Jumat, 01 Agustus 2008

Zaman Sekarang Apa Masih Ada Manusia Sempurna.......?

Apakah sekarang masih ada manusia sempurna?
Untuk menjawab pertanyaan ini secara sederhana dapat kita bahas terkait sudah selesai apa belum tugas nabi Muhammad saw dalam menyampaikan ajaran islam secara menyeluruh di semua lapisan masyarakat dipenjuru dunia serta terkait ada tidaknya penerus nabi Muhammad saw, tentu penerus ini bukan sebagai seorang nabi tapi sekedar meneruskan perjuangan nabi muhammad untuk menyampaikan ajaran islam kepada seluruh ummat manusia.

Dalam sejarah bisa kita ketahui bahwa pada saat nabi wafat keadaan zaman masih sangat memprihatinkan. Sarana transportasi dan informasi sangat terbatas. Untuk melakukan perjalanan hanya ada onta, kuda, keledai, gajah dan berbagai hewan tunggangan yang lain. Secanggih-canggihnya alat informasi hanya berupa surat itupun disampaikan dengan berjalankaki. Semua kenyataan ini memberitahu kita bahwa ajaran islam pada waktu itu masih belum tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Padahal islam itu tidak hanya untuk bangsa arab saja. Kenyataan ini mengharuskan adanya seorang penerus bagi penyampaian ajaran islam sepeninggal Nabi saw. Disamping itu ajaran islam yang terangkum didalam alquran perlu dijaga dari berbagai penyimpangan sehingga sampai kepada masyarakat dengan utuh tanpa cacat. Alquran sendiri terdapat dua jenis ayat yaitu ayat yang jelas dan ayat yang tidak jelas. Masyarakat tidak akan mampu memahami dan memanfaatkan ayat yang tidak jelas sebagai lampu penunjuk jalan mereka menuju kesempurnaan tanpa adanya seorang pembimbing. Pemimpin islam itulah yang menjadi penjabar ilmu yang tersimpan dalam quran. Dan pemimpin islam ini juga manifestasi ungkapan qurani bahwa Allah Yang menurunkan quran dan Dia juga yang akan menjaganya. Jadi pemimpin ini menjadi orang yang bertugas untuk menjadi penyampai ajaran islam bagi seluruh manusia dan sebagai rujukan dalam masalah ilmu quran meneruskan apa yang sudah Nabi lakukan. Merekalah orang yang benar-benar mengahami seluk beluk tafsir alquran. Dan mereka juga harus dijamin dan dipilih oleh Zat yang telah menurunkan alquran. Kita bisa mengetahui siapa yang menjadi penerus Nabi dengan melihat jaminan yang disampaikan Allah swt serta dari ucapan Nabi Muhammad saw. Jaminan ini kami uraikan di akhir pembahasan sarat dari seorang pemimpin.

Tidak ada sedikitpun keraguan bahwa nabi Muhammad saw adalah salah satu contoh dari sosok manusia sempurna. Namun ketika ingin mengetahui siapa yang mampu mencapai derajat kepemimpinan tersebut di zaman ini tentu kita perlu menapaki beberapa uraian.
konsep ini telah dibahas oleh para pakar filsafat dengan panjang lebar sepanjang sejarah. Mulla shadra, Mawlawi Rumi, dan beberapa filusuf yang lain telah menguraikan pandangan mereka terkait manusia sempurna dalam buku-buku mereka.
Terkait ada tidaknya penerus kepemimpinan Nabi Muhammad saw di zaman ini pertama kita bahas sarat-sarat orang yang pantas untuk memimpin manusia. Sebagaimana kita ketahui bersama, Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin ummat manusia tentu beliau telah memiliki berbagai persaratan sebagai seorang pemimpin. Diantara sarat-sarat seorang pemimpin pertama, Seorang pemimpin harus memiliki ilmu yang luas, ketika ilmu pemimpin ini tidak luas dia tidak akan mampu memimpin secara sempurna ilmu yang luas disini mencakup seluruh keilmuan baik ilmu duniawi maupun ilmu ghaib(tentang akhirat dan semacamnya). Dengan ilmu ini dia bisa mengatur pemerintahan dengan sempurna, memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat, menjadi sumber rujukan dalam berbagai disiplin keilmuan, menjadi obor bagi perjalanan ruhani ummat manusia, tidak tertipu oleh berbagai tipu daya, serta berbagai hal yang membutuhkan kecakapan keilmuan.

Kedua, harus pemberani. Ketika pemimpin tidak berani dia tidak akan mampu memimpin secara adil. Untuk menegakkan keadilan di masyarakat penegak hukum harus memiliki sifat berani. Ketika keberanian pemimpin ini masih terbatasi oleh satu dua dari anggota masyarakat maka minimal dia tidak bisa berlaku adil dan tegas terhadap beberapa gelintir orang tersebut dimana secara otomatis dia juga telah zalim terhadap masyarakat yang lemah, yaitu masyarakat yang telah dizalimi oleh orang yang ditakuti pemimpin tadi. Jadi jelas seorang pemimpin harus memiliki sifat berani sehingga penegakkan keadilan di masyarakat tidak terbatasi. Ketiga, pemimpin harus zuhud. Ketika seorang pemimpin tidak zuhud (tidak cinta dunia) maka dia tidak akan bisa mengadili dengan baik, tidak akan bisa memimpin dengan adil. Hal ini bisa diumpamakan dengan seorang hakim yang mau menerima sogokan. Mungkinkah seorang hakim yang masih mau menerima sogokan bisa berlaku dengan adil? Dalam sejarah dapat kita lihat banyak sekali pemimpin negara besar yang tumbang karena mereka rakus dengan harta, wanita, kekuasaan atau berbagai keduniawian yang lain. Jadi seorang pemimpin harus zuhud karena pemimpin dalam islam dia secara otomatis juga menjadi seorang hakim bagi masyarakat. Keempat, pemimpin harus mampu menguasai hawa nafsunya. Seorang pemimpin yang tidak bisa menguasai hawa nafsunya dia tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Ketika tidak bisa memimpin dirinya sendiri bagaimana bisa dia memimpin orang lain? Mengikuti hawa nafsu merupakan bibit untuk tidak zuhud terhadap dunia.


Kelima harus ikhlas, seorang pemimpin harus ikhlas dalam segala perbuatannya. Jadi semua hal yang dilakukan hanya dengan dasar keridhaan Allah swt. Jadi dia memimpin karena Allah untuk Allah dan dengan caranya Allah swt. Keenam, memiliki akhlak yang menarik. '. . .sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu" Qs (3 : 159). Secara fitrah manusia mencintai akhlak yang baik dan mulia. Mereka memiliki ketertarikan khusus kepada para pemilik akhlak mulia. Dan Nabi sendiri di puji oleh Allah swt juga karena akhlak mulia beliau " innaka la'ala khuluqin adzim" sesungguhnya padamu terdapat akhlak yang agung. Dan beliau juga menyatakan bahwa beliau diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak "inni liutammima makarimal akhlaq". Jadi seorang pemimpin islam harus memiliki akhlak yang mulia dan menarik. Sebenarnya masih ada sifat lain yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin islam namun kami cukupkan dengan beberapa sifat diatas untuk mempersingkat pembahasan.Secara sepakat kita mengatakan bahwa semua sifat itu sudah dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. Sekarang untuk orang yang bertugas meneruskan misi beliau apakah bisa melakukan tugas dengan sempurna ketika tidak memiliki sifat diatas.

Penerus nabi juga bertugas sebagaimana apa yang harus nabi lakukan oleh karena itu mereka harus memiliki sifat-sifat sebagai seorang pemimpin islam. Jadi mereka juga harus memiliki sifat kepemimpinan diatas serta berbagai sifat kepemimpinan yang lain.siapakah mereka ini? Mari kita tilik bersama. Dalam surah alfatihah kita temukan bahwa kita disuruh minta petunjuk untuk sampai ke jalan yang lurus dan penjelasan jalan lurus disini juga dijelaskan sebagai jalan mereka yang mendapatkan nikmat. nikmat apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Ketika dianggap sebagai nikmat berupa hidup, sehat, apalagi nikmat makanan bukankah hewan juga mendapatkan nikmat itu. Jadi nikmat yang dimaksud disini tentu yang lain. Nikmat yang dijadikan standar bahwa orang yang mendapat nikmat itu pasti berada di jalan shirathal mustaqim. Nikmat yang dimaksud adalah nikmat mendapat ilmu alquran, ilmu yang dengannya bisa membimbing orang lain ke jalan yang lurus. Bukankah Allah juga mengatakan" Kemudian kami wariskan ilmu kitab kepada hamba kami yang terpilih" surah al fathir : 32. Dalam ayat lain juga mengatakan "Tanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak tahu "surah an nahl : 43. Hal ini juga sesuai dengan surah waqiah : 75-79 bahwa alquran yang mulia tidak dapat di sentuh (dipahami, dikenali makna menyentuh disini sesuai atau sama dengan al a'raf: 201 dan albaqarah:275) kecuali oleh mereka yang telah disucikan. Siapa yang telah disucikan itu bisa di simak pada surah al ahzab : 33. Mereka itulah ahlul bait nabi alaihimu salam. Dalam hadis juga bisa di lihat shahih turmuzi juz 2 hal 329 dan shahih muslim juz 2 bab fadhail ali bin Abi thalib. Jadi manusia sempurna itu sampai sekarang masih ada yaitu pemimpin islam yang bertugas menjaga keilmuan islam yang suci seorang pemimpin dari ahlul bait Nabi saw.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar