Sabtu, 25 Oktober 2008

میم مثلی مادر


cerita ini aku buat berdasarkan sebuah filem berbahasa persia
yang berjudul mim misli modar


" Salom sepide muwafak bosyied(salam sepide sukses yah), permainan biolanya bagus banget, pasti kamu lulus!"

"Mamnoon be umide khudo insyaAllah(makasih, dengan menaruh penuh hrap Padanya insyaAllah..), fathimah kapan datang? Tadi aku mampir kerumah, kamu kok nggak ada, kamu kemana aja?"

Bebakhsyid(Maaf), tadi aku diundang khanum Zahra'i dosen aritmatik! Beliau buru-buru banget mau ke Isfahan, padahal janjinya ketemuan jam 10 pagi, eh jam 8 aku udah disuruh ke kampus, jadi sampai lupa mau ngasih tahu Sepide "
"Oh gitu ya, ya udah tidak apa-apa, sekarang mau kerumah apa ke kampus?"
"Pingin banget mampir rumah tapi entar lagi aku ada kelas jadi sorri banget insyaallah besok ya"
"Yah sayang banget, momon sudah kangen banget ma kamu, kan kamu udah lama nggak main kerumah"
"Iya Fathimah juga udah kangen banget tapi sekarang aku bener-bener nggak bisa"
"Pas, fardo faramus nakunio(besok jangan lupa yah)!"
"Bosye qul midam, hala man beram kilos, dier sudam. Khuda khavis Sepide(Semoga Allah menjagamu)"
"Khuda negahdoret(semoga Allah menjaga mu)"
Fathimah langsung pergi ke kelasnya sedang Sepide pergi memesan taksi. Rumah yang terletak dalam apartemen dijantung kota Tehran itu sudah rindu kepadanya. Rumah yang hanya ia tempati dengan ibunya. Suaminya sedang pergi ke Prancis menjadi seorang diplomat.
"Momon. . .Salom!, momon salom. . .Kujoi tu?(ibu..ibu kamu dimana?)"
lama menunggu, salam Sepide tak juga ada yang menjawab. Ternyata ibunya sedang shalat jadi tidak menjawab salam dan segera menyambut putri semata wayangnya seperti biasanya..
"Sepide jon, kujo budi, cero dir omadi?(Sepide sayang, kamu kemana saja, kenapa datang terlambat?) "
"Tadi Sepide ujian ditempat les piano momon, habis itu langsung pulang deh"
"terus ujiannya gimana lulus tidak?"
"kalau menurut momon gimana lulus tidak? "
"loh kok malah balik nanya? Tapi momon yakin Sepide pasti lulus" sepide tanpa memberi kesempatan menghindar sedikitpun langsung memeluk ibu kesayangannya dengan manja. Ibu Sepide tak bisa apa-apa, dia hanya diam dan membalas pelukan tulus putrinya itu.
"Oh iya tadi momon masak makanan kesukaan Sepide. ayo gih, Sepide maem dulu ntar kasian adik bayi dikandungan Sepide!"
"iya momon, Sepide kan pingin jadi ibu yang penuh kasih kayak momon. Kalau gitu Sepide makan dulu ya"
Sepide langsung pergi ke dapur untuk memenuhi undangan perutnya yang sudah sedari tadi mendendangkan konser.
"Sepide, tadi ada telfon dari perancis coba kamu lihat, kayaknya suamimu sudah kangen banget ma kamu"
"iyalah momon Sepide kan istrinya. sepide juga kangen banget ma suami sepide"
"iya-iya yang lagi kangen-kangenan. Momon dulu juga gitu" jawab ibu sepide sambil mencubit hidung sepide. Sepide pun nyengir manja. Sepide tak sabar mendengar kabar dari suaminya tercinta diapun langsung menyetel rekaman telfon yang terletak disamping sofa di ruang tamu. "Salom sepide gule delam, cituri tu, insyaallah man zud barmigardam. Delam barot tang sude, jangan lupa jaga kesehatan. Jangan lupa makan. khub bekhuri ta baceyemoon salomat bosyid. Pas farda man residam khuneh(9)"
Sepide terlihat begitu bahagia, suami tercintanya tak lama lagi akan pulang.
###
"Salom junam, bilakhare residam khuneh" (salam sayang akhrinya sampai juga di rumah.)
"Salom hamsaram, khus omadid" sepasang suami istri itupun langsung berpelukan melepas tumpuk kerinduan. Tapi tak lama kemudian Sepide melepaskan pelukan suaminya. Bozari suami sepide memahami hal itu. Ia tahu istrinya takut terjadi kenapa-kenapa pada anak yang sedang dikandungnya. Perut sepide sudah buncit. Umur kandungannya sudah 7 bulan. "Gimana sayang kapan kita periksa kedokter. Papa sudah penasaran baget pingin tahu yang bakal jadi penerus papa laki-laki apa perempuan?"
"ah papa, laki-laki atau perempuan kan sama saja. Yang penting dia jadi pejuang islam. Iya kan?"
"iya deh terserah apa kata mama"
"entar sore aja ya pa! Sekarang hari masih panas. Kan gak baik buat anak kita?" Sepide menjawab dengan manja.
"buat anak kita apa ibunya yang takut kepanasan?"jawab Bozari menggoda.
Sepide tersenyum mendengar itu lalu merangkul suaminya dari belakang. Tapi malang lagi-lagi dia terhalang oleh perutnya yang sudah cukup besar.
###
"Terus gimana dok? Apa tidak ada obatnya. Kenapa anak saya harus cacat kalau lahir nanti?" Bozari terlihat begitu gusar. Disampingnya Sepide hanya diam dan tenggelam dalam tangisnya.
"Maaf pak. Ini karena ibu atau bapak sendiri sebelumnya sudah mengidap penyakit kimia, penyakit itu menular pada anak yang sedang dikandung istri bapak"
Mendengar perkataan dokter itu Sepide jadi teringat pada saat perang irak iran kala itu dia mejadi relawan, saat itu dia sedang di kamp rumah sakit darurat perang. Ketika tentara irak meyerang kamp sederhana diantara gersangnya sahara dengan menjatuhkan bom kimia serta ribuan peluru dia tidak memiliki masker pelindung. Satu-satunya masker yang ada ditangannya ia serahkan pada seorang waita, pasien yang sedang ia bantu untuk melahirkan. Dalam suasana yang panik Ia dan bayi kecil yang baru lahir yang ia jaga dalam gendongannya hanya bisa berlindung didalam lemari besi. Tapi itu tidak cukup membantu banyak. Bom kimia itu berupa gas jadi bisa menerobos kedalam lemari besi tanpa kesulitan, tak ayal dia pun menghirup gas beracun itu. Memang dia sudah mendapat perawatan intensif setelah pulang dan dia dinyatakan sudah sehat ketika dia akan menikah dengan Bozari suaminya. Tapi apa mau dikata. Sekarang dia tahu anak yang dikandungnya ternyata akan terlahir cacat.
" Sepide, kamu harus gugurkan kandungan kamu!''
Bozari mencoba memberi sebuah solusi. Sebuah solusi yang jelas hanya untuk kepentingan pribadi, karena wanita yang keguguran akan merasakan kesakitan lebih dari pada melahirkan secara normal. Sepide tak menjawab apa-apa. Pandanggannya kosong, tanganya terus megelus perut yang selama ini telah menjadi tempat bernaung janin calon putranya.
Malam mulai larut, begitu tenang dan hening tanpa suara, hanya detakan jam yang tak juga lelah memenuhi ruang-ruang kesedihan hati, mengusik dzikir menapaki kebesaran ilahi. Sepide diam dan terus diam menguntai tasbih membesarkan Asma suci Sang Sembahan. Dalam batinnya ia merasa kecewa pada suami yang selama ini begitu ia banggakan, seorang pemuda cerdas dambaan para gadis dikampus. Mengapa suaminya begitu antusias untuk menggugurkan kandungannya, kandungan yang merupakan darah dagingnya sendiri? Mengapa ia tega seperti itu pada anaknya sendiri? Malam itu Sepide tak bisa sedikitpun memejamkan mata. Iapun pergi mengambil wudzu walau wudzu yang ia punya sebenarnya belum batal dan segera berkeluh kesah pada Zat Sang Penyayang. Codur( ) putih dan lilin kecil dengan setia menemani iringan do'a dan isak tangisnya dimalam gelap itu.
''Duhai Tuhan, duhai Sembahan. Kini hamba datang kepintu-Mu memenuhi undangan-Mu. Tangan kosong ini bergetar begitu berharap mendapat uluran kasih sayang-Mu, Ampunan-Mu. Berharap mampu memenuhi kealpaan dengan rinai Keridhaan-Mu.
Ya Allah haturan shalawat tak terhenti bagi Nabi dan keluarga kami panjat kehadirat mulia-Mu, hingga terus Kau alir seiring pancaran Rahmat-Mu bagi semua mahkluk ciptaan-Mu. Duhai sandaran dikala sedih dan senangku. Wahai sahabat setiaku dikala kepedihan melanda. Wahai muara harapan para pengharap dan pendamba. Engkaulah yang menutupi kecacatanku, yang memelihara kehormatanku dan tak henti menjagaku.
Ya Allah betapa berat lautan coba yang harus hamba arungi, betapa banyak cobaan yang harus ditempuhi. Hamba tahu bahwa semua coba itu sesuai dengan kapasitas hamba namun hamba ini lemah, kurang dan dina. Tak jarang terpelanting dalam jurang angan dan hayal. Ya Allah kuatkanlah langkah hamba, tegarkan hati hamba-Mu ini...''
Sepide terus memanja diri dalam balutan do'a pada kinasih Hakiki. Ia terus beristighfar karena dia memilih seorang suami yang hanya ia tahu sebagai orang yang cerdas dan memiliki ilmu agama dan dunia yang begitu luas tanpa meneliti lebih dalam akhlak pribadi serta penerapan keilmuannya. Ia begitu terpesona pada Bozari waktu itu. Sepide beristighfar menyadari kesalahannya itu. memohon pertolongan agar diberi ketabahan yang berlipat.
###
"Sepide jon, biyotu! khudam kazo pukhtam barot, hatman bukhurit''(10)
Sepide terheran-heran melihat apa yang sedang dilakukan suaminya. Tapi ia simpan keheranannya dalam-dalam, berharap suaminya benar-benar telah berubah. Iapun mengembang senyum sebisanya karena sejujurnya ia belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang ada dihadapnnya.

'' Baleh, miyom"(11)
"Ada apa denganmu Sepide?''

Sepide memang kurang bisa menyembunyikan keheranan yang ia rasa. Cepat-cepat ia menguasai diri.

" Ah tidak ada apa-apa kok! Cuman tadi Sepide sempat makan cake di dekat tempat ngelesin piano"
''Papa kan sudah bilang, mama tidak usah kerja, kan mama jadi capek "
"Mama tidak niat bekerja ko, mama cuma hobi aja"
"Ya udah Kalau gitu maem makanan buatan papa ya biar cepat hilang capeknya"

Bozari begitu antusias menawarkan makanan yang ia aku-aku sebagai buatan pribadinya, entah apa yang ada dalam fikirannya. Akhirnya Sepide memakan beberapa sendok makanan yang sudah disiapkan suaminya.

"Sepide istirahat dulu ya pa"

Sepide langsung pergi ke kamar setelah bersih-bersih diri, dia begitu capek hari itu. sampai saat itu ia masih bekerja di ditempat les biola dia berencana meminta ijin di tempat Sepide biasa mengajar kalau umur kandungannya sudah delapan bulan. Belum sempat memejamkan mata tiba-tiba perutnya terasa mual-mual, Sepide langsung cepat-cepat ke kamar mandi, ia muntah sejadi jadinya perutnya terasa sakit bukan main. Ia keluar sebentar tapi kembali lagi kekamar mandi, muntah-muntah lagi. Bozari datang menemui istrinya ia berpura-pura tampak kaget karena hal itu memang sudah ia rencanakan, ia campuri makanan tadi dengan obat untuk menggugurkan kandungan.
"Kuatkan dirimu istriku ini demi kebaikan kita berdua" Bozari menyemangati, ia tidak terlihat merasa kasihan melihat istrinya yang mengerang dan tersiksa rasa sakit, ambisi dan egoisme buta telah menutupi mata hatinya. Entah mengapa banyak sekali yang memyerahkan kemerdekaan diri pada kubang-kubang semu. Bozari sang diplomat orang yang terkenal dengan kecerdasannya. karena selalu dimanja semenjak kecil diapun muncul sebagai salah satu penganut agama kepentingan diri.


Sepide terlihat berjung mati-matian, muka sepide terlihat pucat, cairan tubuhnya sudah begitu banyak yang keluar. namun sebagai wanita akhirnya Sepide pun limbung didepan
kamar mandi. Bozari membopong istrinya keatas ranjang setelah dia tutup dengan selimut dia langsung pergi ke kaffe tempat dia biasa mangkal

###
Semua usaha Bozari untuk menggurkan kandungan istrinya sia-sia belaka. Akhirnya
bayi yang Sepide jaga sembilan bulan dengan mempertaruhkan jiwa dan raga pun lahir, setelah melihat kaki kiri anaknya benar-benar cacat dan harus selalu diberi nafas bantuan Bozari langsung pergi kesisi Sepide dan bilang agar bayi itu dititipkan di panti asuhan. Serta merta Sepide menolak tawaran itu, karena tidak berhasil Bozari langsung melarikan diri mengikuti egoisme diri yang begitu mengkarang dalam hatinya. Tanpa pamit ia langsung ke Prancis
Perjuangan Sepide semakin berat, ia harus menghidupi diri dan anaknya, ia mencoba melamar kerja dibeberapa tempat setelah berhari-hari mencari akhirnya ia diterima disebuah percetakan, ia bekerja mati-matian mengambil jam lembur serta menambah jam. Apapun yang Sepide lakukan ia tetap tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan. Biaya pengobatan untuk Ali putranya sangat besar. Gajinya sebagai penulis lepas dan guru prifat piano habis untuk membeli obat itu setiap bulan. biaya hidup sehari-hari ia dapat dari uang bantuan pemerintah bagi keluarga syahid karena ayah sepide meninggal saat membela negar. Harta benda dirumah sudah ia jual. Ia tidak peduli dengan semua itu yang penting Ali tetap sehat dan obat untuknya tetap bisa didapatkan.
###
-Ali sudah beranjak dewasa umurnya sudah tujuh tahun sudah waktunya pergi kesekolah. Kesehatan Ali sudah jauh lebih baik, daya tahan tubuhnya pun semakin kuat.
Matanya bergerak-gerak cepat dan berkilau-kilau meneliti apa-apa yang ada disekitarnya.
waktu Pertama kali masuk sekolah terlalu banyak perasaan yang harus ditanggung Ali kecil. ia malu, gugup, senang, teman baru, guru baru suasana baru semua bercampur aduk. Memang hanya dia yang berbeda diantara teman-teman sekelasnya, kaki kirinya harus memakai penyangga bantuan serta ketika keluar rumah harus selalu memakai gas oksigen untuk bantu pernafasan akibat penyakit kimia bawaan yang ia derita. Namun teman-teman dikelas itu tidak begitu memperdulikan itu. Pertama memang Ali jadi perhatian penduduk kelas satu debristonnya(SD) dengan penampilannya yang cukup aneh semacam penyelam, tapi itu tidak berlangsung begitu lama. Ali cukup pintar memecahkan kebekuan, teman-temannya dengan cepat menjadi akrab dengannya. Tak disangkal pendidikan secara tidak langsung dari Sepide ibunya memang telah menancapkan gurat-gurat santun akhlak dan jiwa pantang menyerah pada Ali. Sepide tidak suka mengobral nasihat pada anaknya. Nasihat akan sangat tidak berguna kalau dia sendiri melanggarnya. Sepide mengajari akhlak hanya dengan menunjukkan akhlak baik di dalam kesehariannya.
Hari-hari terus berlalu Ali menampakkan kecerdasan yang luar biasa berturut-turut ia menyabet peringkat pertama, selain itu ia juga sering mendapat peringkat pertama dikejuaraan musik biola berkat didikan ibunya tercinta.

###


-Fathimah tak henti membesarkan hati Sepide. Ia selalu datang kerumah sahabat karibnya itu. Dua sahabat itu rutin pergi ke panti asuhan korban perang yang berada di pinggir kota Teheran. Mereka membantu tanpa pamrih mengajari menulis, bernyanyi, bermain, cerita dan berbagai hal dengan penuh kasih. Anak-anak di panti asuhan itu selain cacat fisik akibat bom kimia, banyak juga yang memiliki keterbelakangan mental akibat perangkat perang tak berperikemanusiaan itu. Sepide merasa bersama mereka seperti sedang menyandingi adik-adiknya sendiri. Mereka semua adalah saudara sependeritaan yang kurang mujur karena tidak bisa bertemu dengan orang tua mereka. Orang tua mereka tidak ada kabar sama sekali, entah sudah meninggal, sehat, sakit atau bagaimana mereka tidak tahu. Memang penyakit akibat bom kimia di zaman perang semasa ia menjadi perawat relawan perang jarang kambuh. Tapi tetap saja semua itu membuat Sepide merasa lebih dekat dengan anak-anak disana.
"Gule nargis salom cituri?, tu hubied?"(halo bunga Narjis gimana kabarnya? ) Ali di temani ibunya menyapa teman yang ada disalah satu ruang di ujung yang sedang sibuk membaca buku bergambar. Gulle nargis terlihat serius dengan bacaannya sampai-sampai suara Ali tidak terdengar olehnya
"man yek hadiye barot owardam , tu mikhoi?( aku bawakan hadiah untuk mu mau tidak? )
"mamnoon man khubam, hadiye ci?" Nargis gadis kecil berusia 6 tahunan yang hingga kini belum mengenali siapa ibu bapaknya itu baru sadar dengan kedatangan Ali setelah Ali memanggilnya dua kali. Iapun menjawab pertanyaan Ali dengan susah payah, bom kimia telah memasung kemerdekaannya untuk bisa hidup secara normal. Pemandangan yang membuat mata mereka yang memiliki hati ternyuh terkungkung rasa iba dan haru.
"Bah bah, in arusak khuskile! Khaili Dusdoram man" jawab Nargis kembali dengan susah payah, belepotan serasa diseret dan berat.

###
--Suaranya bergetar sekali lagi, sudah kesekian kalinya Sepide menjawab pertanyaan Bozari. Ia sudah sedikit mampu menerima prilaku tidak bertanggunjawab dengan meninggalkan dirinya sendirian delapan tahun silam dan tidak memperdulikan kesulitan, kepayahan, dan berbagai hambatan hidup yang harus Sepide hadapi untuk membesarkan Ali yang hingga kini terus membutuhkan pengobatan secara intensif. Tapi mengapa sekarang malah meminta Agar Ali di titipkan di tempat penampungan anak dan mengajaknya pergi hidup berdua tanpa ada sedikitpun perasaan bersalah.
"Boro birun tu"!( )
Sepide dengan tegas mengusir lelaki tak bertanggung jawab dan tak memiliki rasa malu itu.
"Boro birun tu!"( sana pergi) Sepide mengulangi ucapannya dengan lebih keras.
"Tapi aku sangat mencintaimu sepide" terdengar Suara Bozari bergetar menanggapi jawaban tegas dari Sepide. Ia kemudian diam dan langsung beringsut pergi meninggalkan Sepide sendirian. Bozari tak ada pilihan lain. Ia keluar rumah dan segera menstarter mobilnya setelah memandangi rumah kontrakan istrinya untuk beberapa lama. Ia langsung tancap gas tak memperdulikan beberapa lubang jalan yang penuh genangan air akibat hujan tempo hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar