Kamis, 30 Oktober 2008

Semua Butuh Waktu

Malam kemarin (30/10/2008) saya mendapatkan sebuah pengalaman menarik dari putri saya Azkia (6 tahun). Sejak saya memutuskan untuk mulai mengajari dan mengajaknya sholat lima waktu, perjalanan ternyata tak semulus yang diharapkan. Ya, kadang masih zig-zag. Adakalanya ia melakukan shalat tapi wajahnya sedikit keruh, namun sering juga sholat dilakukan dengan wajah yang riang.

Saya sudah siap dengan semua itu, karena dalam banyak kebiasaan lainnya, sejak ia bayi sampai sekarang nyatanya saya menemukan satu prinsip yang sama, yaitu: Menanamkan Kebiasaan Membutuhkan Waktu. Jadi, saya hanya perlu menahan diri untuk tidak cepat menyerah. Tugas saya adalah tetap konsisten mengajaknya sampai ia terbiasa, sampai ia menganggap kebiasaan tersebut sebagai kebutuhan dalam hidupnya, meski saya juga tidak tahu kapan itu terjadi.

Sekitar seminggu sebelumnya Azkia pernah bertanya pada papanya, "Kenapa ya Pa, kakak suka malas untuk sholat?" Lantas papanya berkata, "Karena di dalam diri kita ada syaitan yang selalu membisiki hati agar kita malas." Dan seterusnya, terjadilah dialog pendek tentang apa itu syaitan, bahwa syaitan itu adalah musuh manusia yang tidak terlihat oleh mata,dan sebagainya.

Kembali ke peristiwa malam kemarin, saat Shalat Maghrib tiba, Azkia yang sudah tiduran di kasur sejak sore terlihat malas-malasan lagi ketika saya mengajaknya sholat. Mmmm.... saya tahu, memaksa bukanlah cara yang tepat. Jadi, akhirnya saya bilang, "Kakak ngantuk ya? Nggak mau sholat?" Dan ia pun mengangguk. "Ya sudah. Nggak apa-apa, tapi besok sholat lagi ya!".

Tapi beberapa saat kemudian, ketika saya turun dari tempat tidur untuk mengambil air wudhu, Azkia juga ikut turun. Saya tanya, "Mau ke mana?". Dia pun menunjuk ke kamar mandi. "Mau wudhu?", tanya saya. Ia pun mengangguk. Saya dan papanya tertawa, dan papanya bilang, "Kakak sudah bisa melawan musuh. Ya, kan?".

Pelajaran malam tadi membuat saya semakin yakin, bahwa anak-anak hanya perlu waktu untuk memiliki kebiasaan yang kita harapkan. Dan menjadi orang tua memang membutuhkan cadangan kesabaran yang lebih dari sekedar biasanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar