi kreatif. Beberapa minggu terakhir ini mereka sering menyulap barang-barang yang ada di rumah menjadi mainan yang seru. Buku-buku hardcover berubah jadi laptop (menurut mereka), kardus bekas jadi rumah-rumahan, dan apapun benda yang ada di ruang tengah jadi apapun yang membuat mereka merasa punya mainan baru setiap hari.

Setelah saya pikir-pikir, memang ada hikmahnya juga tak lagi meanggarkan jatah biaya 'belajar' kami pada mainan, karena sebenarnya mainan buat mereka hanyalah salah satu alat belajar yang mereka sendiri tak pernah mendefinisikannya secara khusus.

Sebagai variasi, tentunya kita bisa ikut andil membantu mereka menyediakan bahan-bahan murah yang bisa memicu ide-ide kreatif mereka makin banyak lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar