Rabu, 01 Oktober 2008

Cinta Ahlul Bait

Kecintaan kepada Allah swt merupakan dambaan bagi setiap pendamba hakiki, kecintaan ini merupakan motor penggerak yang akan menjadi pengobar semangat menuju oase kesempurnaan. Karena inilah upaya pencarian dan pemupukan cinta terhadap-Nya begitu berarti.

Perlu kami sampaikan disini bahwa apa yang akan kami sampaikan disini memang belum merupakan jawaban riil untuk menggapai cinta ilahi, namun dengan keterbatasan yang ada kami berusaha semaksimal mungkin untuk memapar yang telah kami pahami. Karenanya akan lebih lengkap kalau para pencari cinta sejati juga menambah referensi dari tulisan orang-orang yang sudah melewati dunia suluk irfani.

Ketika mendefinisikan cinta kepada yang Maha Sempurna maka pertama kita harus mengenali Allah itu sendiri dikatakan bahwa 'siapapun yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya". Siapakah manusia yang telah mencapai tingkatan pengenalan diri sebagaimana yang dimaksud diatas? Orang tersebut pastinya menjadi orang yang paling mengenal Tuhannya serta berkesempatan menjadi orang yang paling mencintai Tuhannya dan karenanya juga menjadi orang yang paling dicintai oleh Tuhan. Hal ini menjadi alasan bagi para pencari cinta sejati untuk mengenali sang pribadi besar Muhammad sang utusan terakhir.

Untuk memasuki shaf para pencinta sejati, Mau tidak mau kita harus bertegursapa dengan berbagai manifestasi kesempurnaan yang telah diciptakan Allah swt seperti diisyaratkan 'Berpikirlah tentang ciptaan-Ku jangan berpikir tentang Aku'. Kita pasti sepakat bahwa yang muncul pertama kali pada saat kita menjejarkan kesempurnaan dari semua makhluk, maka nama "Muhammad saw" sang manifestasi kesempurnaan dengan cepat merangsek memenuhi benak kita. Tidak ada yang menyangkal kenyataan ini. Sebab tingkatan kesempurnaan serta keutamaan yang telah menghiasi pribadi besar ini didapat dengan upaya yang manusiawi bukan suatu pemaksaan dari Allah swt. Nabi Muhammad dengan ikhtiar yang beliau miliki mampu menempatkan diri sebagai pemilih berbagai kemuliaan. Dimana disisi lain pribadi ini juga memiliki potensi untuk melanggar perintah Allah. Digambarkan dalam quran "ana basyarun mitslukum" aku (nabi muhammad )adalah manusia seperti kamu. Nabi memiliki hawa nafsu. Beliau butuh dengan makanan, oksigen serta berbagai kebutuhan manusiawi yang lain. Namun Nabi tidak tergantung dengan semua kebutuhan itu. Beliau merdeka sebagai pemilik tubuh serta berbagai kemestian makhluk material. Beliau bukan penyembah makanan sehingga harus mengikuti semua yang diinginkan oleh nafsu makannya. Bukan penyembah hawa nafsu sehingga harus memenuhi semua desakan nafsu yang ada pada diri beliau.
Penguasaan yang sempurna terhadap diri ini menjadikan beliau melesat keatas melebihi tingkatan para malaikat, lebih tinggi dari malaikat yang paling dekat dengan Allah swt.

Bagaimana cara kita untuk mencintai orang yang paling dicintai Allah ini. Pertama kita harus mengenali beliau dengan baik. Kedua kita juga harus mengenali orang yang beliau cintai. Sungguh sangat menyedihkan memang. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa dari kita yang tidak mengenali sekedar nama dari keluarga nabi. Bagaimana kita bisa mencintai nabi sedang kita kurang begitu peduli pada nabi. Sudah semestinya kita mengenali nabi juga orang-orang yang beliau cintai.

Cinta kepada Ahlulbayt as adalah cinta kepada Nabi saw Cinta kita kepada Keluarga Nabi saw (Ahlulbayt as)adalah cinta kita kepada Nabi saw itu sendiri, tanpa kecintaan kita kepada Ahlulbayt as maka kecintaan kita kepada Nabi saw tidak terhitung sebagai cinta, jika kecintaan kita kepada Nabi saw tidak ada maka mustahil kita bisa mencintai Allah swt, karena Nabi saw adalah orang yang paling Allah swt cintai dan kecintaan kepadanya adalah kewajiban bagi kita dari sisiNya. Karena Ahlulbayt adalah dari Nabi saw dan Nabi saw dari Ahlulbayt as maka kecintaan kepada Ahlulbayt adalah kewajiban dari kita. Cinta kepada Ahlulabyt as adalah keridhaan Allah swt. Nabi saw adalah orang yang paling Allah swt cintai, dan Allah swt wajibkan bagi para makhluknya untuk mencintainya, dan Allah swt tekankan bahwa kecintaan kepadanya tidak akan sempurna tanpa kecintaan kepada keluarganya(Ahlulbaytnya as). (Surat al-Syura ayat 23) Nabi saw bersabda: sesungguhnya Allah swt telah menciptakan para Nabi as dari pohon-pohon yang berbeda-beda dan menciptakanku dari pohon yang satu dan aku adalah aslinya/akarnya/pankalnya, Ali adalah batangnya, Fatimah adalah bunganya, Hasan dan Husain adalah buahnya, maka siapa yang bergantung di salah satu ranting dari ranting-rantingnya maka akan selamat dan siapa yang menyimpang darinya maka akan jatuh dan celaka, walaupun telah beribadah antara shofa dan marwa selama seribu tahun kemudian seribu tahun lagi kemudian seribu tahun lagi kemudian tidak memahami perkataan kami maka Allah swt akan memasukkannya kedalam neraka kemudian Nabi saw membaca ayat: surat as-Syura ayat 23. hadis ini terdapat di kitab-kitab sunni(ahlu sunnah) seperti di Tarikh Demasyq 12/143 , di kitab syawahid al-Tanzil(2/203 hadis837) dan di kitab Kifayah al-Thalib:178(h318 bab87). Nabi saw tidak meminta dari kita sesuatu apapun atas dakwahnya kecuali kecintaan kepada Ahlulbaytnya as, apakah kecintaan ini akan menguntungkan nabi? Tidak, sama sekali tidak. Kecintaan ini hanya menguntungkan kita orang yang mau menuruti nasihat manusia agung ini. Siapapun yang merindukan keuntungan ini pasti akan mati-matian mencari anugrah cinta pada nabi dan ahlul baitnya. Para pecinta Allah pasti mencintai para kekasihNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar