Minggu, 05 Oktober 2008

Pendidikan Perdamaian Perlukah?

Pendidikan Perdamaian Perlukah?


Sabtu, 17 Januari 09 - oleh : Collaborative Writing

The Aim of Peace Education

(Sebuah Upaya Untuk Menanamkan Benih-Benih Perdamain dan Kemuliaan di Lingkungan Sekolah)

Arranged by:

1. Wawan Nurwana*(SDN 3 Bangunharja)
2. Arif Nurahman* www.banjarcyberschool.co.cc (UPI)
3. Kurniawan* www.forsalim.co.cc (STIKES BP Banjar)
4. Dian Ekasa* (Humanitarian Activist UNICEF)
5. David Forster* (Cambridge University, London)
6.Albana Mustofa (Macedonia)
7.Asma Gharbi Yahyaoui (El Shaddai Institute of Applied Theology
)
8. Arif Kara (ICT Consultant, Turkey)

" Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, [tetapi] janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas"
(Al-Baqoroh ayat: 190)

Ketika Baginda Rasul S.A.W. Yang Mulia melihat pasukan yang kembali dari sebuah peperangan, beliau bersabda. "Selamat datang, wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil dan masih tersisa bagi mereka Jihad Akbar."
Ketika orang-orang bertanya tentang makna Jihad Akbar itu, Rasul S.A.W. menjawab. "Jihad Melawan Diri Sendiri (Jihad al-nafs) {Al-hadis, dari Buku 40 hadis Karya Ruhullah, Imam Khomeini. Iran}

"An eye for an eye makes the whole world blind."
(Mohandas Karamchand Gandhi [Mahatma Gandhi])

"There is no scientific antidote (To the Atomic Bomb), only EDUCATION. You've got the change the way people think. I am not Interested in disarmament talks between nations, what I want to do is to disarm the mind. After that , everything else will automatically follow. The ultimate weapon for such mental disarmament is INTERNATIONAL EDUCATION."
-Albert Einstein-

"jika kita melihat generasi kita tumbuh tanpa masa depan, itu bukan karena takdir Tuhan, tapi karena kita tidak memberikan mereka kesempatan untuk mendapatkan pendidikan"
-Dian Ekasa-

Abstract

Peace education brings together multiple traditions of pedagogy, theories of education, and international initiatives for the advancement of human development through learning. It is fundamentally dynamic, interdisciplinary, and multicultural and grows out of the work of educators such as John Dewey, Maria Montessori, Paulo Freire, Johan Galtung, Elise and Kenneth Boulding, and many others.

Building on principles and practices that have evolved over time, responding to different historical circumstances, peace education aims to cultivate the knowledge, skills, and attitudes needed to achieve and sustain a global culture of peace. Understanding and transforming violence is central. The following diagram helps visualize the core relationship between violence and peace.

Peace is understood not only as the absence of traditional forms of direct violence, but also as a positive presence. Educating for and about all aspects of peace constitutes peace education.
-(United Nation Cyber School Bus, Peace Education)-

Introduction

Kisah pencarian Tuhan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam selama 4000 Tahun, sedangkan firman-firman Tuhan telah membentuk sejarah kebudayaan kita. Kita harus memutuskan, apakah kata "Tuhan" masih tetap memiliki makna bagi kita pada masa sekarang ini, padahal diantara kita saling serang-menyerang.

Saya pikir, anugrah terbesar pada abad ke-20 ini adalah bahwa kita dapat belajar untuk pertama kalinya dalam sejarah tentang kedalaman (makna) agama lain.

Mengapa ada Perang Suci?
(Keterkaitan ketiga agama Ibrahimi dan Persetruan di antara ketiganya)

Namun, pada masa kini, kebayakan kita tanpa ragu akan mengutuk perang sebagai sesuatu yang kejam dan tidak berprikemanusiaan:
Bukankah Yesus menitahkan para pengikutnya untuk mencintai musuh-musuh mereka, bukannya memusnahkan mereka, Yesus adalah seorang pencinta Damai.

Ketiga agama ini secara historis dan Teologis saling berhubungan dan semuanya menyembah Tuhan yang sama. Ketiga tradisi agama tersebut dengan cara tertentu mengabdi pada Cinta dan Kasih Sayang, tetapi ketiganya juga mengembangkan pola perang suci yang amat serupa.

Bahwa egalitarianisme, spiritualitas yang mendalam, dan kepedulian pada keadilan sosial merupakan tujuan tertinggi dalam spiritualitas Islam. Pesan utama Al-Quran adalah bahwa kita tidak boleh hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi harus membagi-bagikan kekayaan secara merata, membangun masyarakat yang berkeadilan dan bermoral. serta memperlakukan kaum miskin dan kaum lemah secara TERHORMAT.

(Prof. Karen Armstrong, Oxford University, dalam buku The Holy War dan The History of God. Bidang pengkajian agama Yahudi, Kristen dan Islam.)

Contents

"A culture of peace will be achieved when citizens of the world understand global problems, have the skills to resolve conflicts and struggle for justice non-violently, live by international standards of human rights and equity, appreciate cultural diversity, and respect the Earth and each other. Such learning can only be achieved with systematic education for peace."

-Hague Appeal for Peace Global Campaign for Peace Education-

UNICEF and UNESCO are particularly active advocates of education for peace. UNICEF describes peace education as schooling and other educational initiatives that:

• Function as 'zones of peace', where children are safe from violent conflict
• Uphold children’s basic rights as outlined in the CRC
• Develop a climate that models peaceful and respectful behaviour among all members of the learning community
• Demonstrate the principles of equality and non-discrimination in administrative policies and practices
• Draw on the knowledge of peace-building that exists in the community, including means of dealing with conflict that are effective, non-violent, and rooted in the local culture
• Handle conflicts in ways that respect the rights and dignity of all involved
• Integrate an understanding of peace, human rights, social justice and global issues throughout the curriculum whenever possible
• Provide a forum for the explicit discussion of values of peace and social justice
• Use teaching and learning methods that stress participation, Cupertino, problem-solving and respect for differences
• Enable children to put peace-making into practice in the educational setting as well as in the wider community
• Generate opportunities for continuous reflection and professional development of all educators in relation to issues of peace, justice and rights.

Systematic-level Cause of War

The leading systematic-level approach to the study of war is "realist theory". Realist theory focuses on sovereign states who act rationally to advance their security, power, and wealth in an anarchic international system defined by the absence of a higher authority to regulate disputes and enforce agreements between states. In such an "anarchic" system, with nothing comparable to governments in domestic political system to maintain order, states must rely on themselves or their allies (who are not always reliable to provide for their security and other interests.

Given uncertainties regarding the current and future intentions of the adversary, political leaders often focus on short term security needs, adopt worst case thinking, engage in a constant struggle for power, and utilize coercive threats to advance their interest. influence the adversary, and maintain their reputation.

(Louis P. Pojman, [Professor of Philosophy at United States Military Academy, West Point. New York and Princeton University]. The Orogin of War in Neorealist Theory. Jack S. Levy, Kenneth W. waltz et all, Cambridge & MIT press)


Ada sebuah pernyataan tentang perang yang seharusnya tak terlupakan, terutama ketika senjata masih terus diproduksi dan mesiu diledakkan dan manusia tak habis-habisnya sengsara: ”Tiap senjata yang dibuat, tiap kapal perang yang diluncurkan, tiap roket yang ditembakkan, menandai sebuah pencurian.”

”Pencurian” adalah kata yang mengejutkan. Tapi orang yang mengucapkannya, Dwight D. Eisenhower, tahu apa yang dikatakannya. Ia—satu-satunya jenderal yang jadi presiden Amerika Serikat pada abad ke-20—melihat dengan tajam bahwa ada hubungan erat antara ekonomi persenjataan dan peperangan, sebuah hubungan yang disebutnya sebagai ”kompleks militer-industri”. Bagi Eisenhower, tiap kali perang disiapkan dan tiap kali meletus, sesuatu yang berharga diambil dari ”mereka yang lapar dan tak dapat makan, mereka yang kedinginan dan tak dapat baju”.

Permusuhan bersenjata menghabiskan keringat para buruh dan kecerdasan para ilmuwan. Korban tak hanya di medan tembak-menembak. Di bawah bayang-bayang perang, ”kemanusiaan-lah yang terpentang di sebatang salib besi”.

Eisenhower mengatakan itu pada 1953, kurang dari dua dasawarsa setelah perang besar menggerus dan mengubah Eropa dan Pasifik—sebuah perang tempat ia, sebagai prajurit, menyaksikan dan mengalami kegagalan dan kemenangan, seraya tahu bahwa di tiap medan tempur, kebrutalan, kebodohan, dan kesia-siaan tampak dengan jelas.

Kini tahun 2008 & 2009. Di Irak, Afganistan dan Palestina seharusnya semua itu juga jelas. Tapi orang Amerika telah memilih persepsi lain tentang perang: sebagai bagian prestasi kegagahan, patriotisme, sikap setia kawan, dan keluhuran budi yang sudi berkorban sehabis-habisnya.

Kenangan bisa jadi aneh memang, dan masa lalu tak pernah datang sendiri. Sejarawan Inggris terkenal, Tony Judt, dalam The New York Review of Books (1 Mei 2008), mengatakan sesuatu yang tajam dan menukik dalam: ”Amerika Serikat kini satu-satunya demokrasi yang telah lanjut di mana tokoh-tokoh publik mengagungkan dan menjunjung tinggi militer, sebuah perasaan yang dikenal di Eropa sebelum 1945 tapi tak terasa lagi sekarang.” Para politikus Amerika, kata Judt pula, mengelilingi diri dengan ”lambang dan pajangan yang menandai kekuatan bersenjata”.

Judt menemukan sebabnya: perang belum pernah membuat Amerika remuk. Dalam pelbagai konflik abad lalu, Amerika tak pernah diserbu. Ia tak pernah kehilangan onggok besar wilayahnya karena diduduki negara asing. Bahkan, sementara AS amat diperkaya oleh dua perang dunia, Inggris kehilangan imperiumnya. Meskipun merasa dipermalukan dalam perang neokolonial di negeri jauh (di Vietnam dan di Irak), orang Amerika tak pernah menanggungkan akibat kekalahan secara penuh. Mereka bisa saja mendua dalam menyikapi aksi militer belakangan ini, tapi kebanyakan orang Amerika masih merasa bahwa perang yang dilancarkan negerinya adalah ”perang yang baik”.

Korban jiwa Amerika juga tak sebanyak korban negara lain. Menurut catatan Judt, dalam Perang Dunia I, jumlah prajuritnya yang tewas kurang dari 120 ribu, sementara Inggris 885 ribu, Prancis 1,4 juta, dan Jerman di atas dua juta. Dalam Perang Dunia II, sementara AS kehilangan 420 ribu tentara, Jepang 1,2 juta, Jerman 5,5 juta, dan Uni Soviet 10,7 juta. Di dinding granit hitam monumen Perang Vietnam di Washington, DC, tercantum 58.195 orang Amerika yang mati; tapi jumlah itu dihitung selama 15 tahun pertempuran, sementara, kata Judt, tentara Prancis kehilangan dua kali lipat hanya dalam waktu enam minggu.

”Perang”, akhirnya, adalah sebuah pengertian yang disajikan dari bagaimana sejarah dibicarakan. Kini orang Amerika percaya, sejarah telah terbagi dua: sebelum dan sesudah ”11 September 2001”. Semenjak itu, masa lalu dan masa depan pun ditentukan oleh apa yang tumbuh pada tanggal itu: sikap waspada, takut, malu, dan dendam yang berkecamuk pada hari-hari setelah para teroris menghancurkan dua gedung tinggi di Kota New York itu.

Yang dilupakan: sejarah lebih lama dan lebih luas ketimbang hari itu. Seperti ditunjukkan Judt, terorisme tak hanya terjadi pada 11 September 2001. Apokalips tak hanya terjadi ”kini”, dan tak hanya mengenai orang Amerika.

Dalam film Apocalypse Now, dari rimba Vietnam yang penuh kekejaman, Kolonel Kurtz memaparkan segala yang menakutkan, berdarah, absurd, edan, dan tak bertujuan. Pada akhirnya ia adalah sosok rasa ngeri dan kebuasan manusia, yang menyebabkan Perang Vietnam tak membedakan lagi mana yang ”biadab” dan yang ”beradab”. Di jantung kegelapan Sungai Mekhong, Kurtz dalam film Coppola pada 1979 itu adalah versi lain dari Kurtz di Sungai Kongo dalam novel Conrad pada 1899. Kita tahu ia manusia luar biasa. Tapi ia bagian dari konteks yang brutal.

Itulah perang, itulah kekerasan kolektif yang meluas. Hanya mereka yang melihatnya dari jauh yang akan bertepuk tangan untuknya tanpa mendengar bisikan terakhir Kurtz: The horror! The horror! Eisenhower, yang menyaksikan perang dari dekat, tahu: dalam perang, apa yang luar-biasa, yang terkadang disebut kepahlawanan, jangan-jangan terkait dengan ”kebrutalannya, kesia-siaannya, kebodohannya”.

Program-program UNICEF & UNESCO

UNICEF juga mendanai pelatihan bagi generasi muda dalam hal keterampilan yang efektif dalam menangani konflik yg membangun.

• Jaringan kerja yang terdiri dari 40 orang ahli pendidikan, golongan muda, dan tokoh masyarakat mengadakan serangkaian pelatihan manajemen konflik untuk siswa siswi, guru-guru dan golongan muda di seluruh wilayah Ambon. Bekerjasama dengan pejabat-pejabat di tingkat propinsi, pelatihan ini adalah sebagai tindak lanjut dari pelatihan yang diadakan pada tahun 2001 oleh Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) di Ambon dan Yogyakarta.

• UNICEF mendanai yayasan ARTI untuk mengujicoba penggunaan materi pendidikan damai di 8 sekolah di Maluku Utara, yang telah dikembangkan sebelumnya dengan bantuan dari UNESCO. ARTI juga membantu dalam peningkatan kapasitas dan pelatihan guru, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda pemerhati penyelesaian konflik dan pendidikan damai di Maluku. Departemen Pendidikan di kedua propinsi bekerjasama secara dekat dalam usaha ini.

• UNICEF juga mendanai pencetakan dan pengiriman material yang disponsori oleh UNESCO – berjudul “Membangun Budaya Damai dan Penyelesaian Konflik Tanpa Kekerasan” – di seluruh daerah. (5.800 eksemplar dari materi ini sedang didistribusikan ke sekolah – sekolah dan LSM yang bergerak dalam masalah pemuda).

Ketidakamanan akibat krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik yang berkepanjangan telah mengakitbatkan masalah-masalah berat bagi murid-murid dan guru-guru SMU di Indonesia. Oleh sebab itu, sejak tahun 2000 Kantor UNESCO di Jakarta telah menciptakan proyek pendidikan perdamaian di Jakarta dengan menyelenggarakan pertemuan-pertemuan kerjasama di antara para kepala sekolah, guru, orangtua, dan murid untuk memantapkan komitmen untuk mengembangkan dan melaksanakan pendidikan perdamaian.

Berdirinya Jaringan Proyek Asosiasi Sekolah di Indonesia dan proyek-proyek UNESCO tentang Pendidikan Perdamaian dan Hak Azazi Manusia telah mendorong peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang isyu-isyu Budaya Perdamaian dan Hak Azazi Manusia, toleransi, solidaritas, dan peran serta demokratis di antara murid, guru, dan orangtua melalui :


• Pemantapan pemahaman tentang Empat Landasan Pendidikan UNESCO : belajar untuk mengetahui, belajar untuk melaksanakan, belajar untuk menjadi, dan belajar untuk hidup bersama.

• Penyelenggaraan lokakarya pengembangan profesional guru-guru yang tergabung di bawah Jaringan Proyek Asosiasi Sekolah tentang pengikutsertaan Pendidikan Perdamaian dalam kurikulum.

• Produksi dan publikasi cerita-cerita murid tentang isyu-isyu perdamaian dan hak azazi manusia.

• Distribusi bahan-bahan belajar-mengajar tentang isyu-isyu budaya perdamaian (seperti perangkat bahan-bahan tentang hak azazi manusia) ke sekolah-sekolah (berdasarkan permintaan).

• Peningkatan kesadaran, keterlibatan dan jumlah sekolah yang menjadi anggota Jaringan Proyek Asosiasi Sekolah.

• Penciptaan lingkungan belajar yang mendukung dan damai untuk semua.

Closing
Dr. Ahmad Asy-Syarbashi (Dosen Universitas Al-Azhar, Cairo. Mesir)

Harapan:

1.
2.

Referensi:

1.
2.
3.
4.
5.

Hubungan Organisasi:

1. Pendidikan Damai UNICEF
http://www.pendidikan-damai.org/gid/index.php?go=home
2. IRM-MU (The Manbaul Ulum) SMAN 1 Banjar (http://irmmuinsmansaban.blogspot.com/)
3. FORSALIM SMAN 1 Banjar (www.forsalim.co.cc)
4. Perhimpunan Kekeluargaan ROHIS Se Jawa Barat & Banten
5. Aliansi Pendidikan E-Learning Daerah Sunda
6. MIT-Harvard University Open Course Ware
7. Fisika Bumi Siliwangi Innovation Research and Development Center


Acknowledgments:

1. Orang tua dan Guru-guru kami
2. Teman-teman tercinta seperjuangan, Special to SENEBIAN & FiBuSi Research Center
3. Bpk. Dadi Darmadi Ph.D. (Harvard University Department of Social Sciences)
4.Madyani Yogi Atmaja (MIT School of Computational Engineering & SITA)


Penulis:

Department of Physics Education Indonesia University of Education, Bandung Indonesia

and

Follower Open Course Ware at Massachusetts Institute of Technology (MIT)-Harvard University,

Cambridge M.A., USA.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar