Sabtu, 27 November 2010

LANDASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

UJIAN TENGAH SEMESTER

PROGRAM MEGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FKIP UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2010



MATA KULIAH : LANDASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN

SEMESTER : 1 (SATU)

DOSEN PENGAMPU : PROF.DR. JOHANES SAPRI, M.Pd

: DR. SUHIRMAN, M.Pd

SOAL :

1. Teknologi Pendidikan (TP) dilandasi oleh falsafah dan teori. Coba anada jelaskan bila anda memandang TP dari sudut ontologi (apa), Epistemologi (bagaimana), dan aksiologi (untuk apa)

2. Anda juga telah mengetahui ada 4 revolusi dalam dunia pendidikan. Menurut persepsi dan predeksi anda apakah dimungkinkan muncul revolusi ke 5 dengan kehadiran TP dalam memecahkan masalah yang menyelimuti pengembangan dan pembangunan pendidikan di Indonesia

3. Ada beberapa kawasan TP dan keberuntungannya antara masing-masing kawasan. Coba anada pilih salah satu kawasan, bagaimanakah penerapannya dalam membelajarkan peserta didik. (pilih pada jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, PT)

4. Dalam Teknologi Pendidikan / teknologi pembelajaran menurut saettler yang mengacu pada pendapat Thorndike, ada beberapa prinsip pembelajaran (1) aktifitas diri, (2) minat/motivasi, (3) Kesiapan mental, (4) Individualisasi, (5) Sosialisasi. Bagaimana pandangan anda tentang penerapannya dengan menghadirkan produk teknologi dalam pembelajaran bagi peserta didik.

5. Suatu statement diungkapkan bahwa”makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan”. Hal ini merupakan konsep dasar pembelajaran berbasis teknologi pendidikan. Bagaimana pendapat anda?

JAWABAN :

1.

1

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Pandangan Teknologi Perndidikan dari sudut :

Ø Ontologi (apa), merupakan asas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakekat realitas dari objek tsb.

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).

Secara istilah ontologi adalah ilmu yang memperlajari tenatng hakikat yang ada (ultimate reality) baik jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Didalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan seperti monoisme yang menyatakan bahwa hakikat yang asal itu hanya satu. Cabang dari monoisme ini adalah materialisme yang berpandangan bahwa hakikat yang asal adalah satu yaitu dari materi, sementara cabang lainnya yaitu idealisme yang berpandangan bahwa segala yang asal itu berasal dari ruh. Pandangan lainnya adalah dualisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari dua unsur yaitu materi dan ruh, jasmani dan rohani.

Pandangan lainnya adalah pluralisme yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas yaitu unsur tanah, air, api dan udara. Ada juga faham nihilisme yang nampaknya frustrasi menghadapi relaistas. Realistas harus dinyatakan tunggal dan banyak, terbatas dan takterbatas, dicipta dan takdicipta, semuanya serna kontradiksi, sehingga lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realistas. Pandangan terakhir yang dikemukan oleh penulis adalah agnostisisme yang merupakan pemahaman yang menolak realitas mutlak yang bersifat trancendental.

2

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:

1. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?

2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme. Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah:

a. yang-ada (being)

b. kenyataan/realitas (reality)

c. eksistensi (existence)

d. esensi (essence)

e. substansi (substance)

f. perubahan (change)

g. tunggal (one)

h. jamak (many)

Dari perspektif ontologi diatas maka muncul masalah baru dalam Teknologi Pembelajaran (Yusuf hadi Miarso : 2004) yaitu:

a. Adanya berbagai macam sumber untuk belajar termasuk orang (penulis buku, prodoser media dan sebagainya) pesan (yang tertulis dalam buku atau tersaji lewat media), media (buku, program televise, radio, dan sebagainya), alat (jaringan televise, radio), cara-cara tertentu dalam mengolah/menyajikan pesan, serta lingkungan dimana proses pendidikan itu berlangsung.

b. Perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik seccara konseptual maupun secara faktual.

c.

3

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Perlu dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber untuk belajar itu agar dapat digunakan seoptimal mungkin guna keperluan belajar.

Ketiga poin diatas itulah yang merupakan ruang lingkup ujud obyek penelaahan (ontology) Teknologi Pembelajaran. Suatu obyek yang bukan merupakan lingkup bidang pengetahuan lain.

Ø Epistemologi (bagaimana), merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan.

Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.

Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

4

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan dengan buah pemikiran yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode keilmuan. Karena ilmu merupakan sebahagian dari pengetahuan, yakni pengetahuan yang memiliki sifat-sifat tertentu, maka ilmu dapat juga disebut pengetahuan keilmuan. Untuk tujuan inilah, agar tidak terjadi kekacauan antara pengertian “ilmu” (science) dan “pengetahuan” (knowledge), maka kita mempergunakan istilah “ilmu” untuk “ilmu pengetahuan.” (Jujun Suriasumantri. “Tentang Hakekat Ilmu: Sebuah Pengantar Redaksi.” Dalam Jujun (ed.,) Ilmu Dalam Perspektif. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta, 2001; hal.9)

Sebelum penerjemahan kata science, dalam bahasa Indonesia tersedia dua pilihan kata, yakni pengetahuan dan ilmu. Yang berlaku umum, pilihan jatuh pada kata ilmu. Penerjemahan science menjadi ilmu dalam bahasa Indonesia berimplikasi pada perubahan makna ilmu menjadi science, bukan sebaliknya. Akibatnya, hal-hal yang sebelumnya disebut ilmu menjadi bukan ilmu atau belum menjadi ilmu dalam artian science. Kemudian scientific knowledge diterjemahkan menjadi ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah.

Science sendiri dipakai untuk dalam dua pengertian. Pertama, science yang triadic terdiri dari ontology, epistemology dan aksiologi, yakni cabang science, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi disiplin ilmu seperti fisika, kimia, biologi. Kedua, dalam artian yang metodis, yakni science atau scientific knowledge yang secara tradisional menggunakan metode induksi. Demarkasi antara science dan non-science secara tradisional biasanya pada metode induksi ini.

Diatas telah dipaparkan bahwa Teknologi Pembelajaran sebagai ilmu pengetahuan. Dari sini muncul pertanyaan bagaimana mendapatkan pengetahuan Teknologi Pembelajaran? Menurut Abdul Gafur (2007) adalah dengan cara:

a. Telaah secara simultan keseluruhan masalah-masalah belajar

b. Pengintegrasian secara sistemik kegiatan pengembangan, produksi, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi.

c. Mengupayakan sinergisme atau interaksi terhadap seluruh proses pengembangan dan pemanfaatan sumber belajar

Ø Aksiologi (untuk apa), merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yg telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tsb.











UTS Filsafat : File@Mahuri 2010





5





Aksiologi mempunyai banyak definisi, salah satu diantaranya dikemukakan oleh Bramel bahwa aksiologi terdiri dari tiga bagian yaitu moral conduct, esthetic expression dan sosio-political life. Aksiologi harus membatasi kenetralan tanpa batas terhadap ilmu pengetahuan, dalam arti bahwa kenetralan ilmu pngetahuan hanya sebatas metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan pada nilai-nilai moral .

6

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Dewasa ini, istilah axios (nilai) dan logos (teori) lebih akrab dipakai dalam dialog filosofis. Jadi, aksiologi bisa disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis. Ia bertanya seperti apa itu baik (what is good?). Tatkala yang baik teridentifikasi, maka memungkinkan seseorang untuk berbicara tentang moralitas, yakni memakai kata-kata atau konsep-konsep semacam “seharusnya” atau “sepatutnya” (ought / should). Demikianlah aksiologi terdiri dari analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai.Terdapat dua kategori dasar aksiologis; (1) objectivism dan (2) subjectivism. Keduanya beranjak dari pertanyaan yang sama: apakah nilai itu bersifat bergantung atau tidak bergantung pada manusia (dependent upon or independent of mankind)? Dari sini muncul empat pendekatan etika, dua yang pertama beraliran obyektivis, sedangkan dua berikutnya beraliran subyektivis. Pertama, teori nilai intuitif (the initiative theory of value). Teori ini berpandangan bahwa sukar jika tidak bisa dikatakan mustahil untuk mendefinisikan suatu perangkat nilai yang bersifat ultim atau absolut. Bagaimanapun juga suatu perangkat nilai yang ultim atau absolut itu eksis dalam tatanan yang bersifat obyektif. Nilai ditemukan melalui intuisi karena ada tata moral yang bersifat baku. Mereka menegaskan bahwa nilai eksis sebagai piranti obyek atau menyatu dalam hubungan antarobyek, dan validitas dari nilai obyektif ini tidak bergantung pada eksistensi atau perilaku manusia. Sekali seseorang menemukan dan mengakui nilai tersebut melalui proses intuitif, ia berkewajiban untuk mengatur perilaku individual atau sosialnya selaras dengan preskripsi-preskripsi moralnya. Kedua, teori nilai rasional (the rational theory of value). Bagi mereka janganlah percaya pada nilai yang bersifat obyektif dan murni independen dari manusia. Nilai tersebut ditemukan sebagai hasil dari penalaran manusia dan pewahyuan supranatural. Fakta bahwa seseorang melakukan sesuatu yang benar ketika ia tahu dengan nalarnya bahwa itu benar, sebagaimana fakta bahwa hanya orang jahat atau yang lalai yang melakukan sesuatu berlawanan dengan kehendak atau wahyu Tuhan. Jadi dengan nalar atau peran Tuhan, seseorang menemukan nilai ultim, obyektif, absolut yang seharusnya mengarahkan perilakunya.

Ketiga, teori nilai alamiah (the naturalistik theory of value). Nilai menurutnya diciptakan manusia bersama dengan kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat yang dialaminya. Nilai adalah produk biososial, artefak manusia, yang diciptakan, dipakai, diuji oleh individu dan masyarakat untuk melayani tujuan membimbing perilaku manusia. Pendekatan naturalis mencakup teori nilai instrumental dimana keputusan nilai tidak absolut atau ma’sum (infallible) tetapi bersifat relatif dan kontingen. Nilai secara umum hakikatnya bersifat subyektif, bergantung pada kondisi (kebutuhan/keinginan) manusia.

Keempat, teori nilai emotif (the emotive theory of value). Jika tiga aliran sebelumnya menentukan konsep nilai dengan status kognitifnya, maka teori ini memandang bahwa bahwa konsep moral dan etika bukanlah keputusan faktual tetapi hanya merupakan ekspresi emosi-emosi atau tingkah laku (attitude). Nilai tidak lebih dari suatu opini yang tidak bisa diverifikasi, sekalipun diakui bahwa penilaian (valuing) menjadi bagian penting dari tindakan manusia. Bagi mereka, drama kemanusiaan adalah sebuah axiological tragicomedy.

7

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Dalam hal ini Teknologi Pembelajaran secara aksiologis akan menjadikan pendidikan (Abdul Gafur:2007) sebagai berikut:

a. Produktif

b. Ilmiah

c. Individual

d. Serentak / actual

e. Merata

f. Berdaya serap tinggi

Teknologi Pembelajaran juga menekankan pada nilai bahwa kemudahan yang diberikan oleh aplikasi teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat yang dipilih dan dirancang strategi penggunaannya agar menumbuhkan sifat bagaimana memanusiakan teknologi (A.L Zachri:2004).

http://unikharynizar.multiply.com/journal/item/5

2. Menurut persepsi dan prediksi saya dimungkinkan muncul revolusi ke- 5 dengan kehadiran TP dalam memecahkan masalah yang menyelimuti pengembangan dan pembangunan pendidikan di Indonesia karena Teknologi Pembelajaran secara aksiologis akan menjadikan pendidikan produktif, ilmiah, individual, serentak atau actual, merata, dan berdaya serap tinggi (Abdul Gafur:2007). Dengan kehadiran Teknologi Pendidikan saya optimis akan timbul revolusi dalam pendidikan. Seperti yang diungkapkan Abdul Gafur pendidkan akan selalu produktif menghasilkan perkembangan dan pembangunan di bidang pendidikan. Atas dasar pendapat tersebut akan selalu terjadi perkembangan dan pembangunan revolusi di bidang pendidikan.

Ø Revolusi 1 : Terjadi pada saat orang tua atau keluarga menyerah sebagian tanggung jawab pendidikannya kepada orang lain yang secara khusus diberi tanggung jawab untuk itu.

Ø Revolusi ke 2: Terjadi pada saat guru sebagai orang yang dilimpahi tanggung jawab untuk mendidik.

Ø Revolusi ke 3 : Muncul ditemukannya mesin cetak, yang memungkinkan tersebarnya iconic dan numeric dalam bentuk buku dan media cetak lainnya.

Ø Revolusi ke 4 : Berlangsung dengan perkembangan yang pesat di bidang elektronik.











UTS Filsafat : File@Mahuri 2010



8





3. Kawasan TP dan keterhubungannya dengan pembelajaran di perguruan tinggi

Teknologi pendidikan menurut AECT tahun 2004, maka teknologi pendidikan adalah teori dan praktek dalam merancang, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan mengevaluasi proses dan sumber belajar. Oleh karena itu, kawasan bidang garapan teknologi pendidikan adalah seperti digambarkan dalam diagram berikut:

Text Box: PENGELOLAAN •	Manajemen Proyek •	Manajemen sumber •	Manajemen system penyampaian •	Manajemen informasiRounded Rectangle: KAWASAN BIDANG GARAPAN TEKNOLOGI PENDIDIKANText Box: PENGEMBANGAN •	Teknologi Cetak •	Teknologi Audiovisual •	Teknologi berbasis Komputer •	Teknologi TerpaduText Box: PEMANFAATAN •	Pemanfaatan media •	Difusi inofasi •	Implementasi dan institusionalisasi •	Kebijakan dan regulasiText Box: DESAIN •	Desain sistem pembelajaran •	Desain pesan •	Strtategi pembelajaran •	Karakteristik pembelajaran •Text Box: PENILAIAN/RISET: •	Analisis Masalah •	Pengukuran acuan patokan •	Evalusi formatif •	Evaluasi sumatifhttp://www.teknologipendidikan.net/wp-content/uploads/2008/09/kawasan-tp.jpg

Jadi, seorang sarjana teknologi pendidikan dapat menjadi profesi sebagai berikut:

1.

9

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Perancang proses dan sumber relajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi perancangan sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran dan karakteristik pebelajar;

2. Pengembang proses dan sumber belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi pengembangan teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi berbantuan komputer dan teknologi terpadu lainnya.

3. Pemanfaat/pengguna proses dan sumber belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi pemnafaatan media pembelajaran, difusi inovasi pendidikan, implementasi dan institusionalisasi model inovasi pendidikan, serta penerapan kebijakan dan regulasi pendidikan.

4. Pengelola proses dan sumber belajar; dengan lingkup pekerjaan meliputi pengelolaan proyek, pengelolaan aneka sumber belajar, pengelolaan sistem penyampaian, dan pengelolaan sistem informasi pendidikan.

5. Evaluator/peneliti proses dan sumber relajar; dengan lingkup pekerjaan meliputi melakukan analisis masalah, pengukuran acuan patokan, evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan penelitian kawasan pendidikan lanilla.

6. Prof Yusufhadi Miarso, tahun 2004 telah melakukan suatu survey dan menganalisis kompetensi teknologi pendidikan untuk jenjang S1, S2, S3 seperti digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

http://www.teknologipendidikan.net/wp-content/uploads/2008/09/kompetensi-tp.jpg

7.

10

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Sebenarnya, Prof. Yusufhadi Miarso, membagi kawasan bidang garapan teknolog pendidikan menjadi enam, dimana Ia menambahkan kawasan penelitian estela kawasan evaluasi. Diagram di atas menjelaskan perbedaan kompetensi teknolog pendidikan antara strata 1 (S1), strata 2 (S2) dengan strata 3 (S3). Tampak jelas bahwa kompetensi S1, lebih ditekankan pada kawasan pemanfaatan /penggunaan. Sementara, untuk S2 lebih menekankan pada fungsi pengelolaan, penilaian dan penelitian disamping perancangan (desain) yang setingkat dibawah S3. Untuk S3, lebih memfokuskan diri pada penilaian dan penelitian disamping perancangan. Hasil survey ini telah memberikan gambaran bagi lembaga penyelenggara pendidikan porgram studi teknologi pendidikan dalam menyusun kurikulum serta kebutuhan sumber daya laninnya untuk menunjang pendidikan jenjang S1, S2 dan S3.

4. Menurut Saettler selanjutnya kontribusi Thorndike dalam teknologi pembelajaran adalah dengan rumusannya tentang prinsip-prinsip : (1) Aktivitas diri; (2) minat/motivasi; (3) Kesiapan mental; (4) Individualisasi, dan (5) Sosialisasi. Untuk melaksanakan prinsip – prinsip tersebut seorang guru harus mengendalikan kegiatan belajar anak di dalam kelas ke arah yang dikehendaki, namun dengan tetap memperhatikan minat dan respon anak terhadap stimulasi yang diberikan. Stimulasi itu perlu disesuaikan dengan kesiapan mental anak, dan kecuali itu perbedaan individual perlu diperhatikan dengan jalan merancang dan mengatur situasi sedemikan rupa serta dengan menggunakan media, agar terjadi hubungan antara apa yang sudah diketahui anak dengan hal yang baru.

Sattler (1968) menulusuri sejarah teknologi pembelajaran, dan berpendapat bahwa Thorndike pada thn 1901 dengan teori psikologi perkembangannya merupakan landasan pertama ke arah teknologi pembelajaran. Tiga dalil utama yang dikemukan oleh Thorndike, yakni;

Ø Dalil latihan dan ulangan: makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan.

Ø Dalil akibat: menyatakan prinsip hubungan senang tidak senang. Respons akan diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang, dan akan diperlemah bila diikuti rasa tidak senang.

Ø Dalil kesiapan: karena perkembangan sistem syaraf maka unit perilaku tertentu akan lebih mudah dilakukan, dibandingkan dengan unit perilaku yang lain.

Teori Penguatan (reinforcement). Pembelajaran menurut Skinner, secara sederhana merupakan pengaturan kemungkinan penguatan.

11

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Tiga variabel yang membentuk kemungkinan penguatan;

a. Peristiwa di mana perilaku berlangsung

b. Perilaku itu sendiri

c. Akibat perilaku itu

Prinsip yang dijabarkan dari teori pengauatan ini, di antaranya adalah perilaku yang diperkuat, cenderung utk lebih bertahan;

Penguatan positif lebih berarti dari yang negatif.

Penguatan yg langsung lebih efektif dari penguatan tertunda.

Penguatan yang sering diberikan lebih efektif dari yang jarang.

Teori dan prinsip-prinsip Skinner ini antara lain diaplikasikan bentuk “mesin pengajar” (teaching machine).

Prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Skinner tsb. hingga sekarang masih banyak dipakai dalam membuat Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK = Computer Assisted Instruction (CAI).

Skinner jg berpendapat bahwa utk mengendalikan belajar manusia secara efektif diperlukan bantuan peralatan, yang akan bertindak mekanisme penguat (AECT, 1977).

Pandangan saya tentang penerapan teknologi dalam pembelajaran adalah sangat menentukan mutu pendidikan yang akan datang. Rendahnya kualitas produk pendidikan tersebut merupakan gambaran kualitas penyelenggaraan sistem pendidikan dimana terkait banyak unsur, namun proses belajar mengajar merupakan jantungnya pendidikanyang harus diperhitungkan karena pada kegiatan pembelajaran inilah transportasi berbagai konsep, nilai serta materi pendidikan diintegrasikan.

12

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Untutan masa depan yang bukan hanya bersifat kompetitip tapi juga sangat terkait dengan berbagai kemajuan teknologi dan informasi maka kualitas sistem pembelajaran yang dikembangkan harus mampu secara cepat pemperbaiki berbagai kelemahan yang ada. Salah satu cara yang dapat dikembangkan adalah mengubah sistem pembelajaran konvensional dengan sistem pembelajaran yang lebih efektif dn efisien dengan dengan memanfaatkan sarana teknologi informasi salah satunya internet. Walaupun sistem pendidikan di Indonesia sangat hitrogen karena faktor giografis yang besar pengaruhnya terhadap kemajuan teknologi informasi.

Electronic Learning (E-Learning) pada hakekatnya adalah belajar atau pembelajaran yang memanfaatkan teknologi komputer atau internet. Teknologi ini merupakan pembelajaran berbasis web (web based Instruction)

5. Pendapat saya tentang statement diungkapkan bahwa “Makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu, makin besar kemungkinan dicamkan”.adalah sangat setuju hal ini terjadi dengan terpatrinya kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Semakin sering respon diulang dan dilakukan akan semakin dicamkan dan terbentuk pada apapun itu namanya termasuk pada binatang.

Contoh: pada anjing yang diberikan respon dengan membunyikan lonceng untuk memberikan makan. Hal ini bila dilakukan berulang-ulang akan terbentuk stimulus pada diri anjing. Setiap lonceng berbunyi berarti saatnya makan. Pada saat tertentu bel sudah dibunyikan tetapi tidak ada makanan yang tersedia, maka air liur anjing akan keluar dengan sendirinya. Hal ini terjadi karena kebiasaan dan respon yang selalu diulang-ulang dan mendapatkan stimulus pada diri anjing.

13

UTS Filsafat : File@Mahuri 2010

Contoh: Pada seekor moyet yang yang diberikan respon pada sebuah ruangan yang kosong kita berikan sebuah tongkat, dengan diberikannya tongkat moyet akan melalukan beberapa kegiatan terhadap tongkat yang dipegangnya berulang-ulang. Kemudian tahap berikutnya kita letakkan sebuah meja pada ruangan tersebut, sehingga moyet dengan leluasa bermain dengan meja kadangkala meja didorong kekiri, kekanan, dinaiki, dijungkir balikkan dan lainnya, itu dilakukan berulang-ulang. Tahap terakhir kita gantungkan sebuah pisang ditengah ruangan sehingga mengundang moyet mengambilnya untuk dimakan. Tapi karena pisang tersebut terlalu tinggi dan memerlukan alat bantu. Karena kebiasaanya yang selalu diulang-ulang untuk menggunakan tongkat dan meja, maka dengan menggunakan tongkat dan menaiki meja pisang dapat diambil oleh moyet.

UJIAN TENGAH SEMESTER

MATA KULIAH LANDASAN TENOLOGI PENDIDIAN

OLEH : MAHURI

NPM : A2M009125

DOSEN PENGAMPU: PROF.DR. JOHANES SAPRI, M.Pd

DR. SUHIRMAN, M.Pd

Diajukan Sebagai Tugas Text Home UTS Mata Land. TP

Semester 1 (Satu)

Program Pascasarjana (S2)

Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bengkulu

PROGRAM PASCASARJANA (S2)

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FKIP UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar