Sabtu, 27 November 2010

PENCAPAIAN KONSEP DASAR BERFIKIR

PENCAPAIAN KONSEP:

DASAR-DASAR BERFIKIR

By: mahuri

Skenario

Kelas tingkat delapan Mrs. Stern di Hounston, Texas, sedang mempelajari karakteristik dari 14 kota terbesar di Amerika Serikat. Mereka telah mengumpulkan data dalam bentuk ukuran, populasi etnik, tipe-tipe industry, lokasi, dan dekatnya dengan sumber daya alam.

Bekerja dalam kelompok-kelompok para siswa telah mengumpulkan informasi dan menyimpulkannya dalam bentuk bagan yang sekarang telah ditempel disekeliling ruangan. Pada hari rabu bulan November, Mrs. Stern berkata”hari ini mari kita coba sebuah seri latihan yang dirancang untuk membantu kita memahami kota-kota ini lebih baik lagi. Saya telah mengidentifikasi sebuah konsep angka yang membantu kita untuk membandingkan dan membedakannya. Saya akan menandai bagan kita salah satunya iya atau tidak. Jika anda melihat informasi yang kita punya dan berfikir tentang populasi dan karakteristik yang lainnya, anda akan mengidentifikasi ide-ide yang ada dipikiran saya. Saya akan memulai dengan kota yang iya dan satu yang tidak, dan seterusnya. Pikirkan tentang kota yang iya. Kemudian catat setelah iya yang berikutnya yang menurut anda memiliki konektifitas dengan tempat iya yang pertama, dan terus tes ide-ide itu. Mari kita mulai dengan kota kita,” katanya. “Houston adalah iya.”

Para siswa melihat informasi tentang Houston, ukurannya, indiustri, lokasi dan etnik. Kemudian dia menunjuk Baltimore, Maryland.

“Baltimore adalah tidak”, katanya. Kemudian dia menunjuk San Jose, California. “ini adalah iya juga”, dia berkomentar.

FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 1

Para siswa mencari informasi tentang San Jose. Dua atau tiga dari mereka mengangkat tangan. “saya rasa saya tahu ini apa,” sau penawaran. “Tahan ide anda,” dia membalas. “Lihat jika anda benar.” Kemudian dia memilih iya yang lainnya- Seattle, Washington, Detroit, Michigan, adalah tidak. Miami, florida adalah iya. Dia melanjutkan sampai semua siswa berfikir mereka tahu itu konsep apa, dan kemudian mereka memulai untuk berbagi konsep.

Pada akhirnya siswa memutuskan bahwa yang iya itu adalah kota-kota yang berkembang sangat cepat dan rata-rata memiliki iklim yang sejuk.

Latihannya sering dilakukan berulang-ulang. Siswa belajar bahwa mrs. Stern telah mengelompokkan kota-kota pada dasar-dasar hubungan jalan air antar kota, sumber daya alam, etnik, dan beberapa dimensi lainnya.

Pada sekenario ini Mrs. Stern sedang mengajarkan siswanya bagaimana berfikir tentang kota-kota. Pada waktu yang sama dia mengajarkan mereka tentang proses mengkategorisasikan. Ini adalah cara mereka memperkenalkan model pembelajaran yang kita sebut Pencapaian Konsep. Dia ingin mereka belajar secara konseptual tentang apa yang dipelajari dan mempunyai alat untuk mengkrasikan konsep-konsep dan untuk berkomunikasi dengan yang lainnya.

Membantu anak-anak mempelajari konsep secara efisien merupakan tujuan dasar dari sekolah. Sampai saat ini, walaupun, kebanyakan pendidik tidak secara jelas membedakan konsep belajar dari setiap tipe-tipe pembelajaran, walaupun banyak metode yang berguna tidak efisien untuk konsep pembelajaran.

Pada tahun 1960an, Akademi Pergerakan Kembali, dipimpin oleh pelajar-pelajar dari akademi matapelajaran traditional, menitikberatkan pada kepentingan konsep-konsep. Para pelajar itu dalam berbagai bidang menekankan pada pentingnya pembelajaran “ susunan mata pelajaran” dan “cara menemukan” nya. Timbulah Matematika Baru, Komite Ilmu Fisika (PSSC), Ilmu Sosial Baru, Komite Ilmu Biologi (BSSC) adalah beberapa dari hasil yang diperjuangkan, sama halnya dalam bidang linguistic pendekatan membaca, dan susunan pendekatan pada seni, music, dan pendidikan fisika.

FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 2

Para penerbit buku menrevisi seri-seri bukunya, memasukkan “pendekatan konseptual”. Permainan, film, dan alat bantu yang konkret di masukkan untuk melengkapi buku itu. Walaupun tujuan kurikulum itu bervariasi dalam desainnnya dan bentuk pembelajarannya, kesemuanya ditekankan pada pembelajaran konsep utama dari masing-masing matapelajaran.

Sayangnya, kebanyakan usaha untuk mengubah kurikulum dilaksanakan secara tidak berkelanjutan untuk memaparkan pendidik pada penelitian di bidang konsep dasar dan proses dari konsep pembelajaran. Dari sumber-sumber ini, sejumlah model instruksional untuk mengajarkan konsep telah dihasilkan.

Pada bab ini, kita akan berfokus pada Model Pecapaian Konsep (Concept Attainment Model) yang dikembangkan dari penelitian Jerome Bruner, Jacqueline Goodnow, dan George Austin. Penelitian mereka, yang berjudul A Study of Thinking (Studi Mengenai Pemikiran) menyimpulkan riset bertahun-tahun dalam sebuah proses bagaimana manusia memahami konsep-konsep. Untuk mempelajari bagaimana pembelajaran konsep, Bruner dkk mesti memecahkan pertanyaan “Apakah sebuah konsep itu, dan apa yang dimaksud dengan mengetahui konsep?” Karena pembahasan mereka mengenai esensi dari konsep itu sendiri yang membentuk landasan untuk memahami segala jenis pembelajaran konsep, apapun strategi pengajaran yang digunakan, kita mendeskripsikan secara detil teori Bruner mengenai konsep. Kita juga akan memasukkan ide-idenya mengenai bagaimana siswa memahami suatu konsep, strategi mereka dalam berfikir. Dalam model ini, teori dan praktek memiliki overlap yang besar: cukup mudah untuk mempraktekkan aktivitas dari model tsb, namun untuk melakukannya dengan dampak nyata pada pemikiran konseptual memerlukan pemahaman yang jelas mengenai teori konsep.

Terdapat tiga variasi atau model mengenai pemahaman konsep yang telah disusun dari penelitian Bruner dkk. Masing-masing memiliki set aktifitas yang berbeda (Syntax), namun semuanya dibangun dari dasar konseptual yang umum. Kita mejabarkan ketiga variasi tsb (reception, selection, unorganized material) namun banyak berkonsentrasi pada Model Penerimaan dari Pemahaman Konsep (Receprion Model of Concept Attainment).

Tujuan dan Asumsi

Bruner, Goodnow, dan Austin berpendapat bahwa lingkungan sangatlah beragam dan kita manusia dapat membedakan banyak sekali objek dan aspek objek yang ‘bila kita menggunakan seluruh kemampuan kita untuk mengenali perbedaan-perbedaan yang pada pada berbagai hal dan merespon setiap kejadian yang ditemui sebagai sesuatu yang unik, kita akan terkagum-kagum oleh kekompleksitasan lingkungan kita sediri’.

FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 3

Kategori-kategori ini memungkinkan kita untuk mengelompokkan objek-objek yang memiliki perbedaan namun banyak memiliki kesamaan mendasar. Pengelompokan ini memungkinkan kita untuk “mengurangi kekompleksitasan lingkungan” karena kita tak mesti merespon setiap stimulus seolah-olah masing-masingnya berbeda secara menyeluruh dan berlabel sendiri-sendiri. Setiap mobil tak harus memiliki nama yang berbeda-beda untuk dapat dikategorikan sebagai mobil. Hampri serupa, pengelompokkan membantu kita untuk mengurangi kebutuhan untuk pembelajaran baru secara konstan.

Bruner dkk mempelajari proses pemikiran yang dinamakan pengelompokkan (categorizing) ini. Mereka melihat pengelompokkan ini sebagai “ alat utama yang olehnya anggota masyarakat berkembang dapat tersosialisasi, karena kategori yang diajarkan pada seseorang dan digunakan secara berkelanjutan mencerminkan budaya tempat mereka berkembang”. Mereka berasusmsi bahwa meski isi dari kategori dapat saja berbeda-beda pada tiap budaya (Masyarakat Eskmimo mengklasifikasikan salju pada beberapa macam, dan orang amerika mengelompokkan mobil pada beberpa jenis pula), kesemua set dari konsep merupakan produk dari proses pemikiran yang hampir sama, dan alat yang digunakan untuk memahami suatu konsep pada dasarya ialah sama.

Pengelompokkan, Pembentuan Konsep, dan Pencapaian Konsep

(Categorizing, Concept Formation, and Concept Attainment).

Proses yang digunakan oleh mak comblang tsb ialah salah satu konsep pemahaman, “pencarian dan pendataan atribut yang dapat digunakan untuk membedakan standar dan non-standar dari berbagai kategori.

Pada pemahaman konsep, konsep tsb sebenarnya sudah ada. Pada kasus pria yang disukai dan tak disukai, tugasnya ialah untuk menentukan contoh ‘ya’ dan ‘tidak’. Pembentukan konsep (concept formation), sebaliknya, ialah tindakan dimana kategori-kategori baru dibentuk; tak bedanya dengan penemuan.

Menurut Bruner, aktifitas pengkategorian pada dasarnya memiliki dua komponen; pembentukan konsep dan pemahaman konsep. Lebih jauh lagi Bruner menyatakan bahwa pembentukan konsep merupakan langkah pertama dari pemahaman konsep. Perbedaan antara pemberntukan konsep dan pemahaman konsep, meskipun tipis, sangatlah penting karena: (1) tujuan dan penekanan dari kedua macam kegiatan pengkategorian ini berbeda, (2) langkah-langkah dari kedua proses pemikiran tidaklah sama, (3) dua proses mental ini memerlukan proses pengajaran yang berbeda.. Model Pemikiran Induktif Hilda Taba (Hilda Taba’s Inductive Thinnking model) ialah sebuah contoh dari strategi pembentukan konsep.

FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 4

Hasil penelitian Bruner dkk memiliki penerapan langsung dan penting dalam pengajaran. Pertama, dengan memahami esensi suatu konsep dan kegiatan konseptual, kita dapat menetukan lebih baik kapan siswa sudah memahami konsep dan kapan siswa hanya mengulang kata-kata saja tanpa memiliki pemahaman konseptual yang penuh. Kedua, kita dapat mengenali strategi pengkategorian yang diterapkan siswa dan membantu mereka untuk menggunakan strategi yang lebih efektif. Ketiga, kita dapat meningkatkan kualitas langkah-langkah pembelajaran konsep dengan munggunakan model pengajaran yang berfokus pada esensi proses pemahaman konsep.

Concept Attainment Teaching (Pengajaran Pencapaian Konsep)

Yang diperlukan untuk pengajaran pemahaman konsep cukup minim: sejumlah contoh yang serupa dalam berbagai hal dan berlainan pada hal-hal lain. Siswa dihadapkan pada contoh-contoh ini dan harus mencari tahu atau diberi tahu apakah tiap contoh mencerminkan konsepnya. Pada tiap contoh yang ditemui, siswa merumuskan dan merumuskan ulang sebuah hipotesis mengenai konsep. Tiap contoh memberikan informasi bermanfaat mengenai karakteristik dan nilai atribut dari konsep tsb.

Proses memilah-milah contoh “ya” dan “tidak” ialah sebuah permainan pemahaman konsep dan merupakan intisari dari pengajaran Model Pemahaman Konsep. Transkrip dibawah ini menunjukkan bagaimana seorang guru menggunakan permainan pemahaman konsep dengan contoh yang relatif sederhana.

Pengajaran konsep memberikan sebuah kesempatan untuk menganalisa proses pemikiran siswa dan membantu mereka unutk mengembangkan strategi yang lebih efektif. Pendekatan ini dapat melibatkan beragam bentuk partisipasi siswa dan control siswa, dan materi untuk memvariasikan kekompleksitasan. Apa yang membedakan pemahaman konsep yang sebenarnya dengan permainan tebak-tebakan belaka ialah penerapan sistematis dari teori konsep yang dijabarkan pada bagian setelah ini.

Teori Mengenai Konsep

Kita telah berulang-ulang menggunakan istilah seperti example, criterial atau essential feature, dan attributive untuk mendeskripsikan aktifitas pengkategorian dan pemahaman konsep. Diambil dari penelitian Bruner dkk, tiap-tiap istilah tsb memiliki makna dan fungsi tersendiri dalam segala bentuk pembelajaran konsep, khususnya pemahaman konsep.

Bruner menilai bahwa setiap konsep memiliki lima elemen: (1) nama; (2) contoh (positif dan negatif); (3) atribut (essensial dan non essensial); (4) nilai atribut; dan (5) aturan. Memahami suatu konsep berarti memahami kesemua elemen dari konsep tsb.

FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 5

Nama merupakan suatu istilah yang diberikan untuk suatu kategori. Buah, anjing, Pemerintah, ghetto merupakan semua nama yang diberikan pada sekelompok pengalaman, objek, pengaturan, atau proses. Walaupun item-item itu biasanya disatukan dalam kelompok satu kategori mungkin berbeda antara yang satu dengan yang lainnya (anjing-anjing, misalnya, sangat berubah), biasanya ciri-ciri menyebabkannya diarahkan kepada istilah umum yang sama. Jika para siswa mengetahui sebuah konsep, bagaimanapun juga mereka bisa dengan mudah memepelajarinya, dan ekspresi verbal mereka akan lebih pandai dalam berbicara.

Elemen yang kedua adalah contoh-contoh, dimaksudkan untuk contoh-contoh konsep itu. Pada latihan konsep pencapiain diatas, setiap kata (kite, cat, hat) merupakan contoh konsep. Beberapa merupakan contoh-contoh positif dan beberapa contoh-contoh negative, itulah, beberapa contoh konsep dan yang bukan. Bagian mengetahui sebuah konsep yaitu dengan menyadari contoh-contoh positif konsep itu dan juga perbedaanya yang dekat hubungannya tetapi contoh-contoh negative.

Elemen yang ketiga dan keempat adalah perlengkapan dan nilai dari perlengkapan. Perlengkapan merupakan ciri-ciri umum yang menyebabkan kita untuk meletakkan contoh pada kategori yang sama. Pada kasus buah-buahan bahan-bahan perlengkapan yang perlu adalah daging buah (atau kering), biji, manis (atau asam), dapat dimakan ataupun tidak, dan harga buah itu. Tidak semua cirri-ciri itu hal-hal yang perlu bagi konsep, beberapa konsep mempunyai perlengkapan yang terkadang berhubungan dengan konsep tetapi tidak perlu bagi konsep itu. Sekali lagi, bagian mengetahui konsep adalah dengan membedakan perlengkapan yang perlu dengan yang tidak.

Proses konseptual akan lebih mudah jika objek dan kejadian lebih di standarisasi. Akhirnya peraturan adalah sebuah definisi atau pernyataan menspesifikasi perlengkapan yang perlu pada konsep. Contohnya, kita mengatakan kalau segitiga itu memiliki tiga sisi. Sebuah peraturan biasanya terbentuk pada akhir proses pencapaian konsep. Guru biasanya menggunakan ini sebagai penemuan yang seharusnya simpulan yang ditemukan oleh siswa dalam pencarian perlengkapan konsep. Sebuah peraturan “yang benar” mempengaruhi penggunaan dari konsep elemen yang lainnya-contoh negative dan positif serta perlengkapan yang perlu dan tidak. Peraturan dengan jelas diutamakan pada kealamaian konsep dengan mengindikasi keseluruhan perlengkapan yang diperlukan.

Apa yang membuat konsep itu berbeda dengan yang lainnya yaitu kombonasi dari perlengkapan-perlnagkapan itu. Perbedaan perlengkapan dan nilai uniknya disebut criteria perlengkapan. Jika ada satu criteria perlengkapan yang hilang dari objek, maka objek itu adalah contoh untuk konsep yang lainnya.

FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 6

Sebelum mempersembahkan daftar contoh kepada siswa, maka guru menganalisa konsepnya terlebih dahulu, pertama identifikasi ciri-ciri yang perlu (perlengkapan yang perlu). Kemudian guru tersebut memilih contoh-contoh dengan hati-hati, menyakinkan bahwa setiap contoh-contoh positif berisi keseluruhan criteria perlengkapan yang perlu bagi konsep tersebut. Dia juga memutuskan bahwa tidak ada poin yang tidak penting dan informasi yang merusak, jadi dia memilih untuk menggunakan satu kata sebagai contoh positif dan negative.

Pengepakkan, seperti bentuk, warna, dan rasa merupakan perlengkapan contoh yang dapat anda lihat, tapi seperti harga, hal ini bukan perlengkapan yang perlu bagi konsep. Kita mengarahkan ciri-ciri yang tidak perlu tersebut dalam contoh perlengkapan yang menggangu, dimana membuat konsep itu menjadi lebih rumit untuk menemukan ciri-ciri yang perlu bagi konsep.

Ketika kita mengajar siswa konsep baru, sangat penting bagi kita untuk mengeleminasi “gangguan” dari contoh-contoh yang kita persembahkan untuk mereka. Secara relative hal ini mudah untuk dilakukan ketika contoh konsep adalah objek atau kata-kata pendek sebagaimana contoh latihan vowel. Dalam kehidupan nyata, data dari beberapa kita menemukan konsep tersebut lebih kompleks. Guru-guru SMA bekerja dengan special kompleks dan konsep yang abstrak, seperti, “budaya”, “pendukung”, dan “angka tragis”. Untuk konsep yang kompleks, perlengkapan dan nilai perlengkapan tidak begitu jelas dan contoh-contohnya diisi oleh perlengkapan yang menganggu.

BAHASA PENCAPAIAN KONSEP:

Konsep-konsep Menganalisis

Istilah contoh, contoh positif dan negative, perlengkapan, ciri-ciri yang perlu, criteria perlengkapan, perlengkapan yang menganggu, nilai-nilai perlengkapan, merupakan keseluruhan bagian dari bahasa dimana digunakan oleh Bruner dan teman kuliahnya untuk mendeskripsikan kealamian konsep dan proses pencapaian konsep.

FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 7

Sejak bahasa ditemukan meluas oleh asosiasi dari pada conceptual, orang-orang terkadang lebih ditekankan untuk menyadari contoh baru atau untuk memverbal ciri-ciri yang perlu pada konsep yang lebih dikenal. Perbedaan antara pembelajaran asosiasi (atau menghapal) dengan pembelajaran konseptual lebih kepada kemampuan kita untuk mengetahui dan memilki pandangan yang banyak mengenai data, kejadian, dan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Hal ini penting dalam konsep mengajar, untuk itu, para guru membantu siswa lebih banyak focus pada diskudi perlengkapan daripada jawaban “yang benar”. Pada kenyataannya, salah satu fungsi yang paling berfungsi pada model ini adalah focus mendebatkan definisi konsep (diskusi tentang perlengkapan yang perlu). Siswa menganalisis konsep merupakan tujuan utama dalam aktifitas pembelajaran (sebagaimana bertentangan untuk menentukan identifikasi).

Strategi Menganalisa Pemikiran untuk Menemukan Konsep

Sebagai tambahan menemukan konsep yang tepat, tujuan kedua dari Model Pencapain Konsep adalah untuk memperkenalkan siswa dengan proses konseptual itu sendiri. Hal ini berisi pemahaman hubungan antara data contoh, perlengkapan, dan pola pemikiran yang digunakan untuk menemukan konsep.

Bruner menggunakan istilah strategi untuk dimaksudkan pada urutan yang dibuat oleh orang-orang sebagaimana mereka memasukkan setiap contoh konsep. Untuk mengatisipasi, peneliti menemukan ketetapan proses untuk menemukan konsep. Strategi berfikir tidak selalu memberikan secara jelas oleh seseorang yang menggunakannya, dan mereka tidak diingatkan untuk memperbaikinya, kita menggunakan strategi yang berbeda untuk tipe yang berbeda dari konsep dan perbedaan bermacam-macam materi pembelajaran atau data.

Dengan jelas strategi yang digunakan oleh orang-orang tidak memperbaiki sesuatu. Mereka berubah dengan kealamian konsep yang menjadi terlihat, dengan keanekargaman tekanan yang ada dalam situasi, dengan konsekuensi tingkah laku, contohnya…apa yang paling kreatif tentang pencapaian konsep tingkah laku adalah dimana membentuk pola keputusan yang dibutuhkan mempengaruhi keadaan situasi dalam menemukan jati dirinya masing-masing. Kita tidak tahu strategi mana yang dipelajari.

Sebuah strategi yang ideal adalah salah satu yang paling sfisien dalam menemukan konsep tetapi mempunyai paling tidak nilai penyaringan kognitif hasil dari hapalan yang berlebihan, ambigu, dan lainnya.

FILE : Tugas Model Pembelajaran@Mahuri HALAMAN 8



CHAPTER 2

PENCAPAIAN KONSEP:

DASAR-DASAR BERFIKIR

OLEH ; MAHURI dan YEMMY

DOSEN PENGAMPU: PROF.DR. WACHIDI, M.Pd

Diajukan Sebagai Tugas Kelompok Mata Kuliah Model Pembelajaran

Semester 2 (Dua)

Program Pascasarjana (S2)

Teknologi Pendidikan FKIP Universitas Bengkulu

PROGRAM PASCASARJANA (S2)

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FKIP UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AKADEMIK 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar