Sabtu, 27 November 2010

TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang............................................................................. 1

B. Permasalahan.............................................................................. 2

1. Jelaskan apa yang dimaksud belajar...................................... 3

2. Sebutkan kelebihan dan kelemahan pembelajaran individual. 2

3. Sebutkan kelebihan dan kelemahan pembelajaran klasikal... 2

4. Sebutkan kelebihan dan kelemahan pembelajaran kelompok. 2

5. Jelaskan tentang konsep dasar evaluasi hasil belajar............. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Belajar.......................................................................... 3

B. Pembelajaran Individual................................................................. 4

C. Pembelajaran Klasikal.................................................................... 5

D. Pembelajaran Kelompok................................................................. 6

E. Konsep Dasar Evaluasi Hasil Belajar................................................ 7

BAB III PENUTUP

Kesimpulan........................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA

Filsafat TGS 2: File@Mahuri 2010

i



BAB II

PEMBAHASAN.

A. PENGERTIAN BELAJAR

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ?

Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :

· Menurut Skinner ( 1985 ) memberikan definisi belajar adalah “Learning is a process of progressive behavior adaption”. Yaitu bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif.

· Menurut Mc. Beach ( Lih Bugelski 1956 ) memberikan definisi mengenai belajar. “Learning is a change performance as a result of practice”. Ini berarti bahwa-bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan (practice).

· Menurut Morgan, dkk ( 1984 ) memberikan definisi mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively permanent change in behavior which accurs as a result of practice or experience.” Yaitu bahwa perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan ( practice )atau karena pengalaman ( experience ).

· Menurut Stern ” Learn ist kentinisserwerb durch wiedurholte darbeitungan” yang dalam arti luasnya juga meliputi “der ansignug neur fertigkeiten durch wiederholung die rede” ( Stren, 1950:313 ).

· Dalam bukunya Walker “Conditioning and instrumental learning” ( 1967 ). Belajar adalah perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman. Perubahan orang dapat memperoleh, baik kebiasaan – kebiasaan yang buruk maupun kebiasaan yang baik.

· C.T. Morgan dalam introduction to psychology ( 1961 ). Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat / hasil dari pengalaman yang lalu.

·

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

3

Menurut Slavin dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.

· Sedangkan menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.

Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku.

B. PEMBELAJARAN INDIVIDUAL.

Pola komunikasi dalam belajar individual sangat dipengaruhi oleh peranan sumber belajar yang dimanfaatkan dalam proses belajar. Titik berat pembelajaran individual adalah pada peserta didik, sedang guru dimempunyai peranan sebagai penunjang atau fasilitator.

1. Kelebihan belajar individual (Portner,2003 :Agungprodent’s Weblog)

· Menghemat waktu belajar

· Mengurangi biaya perjalanan

· Menghemat biaya pendidikan secra keseluruhan

· Melatih belajar mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan

2. Kelebihan belajar individu menurut ( Karwono,Blog WordPress com)

· Mempersiapkan Guru yang baik yang berfungsi sebagai perancang pembelajaran yang sistematis dan terprogram untuk keperluan modul atau paket untuk keperluan paket belajar mandiri

· Interaksi peserta didik dengan media dapat berjalan tanpa intervensi Guru kelas

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

4



3. Kelebihan belajar individual diantaranya( Percival dan Ellington ,1988:125)

a. Sumber belajar dapat tersedia dengan cepat

b. Memungkinkan peserta didik untuk memacu diri sendiri

c. Dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dalam belajar mandiri

d. Siswa dituntut untuk belajar mandiriSiswa dituntut untuk belajar mandiri

e. Siswa diharapkan mampu meningkatkan kreativitas membacanya demi

meningkatkan kepampuan

4. Kelemahan belajar individual

a.Bagi siswa yang aktif membaca, pengetahuannya akan makin mempertebal pengetahuannya, namun tidak bagi siswa yang kurang tertarik dengan membaca, malah akan semakin memundurkan tingkat pemahamannya.

b.Bagi siswa yang agak lambat dalam belajar tentunya akan sukar sekali mencerna pengetahuan yang dianggapnya sulit. Tentu siswa tersebut membutuhkan seseorang yang mampu membimbingnya.

c.Bagi siswa yang aktif, apabila tidak diadakan sharing dengan siswa yang agak lambat, siswa tersebut akan cenderung bosan dan merasa tidak perlu lagi untuk belajar karena kejenuhan.

d.Guru tidak bisa mengontrol siswa karena bisa memungkinkan siswa mendapatkan iformasi negative dari berbagai media yang siswa dapatkan

e.Bagi siswa yang kuang berpotensi maka hasil pembelajaran akan ketinggalan dengan siswa yang lain

C. PEMBELAJARAN KLASIKAL

Pola komunikasi dalam belajar klasikal yang dipergunakan adalah komunikasi langsung antara guru dengan peserta didik. Hasil belajar sangat tergantung oleh kualitas guru, karena guru merupakan sumber belajar utama. Sumber lain seolah-olah tidak ada peranannya sama sekali, karena frekuensi belajar didominari interaksinya dengan guru.

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

5



1. Kelebihan dalam pembelajaran klasikal

a. Waktu Cepat (efisien)

b. Organisasi kelas sederhana

c. Tidak tergantung pada sumber Belajar

d. Perlu Kesiapan Guru sebagai sumber belajar utama

2. Kelemahan dalam pembelajaran klasikal

a. Siswa merasa tidak perlu untuk mempersiapkan bahan pelajaran karena

hanya menerima suapan ilmu dari guru yang menjadi sumber utama.

b. Siswa merasa jika tidak memperhatikan tidak apa-apa karena pasti akan

mendapatkan catatan dari gurunya.

c. Kelas cenderung tidak mengasyikkan.

d. Siswa cendrung pasip

e. Kualitas belajar tidak lebih baik dari seorang guru

f. Menganggap semua siswa sama

D. PEMBELAJARAN KELOMPOK

Pola komunikasi dalam belajar kelompok, menurut Derek Rowntere dalam bukunya Educational Technologi in Curriculum Development (1982), menyajikan dua pola komunikasi yang secara umum ditetapkan dalam belajar yaitu pola: dikontrol oleh Guru, dan dikontrol oleh anggota kelompok.. Diskusi singkat adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik untuk didiskusikan singkat sambil jalan. Sumber belajar yang digunakan adalah materi yang digunakan sebelumnya.

1. Kelebihan belajar kelompok diantaranya ( Syaiful Bahri Djamarah,2000):

ü Bahan ajar dapat dipecahkan dengan berbagai cara

ü Setiap anggota anggota mampu mengemukakan pendapatnya secara konstruktif sehingga dapat kesimpulan yang baik

ü Antar anggota kelompok mampu saling belajar mendengarkan pendapat orang lain

ü Menimbulkan sikap toleransi

ü Menekankan pada peserta didik sebagai aspek penting dalam program

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

6



2. Kelemahan belajar kelompok ( Syaiful Bahri Djamarah,2000):

, a. Cenderung mengabaikan pembelajaran individual,

b. Alokasi waktu tidak mudah ditentukan,

c. Jumlah peserta didik akan berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran,

d. Pendidik (fasilitator) dituntut memiliki kualifikasi tinggi;

e. Pembelajaran dapat didominasi oleh satu atau dua orang

f. Memungkinkan evaluasi melebihi dari konskwensi tang diharapkan

g. Tidak dapat dipakai dalam kelompok besar karena dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara

h. Bagi siswa yang malas hanya ikut-ikutan saja tampa banyak berbicara

E. KONSEP DASAR EVALUASI HASIL BELAJAR

1. Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi

Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.

7

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

Ralph W. Tyler, yang dikutif oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.

Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior”

Pengertian penilaian yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules”

8

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

Sehingga dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses penilaian. Evaluasi juga merupakan pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan oleh perusahaan dalam mencapai tujuannya. Evaluasi merupakan bagian dari proses perencanaan karena data yang diperoleh dalam evaluasi akan digunakan sebagai masukan untuk analisa situasi program berikutnya. Disini terdapat beberapa hal yang akan dibahas dalam evaluasi yaitu apa yang menjadi bahan evaluasi, bagaimana proses evaluasi, kapan evaluasi diadakan, mengapa perlu diadakan evaluasi, dimana proses evaluasi diadakan, dan siapa yang mengadakan evaluasi.

2. Mengapa Perlu Dilakukan Evaluasi

Sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu bahwa evaluasi dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan pembelajaran, Evaluasi perlu diadakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan belajar siswa, mengetahui tingkat keberhasilan Proses Belajar Mengajar, menentukan tindak lanjut hasil penelitian, memberikan pertanggungjawaban (accountability), memilih strategi terbaik dari berbagai alternatif strategis yang ada, dan melihat apakah tujuan sudah tercapai.

3. Apa yang Menjadi Bahan Evaluasi

Hal yang perlu dievaluasi adalah sumber yang ada, pesan yang disebarkan, media yang digunakan, dan pengambilan keputusan.

4. Fungsi Evaluasi

Sejalan dengan tujuan evaluasi di atas, evaluasi yang dilakukan juga memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah fungsi:

a. Selektif

b. Diagnostik

c. Penempatan

d. Pengukur keberhasilan

Selain keempat fungsi di atas Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan masih ada fungsi-fungsi lain dari evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:

1. Remedial

2. Umpan balik

3. Memotivasi dan membimbing anak

4. Perbaikan kurikulum dan program pendidikan

5. Pengembangan ilmu

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

9



5. Manfaat Evaluasi

Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen

1. Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll

2. Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM

Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, kepala sekolah.



Bagi Siswa

Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan

Bagi Guru

1. mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan, remedial atau pengayaan

2. ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dll.

3. ketepatan metode yang digunakan

Bagi Sekolah

1. hasil belajar cermin kualitas sekolah

2. membuat program sekolah

3. pemenuhan standar

6. Macam-Macam Evaluasi

a. Formatif

10

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

9

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time. Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas.

b. Sumatif

Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

11



c. Diagnostik

Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya.

7. Langkah-Langkah Evaluasi

Secara umum, evaluasi diadakan oleh yang bersangkutan sebagai masukan untuk perencanaan mendatang. Mengadakan evaluasi yang baik dapat menerapkan beberapa langkah di bawah ini:

1. Menentukan permasalahan

2. Mengembangkan pendekatan permasalahan

3. Memformulasikan desain penelitian

4. Melakukan penelitian lapangan untuk mengumpulkan data

5. Menganalisis data yang diperoleh

6. Menyampaikan hasil penelitian.

Urutan atau proses yang mendasari sebelum melakukan evaluasi, yakni:

a. Mengembangkan konsep dan mengadakan penelitian awal

Konsep perlu direncanakan secara matang sebelum diadakan eksekusi pesan dan perlu diadakan uji coba karena seringkali draft yang dibuat berbeda dengan eksekusinya.

b. Mencoba mencari tanggapan dari khalayak.

12

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

Tanggapan dari khalayak ini penting untuk mengukur efektifitas pesan yang kita sampaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Umar, Husein. Evaluasi Kinerja Perusahaan. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal 99=102.

Curtis, Dan B; Floyd, James J.; Winsor, Jerryl L. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Remaja Rosdakarya, Bandung. 1996. Hal 414

Duncan, Tom. 2005. Principles of Advertising & IMC. Second Edition. Mc.Graw-Hill. Bab 22.

Neuman, W.Lawrence. 2006. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Research. USA: University of Wisconsin. Hal 246-256.

Doktor Teknologi Pendidikan bekerja sebagai dosen PNS Kopertis Wilayah II dpk pada FKIP Universitas Muhammadiyah Metro dan sebagai Deputy Team Leader pada Sustainable Capacity Building for Decentralization Field Tam East (FTE) ADB-LOAN 1964-INO.

Disampaikan dalam Seminar tentang Pemanfaatan Sumber Belajar tanggal 13 Nopember 2007 di Metro

Http://www.sekolah-dasar.blogspot.com/2008/11/13-peranan-guru-sebagai-pendidik.html

http://karwono.wordpress.com/2007/11/09/seminar-sumber-belajar/

Penelitian Eksperimen diBidang Pendidikan [www.lpmpjogja. diknas.go.id/.../ PENELITIAN EKSPERIMEN (supardi).pdf]. Diakses 2 Mei 2010.

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

14



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar menurut ( Miarso,2004 :553-554 ) merupakan suatu proses pribadi yang tidak harus dan atau merupakan akibat kegiatan mengajar ,Guru melakukan kegiatan mengajar tidak pada peserta didik ,sebaliknya peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar tanpa harus ada Guru yang mengajar namun dalam kegiatan belajar peserta didik ini ada kegiatan membelajarkan yaitu yang dilakukan penulis buku ,bahan belajar atau penghubung paket belajar dan sebagainya

Menurut ( Bambang waesito,2008) Evaluasi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memastikan bahwa program media dan bahan belajar yang sedang dikembangkan mutunya terjamin dengan baiak. Oleh karena itu untuk memastikan kualitas media dan bahan belajar yang baik ,perlu dilakukan evaluasi formatif untuk mencari kekuranganya dan kemudian melakukan revisi untuk meningkatkan kualitasnya. Evaluasi ini dengan cara :Kegiatan kegiatan yang dilakukan untuk mengendalikan mutu ( quality control ) program media dan bahan belajar yang meliputi 1) Evaluasi pramaster ( pre- mastery evaluation ) yang terdiri dari tiga minimal yaitu : a) Evaluasi ahli ( expert evaluation ) b) evaluasi orang perorang ( one –to –one –evaluation) cevaluasi kelompok kecil ( small group evaluation ) 2) Uji coba lapangan ( field test )

Evaluasi belajar individual dikerjakan sendiri dengan mengevaluasi sendiri,kemudian pada topik topik tertentu di evaluasi seorang guru. Ketika siswa menilai hasil evaluasi sendiri karena sudah tersedia kunci jawabannya dalam bentuk option dan disertai alasan menjawab tiap tiap jawabanny dengan hasil jawaban sendiri.

Apabila menjawab semua evaluasi maka siswa mengulang pada materi yang dievaluasi, bentuk soalnya bertitik tolak dari materi yang dipelajari siswa

Bahan evaluasi yang kedua bahan materi soalnya sama dengan soal yang pertama,karena pada intinya siswa dengan belajar individual dibentuk menjadi siswa yang mandiri

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

1



B. Permasalahan

1. Jelaskan apa yang dimaksud belajar

2. Sebutkan kelebihan dan kelemahan pembelajaran individual.

3. Sebutkan kelebihan dan kelemahan pembelajaran klasikal

4. Sebutkan kelebihan dan kelemahan pembelajaran kelompok.

5. Jelaskan tentang konsep dasar evaluasi hasil belajar

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

2



BAB III

P E N U T U P

Kesimpulan

Pola komunikasi dalam belajar individual dipengaruhi oleh peranan sumber belajar yang dimanfaatkan dalam proses belajar.Titik berat pembelajaran individual adalah peserta didik ,sedang Guru mempunyai peranan sebagai penunjang atau fasilitator.Sehingga peranan sumber belajar sangat penting.

Evaluasi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memastikan bahwa program media dan bahan belajar yang sedang dikembangkan mutunya terjamin dengan baik ( Bambang waesito,2008)

evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai.

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan.

Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya.

13

TKP TGS3: File@Mahuri 2010

Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat.

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN

PEMBELAJARAN INDIVIDUAL,KLASIKAL DAN KELOMPOK

MAHURI

Diajukan Sebagai Tugas Individu mata Teknologi Komunikasi Pendidikan

Program Pascasarjana (S2)

Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bengkulu

PROGRAM PASCASARJANA (S2)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FKIP UNIVERSITAS BENGKULU

2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar