Kamis, 09 Oktober 2008

Fathimah Az Zahra'



Fatimah Az-zahra’ (alaihassalam) di Mata Nabi SAW

Abdul Karim Pak-niya


Fatimah (as) adalah sosok nyata dari hakikat yang dibawa oleh Islam. Fatimah (as) dengan kepribadian, sifat dan perbuatannya mengenalkan kepada kaum perempuan khususnya akan ajaran Islam yang sebenarnya.

Salah satu masa yang terindah dan paling mengesankan bagi Nabi Muhammad SAW adalah tanggal 20 Jumada Tsani tahun ke-5 kenabian. Hari itu rumah kenabian bersuka cita menyambut kelahiran seorang bayi perempuan yang membuat hati Nabi SAW dan istri tercintanya, Khadijah al-Kubra berbunga-bunga. Kebahagiaan rumah kenabian lengkap sudah dengan kelahiran bayi yang diberi nama Fatimah ini.



Nabi SAW sangat menyayangi putrinya ini, sehingga beliau bersabda, “Fatimah adalah jiwaku, cahaya mataku dan buah hatiku. Dia adalah bidadari dalam bentuk manusia.” (1)



1320 tahun setelah kelahiran Fatimah (as) di sebuah kota kecil di Iran tengah, Khomein, lahir seorang bayi keturunan putri Nabi itu yang kelak akan menjadi pemimpin besar sebuah bangsa dan umat. Tekadnya yang bagai baja dan keberaniannya mengguncang hati semua musuh. Dia bernama Ruhullah al-Musavi al-Khomeini.



Di Iran, setelah kemenangan revolusi Islam, hari kelahiran Fatimah Az-Zahra diperingati sebagai hari perempuan dan hari ibu, untuk mengenang Fatimah (as), perempuan yang menjadi teladan bagi umat ini. Penamaan ini sekaligus upaya untuk mengajak bangsa ini meneladani Fatimah (as) dalam setiap langkah dan perilaku.



Fatimah (as) yang diberi gelar Kautsar (kebaikan yang berlimpah) dan Misykat (pelita) adalah sosok perempuan yang taat ibadah dan kehidupannya dipenuhi dengan cinta rabbani. Dia selalu melalui malam-malamnya dengan bermunajat dengan Sang Khaliq. Nabi SAW pernah bersabda bahwa cahaya Fatimah (as) telah diciptakan oleh Allah sebelum penciptaan langit dan bumi. Cahaya ini ditempatkan di bawah Arsy dan sibuk memuji dan bertasbih kepada Allah SWT. Lalu Nabi melanjutkan, “Setelah Allah menciptakanku, Dia memasukkan cahaya Fatimah ke dalam sebiji buah apel surgawi. Jibril suatu hari datang kepadaku dengan membawa buah apel itu dan berkata, “Wahai Muhammad! Ini adalah buah apel yang Allah berikan kepadamu dari surga.” Aku menerima buah apel itu dan meletakkannya di dada. Jibril lalu memerintahkan aku untuk memakannya. Ketika aku belah buah itu, muncul cahaya berkilau dan aku terkejut karenanya. Jibril berkata, “Makanlah dan jangan khawatir! Cahaya itu di surga dikenal dengan nama Mansurah dan di bumi dikenal dengan nama Fatimah.” Aku pun bertanya, “Wahai sahabatku Jibril! Mengapa ia disebut dengan nama itu?’ Jibril (as) menjawab, “Dia diberi nama Fatimah di bumi ini karena dialah yang akan membebaskan para pengikutnya dari api neraka. Di surga dia bernama Mansurah karena dia akan membela para pengikutnya di alam akhirat kelak. Inilah yang dimaksudkan oleh Firman Allah

و يومئذٍ يفرح المؤمنون بنصر اللّه ينصر من يشاء

“Pada hari itu orang-orang mukmin bergembira dengan pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendakiNya.” (2) (3)



Kelahiran Yang Penuh Berkah

Mengenai kelahiran Fatimah Az-Zahra’ (as) ada banyak riwayat yang lengkap dan beragam dalam kitab-kitab hadis dan sejarah. Dalam sebuah riwayat, Imam Ja’far Shadiq (as) berkata, “Ketika masa kelahiran Fatimah (as) sudah semakin dekat, Khadijah mengirimkan pesan kepada sejumlah perempuan Quresy untuk membantu membidani kelahiran anaknya. Namun mereka tidak memenuhi panggilan itu dan malah mengatakan, “Ketika menikah dengan Muhammad engkau tidak mendengar nasehat dan kata-kata kami. Karena itu di hari ini ketika engkau meminta bantuan, kami tidak akan memenuhi permintaanmu.”



Jawaban wanita-wanita Quresy itu menyedihkan hati Khadijah (as). Khadijah adalah wanita yang paling banyak berkorban membantu Nabi SAW dalam menyampaikan risalah kenabiannya. Karena itu Allah SWT tidak menyia-nyiakan amal kebaikan wanita mulia ini. Empat perempuan suci diutus Allah untuk membidani kelahiran putrinya. Khadijah al-Kubra terkejut menyaksikan keempat perempuan yang bercahaya itu berada di sisinya. Salah seorang dari mereka menenangkannya dan berkata, “Wahai Khadijah! Jangan takut dan heran! Kami diutus oleh Allah untuk membantu dan merawatmu. Aku adalah Sarah dan ini Asiah yang akan menemanimu di surga kelak. Dia, Maryam putri Imran dan dia adalah ibu seluruh manusia, Hawwa’.” (4)



Keempat perempuan suci itu membantu Khadijah sampai Fatimah lahir dengan selamat. Kelahiran putri Nabi ini ditandai dengan kilatan cahaya yang menerangi rumah itu. Dikisahkan bahwa cahaya itu menerangi rumah-rumah kota Mekah. Allah SWT lantas mengutus 10 bidadari dengan membawa sebuah bejana berisi air telaga Kautsar yang berada di surga. Mereka memandikan Fatimah dengan air itu lalu membungkusnya dengan kain putih yang berbau harum. Kata-kata pertama yang keluar dari mulut putri Nabi ini adalah kalimah tauhid dan kesaksian atas kenabian Muhammad SAW. (5)



Kecintaan Nabi SAW Kepada Fatimah (AS)



Kasih sayang dan kecintaan Nabi SAW kepada putrinya ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semua orang yang menyaksikan bagaimana Nabi SAW menyintai dan menghormati putrinya itu akan terheran-heran. Fatimah (as) adalah jelmaan dari pribadi Nabi SAW. Dia pelipur lara bagi utusan Allah ini. Fatimah adalah satu-satunya orang yang mengingatkan Nabi SAW akan istrinya yang setia yang telah membantunya segenap jiwa dalam menyampaikan risalah ilahi, Khadijah. Fatimah juga mengingatkan Nabi akan buah surga pemberian Allah yang beliau terima dari tangan Jibril.



Suatu kali, seseorang bertanya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah! Mengapa Anda sedemikian menyintai dan menghormati Fatimah lebih dari putri-putrimu yang lain?” Nabi SAW menjawab, “Benih Fatimah berasal dari makanan surga dan aku mencium aroma surga dari wujud Fatimah.” (6)



Aisyah, istri Nabi SAW, suatu hari pernah memprotes perlakuan istimewa Rasul SAW terhadap putrinya itu. Nabi SAW bersabda, “Wahai Aisyah! Ketika malam mi’raj Allah mengangkatku ke langit dan aku diizinkan masuk ke dalam surga, Jibril membawaku ke pohon Thuba dan aku memakan buahnya. Allah menciptakan Fatimah dari buah surga itu. Setiap kali aku menciumnya aku mencium aroma pohon Thuba di surga.” (7)



Rasul SAW bersabda,


يا فاطمة انّ اللّه تبارك و تعالى ليغضب لغضبك و يرضى لرضاك

“Wahai Fatimah! Allah SWT marah dengan marahmu dan ridho dengan ridhomu” (8)





Penghulu Perempuan Sejagat



Sejak mentari Islam menyinari alam ini dan menerangi ufuk kemanusiaan, agama ini menekankan soal hak-hak asasi manusia dan tidak mengenal perbedaan hak spiritual antara laki-laki dan perempuan. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan

من عمل صالحاً من ذكرٍ او انثي و هو مؤمنٌ فلنحييّنه حياةً طيّبةً و لنجزينّهم اجرهم باحسن ماكانوا يعملون

“Barang siapa beramal saleh, dari laki-laki atau perempuan, sedang dia mukmin maka Kami akan memberinya kehidupan yang baik dan akan Kami balas mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka perbuat.” (Q.S. Al-Nahl ayat 97)



Islam adalah agama yang membela hak-hak kaum perempuan dengan membebaskannya dari perbudakan kaum pria dan kehinaan yang selalu ditimpakan kepada mereka. Di zaman munculnya Islam, kaum perempuan dipandang bak barang dagangan yang diperjualbelikan. Islam menghapuskan anggapan seperti itu dan mendudukkan perempuan di tempatnya yang layak sebagai manusia.



Fatimah (as) adalah sosok nyata dari hakikat yang dibawa oleh Islam. Fatimah (as) dengan kepribadian, sifat dan perbuatannya mengenalkan kepada kaum perempuan khususnya akan ajaran Islam yang sebenarnya. Tak salah jika Nabi SAW menyebutnya sebagai penghulu wanita sejagat. Dalam hadis juga disebutkan bahwa Fatimah adalah penghulu kaum perempuan di surga.



Ada baiknya dalam kesempatan ini kami bawakan beberapa hadis dari Rasulullah SAW;

1- Salah seorang istri Nabi SAW berkata, “Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk, Fatimah datang dan mendekat ke ayahnya. Demi Allah, yang tidak ada tuhan kecuali Dia, aku melihat cara berjalan Fatimah sangat mirip dengan cara berjalan Rasulullah SAW. Ketika Rasul melihat Fatimah datang beliau menyambutnya dengan gembira seraya bersabda, “Tidakkah engkau rela jika di hari kiamat engkau dinobatkan sebagai penghulu perempuan sedunia?” (9)

2- Said bin Jubair meriwayatkan bahwa Abdullah bin Abbas berkata; Suatu hari Rasulullah SAW berbicara tentang keutamaan Ahlul Bait. Mendadak Fatimah datang. Beliau lalu bersabda, “Putriku Fatimah adalah penghulu wanita sejagat dari awal hingga akhir nanti. Dia adalah bagian dariku, cahaya mataku, buah hatiku, ruh dan jasadku yang meliputi seluruh wujudku. Fatimah adalah manusia dengan tabiat malaikat. Setiap kali ia masuk ke mihrab untuk beribadah dan melaksanakan shalat, ia memancarkan cahaya yang disaksikan oleh para malaikat di langit, seperti penduduk bumi yang menyaksikan cahaya bintang. Saat itulah Allah SWT yang maha Besar berfirman kepada para malaikat, ‘Wahai para malaikatKu! Lihatkan hambaKu Fatimah bagaimana dia bermunajat dan beribadah kepadaKu, dan bagaimana ketakutan dan kerinduan kepadaKu membuat seluruh tubuhnya bergetar dan dia beribadah kepadaKu dengan segenap jiwa. Saksikanlah bahwa Aku telah membebaskan para pengikutnya dari api neraka.” (10)

3- Ketika Fatimah (as) mendatangi ayahnya, Rasulullah SAW selalu menyambutnya dengan penuh penghormatan dan kasih sayang. Beliau pertama mencium tangan putrinya dan mendudukkannya di tempat beliau. Dan ketika Nabi SAW datang ke rumah Fatimah, sang putri dengan segala penghormatan menyambut ayahnya dan mencium tangan beliau. (11)

4- Abu Tsa’labah Al-Khasyni berkata: Nabi SAW setiap kali datang dari bepergian ke luar kota Madinah, rumah pertama yang beliau datangi adalah rumah Fatimah. Melihat ayahnya datang, Fatimah menyambut dan memeluknya lalu mencium di antara dua mata Nabi SAW. (12)



Fatimah di Hari Kiamat Kelak



Nabi SAW mengenai kedudukan Fatimah Azzahra (as) di hari kiamat bersabda demikian;

“Ketika hari kiamat tiba, putriku Fatimah akan datang ke padang mahsyar dengan mengendarai seekor unta surgawi yang ditutupi dengan kain sutra dan kendalinya terbuat dari untaian mutiara. Di atas unta itu dibuat atap berbentuk kubah yang terbuat dari cahaya. Luarnya bisa dilihat dari dalam dan dalamnya bisa disaksikan dari luar. Dalamnya adalah ampunan Allah dan luarnya adalah rahmatNya yang luas. Di atasnya terdapat mahkota dengan tujuh puluh kaki yang dihiasi dengan permata yang cahayanya bak bintang yang benderang. Di sebelah kanan Fatimah tujuh puluh ribu malaikat dan sebelah kirinya tujuh puluh ribu malaikat mengiringinya. Tali kekang kendaraan itu ada di tangan Jibril. Dengan suara yang lantang, Jibril menyerukan kepada semua orang di padang Mahsyar untuk menutup mata mereka, karena Fatimah Putri Muhammad akan melintas. Seluruh nabi, rasul, siddiq, dan syahid yang hadir di sana menutup mata mereka sampai Fatimah melintas dan berhenti di depan arasy ilahi. Dia lantas turun dari atas unta seorang diri dan bersimpuh di hadapan kekuasaan Allah seraya berkata, “Tuhanku dan Tuanku! Hakimilah antara aku dan orang-orang yang menzalimiku dan menzalimi anak-anakku!”



Allah SWT menjawab; “Wahai hamba yang Aku kasihi dan putri orang yang Aku kasihi, mintalah apa saja dan syafaatilah siapa saja. Demi kemuliaan dan keagunganKu, Aku akan memenuhi semua permintaanmu. Aku akan membalas semua kezaliman orang-orang zalim.”



Saat itulah Fatimah (as) berkata, “Tuhanku! Junjunganku! Keturunan dan pengikutku dan mereka yang menyintai keturunanku, selamatkanlah mereka.”



Tuhan pun menjawab, “Dimanakah keturunan, pengikut dan pencinta keturunan Fatimah?”



Mereka lalu datang mendengar seruan itu. Bersama mereka, Fatimah berjalan dengan diiringi para malaikat menuju ke surga. (13)



Catatan kaki:



1- Al-Fadhail halaman 8, Bisyaratul Mustafa halaman 197.

2- Q. S. Rum 4-5.

3- Ma’ani Al-Akhbar halaman 396, Bihar Al-Anwar jilid 43 halaman 4

4- Al-Kharaij wa Al-Jaraih Juz 2 halaman 525.

5- Amali Shaduq majlis 87 halaman 593.

6- Ilal Al-Syarai’ juz 1 halaman 183.

7- Tafsir Al-Ayasyi juz 2 halaman 212.

8- Dalail Al-Imamah halaman 52.

9- Amali Syiekh Al-Thusi halaman 333.

10- Irsyad Al-Qulub juz 2 halaman 295.

11- Amali Syiekh Al-Thusi halaman 400.

12- Al-Manaqib juz 3 halaman 332.

13- Amali Shaduq halaman 17, Al-Manaqib juz 3 halaman 327.


sumber :http://taghrib.ir/melayu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar