Jumat, 25 April 2008

Bagaimana Seharusnya Wanita dipandang?

Peran Wanita Dalam Pendidikan

Sebagaimana kita ketahui wanita dalam pandangan masyarakat berubah-ubah sesuai perkembangan zaman dan keilmuan dan pengetahuan masyarakat. Pada awalnya wanita hanya dipandang sebelah mata. Dinilai tidak lebih dari sebuah barang yang bisa dijual dibuang dan dihinakan atau hanya dinilai sebagai alat pemuas nafsu saja. Dizaman ini tanda-tanda yang mengisyaratkan penilai rendahan martabat kewanitaan wanita telah ada. Pengadaan dan pelegalan lokalisasi diberbagai kawasan oleh pemerintah atau dalam sekup kecil Dalam kiprah kehidupan rumah tangga misalnya istri dianggap sekadar pemasak makanan, pencuci pakaian, pengasuh anak, dan semacamnya dengan maksud menilai rendah semua peranan itu. Ketika ada suami menilai semacam ini terus apa bedanya dengan pembantu? Dan sangat perlu disayangkan karena dengan anggapan yang salah serta kondisi fisik yang lemah istri ini pula terjadi penganiayaan terhadap para istri.

Pandangan Islam Terhadap Wanita

Kedatangan agama islam dengan begitu tegas mengangkat kodrat wanita menjadi begitu mulia, islamlah yang memanusiakan kewanitaan wanita, Sebagaimana pengangkatan kemanusiaan seluruh manusia. Adanya konsep kewajiban menghormati seorang istri bagi para suami serta penghapusan perbudakan dan semacamnya merupakan bagian dari perhatian besar yang mengisyaratkan akan hal ini. Semua ditempatkan sesuai posisi dan peran masing-masing sebagaimana kompetensi yang dimiliki masing-masing mereka.

Sekarang seperti apakah peran khusus dari wanita itu? Bagaimanakah tantangan zaman yang harus dihadapi, Serta kebutuhan apakah yang harus dipenuhi sehingga wanita bisa memerankan peranannya dengan lentik dan anggun?


Wanita Sebagai Pendidik Anak Sebuah Peranan Yang Tidak Bisa Diremehkan

Allah menciptakan manusia berpasang pasangan. Laki-laki memiliki peranan khusus didalamnya begitu juga wanita. Dimana peran itu Secara fitrah itu tidak bisa ditukar satu dengan yang lain. Andai pun bisa tetap saja akan terdapat kepincangan didalam pelaksanaannya atau ketika bisa dan lues hal itu dipandang sebagai tidak umum. Kemampuan wanita yang begitu khas sebagai seorang pendidik melekat erat dalam kepribadiannya. Wanitalah yang mampu memadukan antara kelembutan dan ketegasan, meramu sebuah rumus untuk membuahkan nilai cinta dan patuh dalam kebaikan dan kebenaran pada anak yang diasuh. Dua unsur yang sangat sulit untuk dipadukan.

Dalam sebuah pendidikan, terdidiknya anak didik akan tercapai ketika sarana dan prasarana tersedia serta pengelola dan pelaksana pendidikan memahami pola pendidikan secara baik.

Pendidikan sebagai sebuah sarana membutuhkan persiapan-persiapan mendasar. Pada pendidikan anak. Pendidikan untuk anak kecintaan memerlukan keahlian khusus. Sifat kemanjaan, kenakalan, kekanakan tidak bisa hanya bisa disikapi dengan kasih sayang atau kekerasan semata. Kecerdasan seeorang ibu memainkan peran yang penting disini. Disamping kesabaran, ketegaran, seorang ibu dituntut lincah dan bijak dalam mensikapi prilaku sang anak. Kesalahan dalam memberi perlakuan serta kurangnya kerja sama suami dengan istri tidak jarang akan membawa kesengsaraan bagi masa depan sang anak. Kemampuan khusus wanita Inilah salah satu alasan mengapa wanita--istri-- harus dihormati.

Dasar Pemikiran Pengkajian

Berangkat dari pemikiran bahwa terbentuknya para calon pemimpin sulit diharapkan dari lembaga yang telah ada dengan dasar lembaga pendidikan itu kini kurang maksimal dalam menjalankan peranannya serta adanya indikasi bahwa proses pendidikan dinegara kita itu tidak lagi bertujuan demi mencerdaskan anak didik. Tapi ditujukan untuk mencetak para "yes sir" maka perlu dicari pemecahan lain menanggapi fenomena ini.

Adanya iklan Dengan terang-terangan diketengahkan dimasyarakat bahwa pendidikan itu untuk mencari pekerjaan mejadi gambaran jelas akan hal ini. Dari sini terjadilah fenomena,dikarenakan lapangan pekerjaan tidak ada atau tidak sesuai dengan program yang diambil serta semakin gencarnya persaingan dari para pencari kerja yang ada maka anak didik tidak mau bekerja. Hanya menunggu dan menunggu menjadi pengangguran dan dikarenakan kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi maka tidak jarang yang menjadi penyakit dimasyarakat.

Perlu ditekankan kiranya bahwa Bekerja adalah sebuah kegiatan untuk menggapai suatu tujuan bukan tujuan itu sendiri.

Anak didik semestinya dibentuk pemikiran mereka bahwa ada tujuan yang lebih penting dari bersekolah(belajar)dari sekedar mencari pekerjaan. Tujuan belajar adalah untuk mendapatkan kecerdasan dan dari situ bisa menjadi orang-orang yang baik dan bijak. Orang yang cerdas dan dapat kesempatan bekerja di pemerintahan namun tujuannya bukan untuk jadi orang baik maka akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeruk keuntungan pribadi semata. Hak orang lain juga akan dimasukkan kedalam kantongnya.
Gambaran konkret dari apa yang terjadi dinegara kita adalah pada saat ujian pegawai negri. Kita bisa melihat disitu betapa besar minat masyarakat untuk bergabung menjadi pegawai yang dibayar dengan uang rakyat. Kebanyakan menginginkan pekerjaan itu dengan alasan nanti gaji yang didapat lebih lancar, gajinya tetap. (Jadi mau bekerja sungguh-sungguh atau main-main gaji tetap sama ini pendapat saya). Mengapa saya menilai seperti itu? Sebagai salah seorang pelajar saya juga hidup dilingkungan akademisi. Tidak jarang saya lihat orang-orang yang setiap bulan mengambil uang jatah milik rakyat itu menghabiskan waktu waktu mereka untuk sekedar duduk-duduk ngobrol baca koran atau majalah, atau berkewajiban mengajar tapi tugas itu engan mudah dilempar pada asisten sementara dia sendiri hanya bersantai-antai aja. bukankah jam kerja mereka hanya 8 jam sehari.


Orang yang memakan uang negara semestinya lebih berhati-hati karena tuntutan tanggung jawab mereka jauh lebih besar dibandingkan masyarakat biasa. Bukankah pada saat mendaftarkan diri sebagai pegawai berarti harus siap menerima resiko sebagai penerima dan pelaksana perintah atasan? Sangat disayangkan jika sekolah yang semestinya menjadi tempat untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa diubah menjadi pabrik penghasil pekerja yang siap berkata "yes sir" semata. Sekolah harus mejadi tempat untuk mencerdaskan anak didik. Cerdas dari segi lahir atau batin(orang yang cerdas itu pandai dan karena kepandaiannya dia menjadi orang baik). Jiwa orang yang cerdas ini akan siap dengan berbagai kemungkinan yang akan dihadapinya. Walau belajar di bidang pangan tapi ketika sarana untuk mempraktekkannya tidak mencukupi maka tidak menjadi diam dan mogok kerja. Tapi tetap berdiri melakukan apa yang masih bisa dilakukan. Kurangnya perhatian terhadap pendidikan dilihat dari anggaran yang begitu minim untuk masalah pendidikan menuntut masyarakat untuk mengambil langkah inisiatif dalam rangka meyelamatkan masa depan anak didik. Para generasi penerus

Langkah praktis pertama adalah membenahi susunan konsep pengaturan rumah sebagai tempat belajar pertama bagi anak. Setiap rumah harus dirubah sebagai sebuah miniatur madrasah. Pengaturan dan pengelolaan didalamnya harus benar-benar diperhatikan. Memang disini juga akan ditemui rintangan rintangan lain namun kerjasama yang apik dari pasangan suami istri sudah cukup menanggulangi permasalahan yang ada. Pendidikan yang benar dalam keluarga menjadi filter bagi anak didik ketika mereka mulai terjun kemasyarakat.


Sebagaimana kami singgung diatas bahwa pemain utama dalam proses pendidikan adalah seorang wanita yaitu para ibu disini jelas bahwa perlakuan suami yang bijak pada istrinya akan berujung pada ketidakmaksimalan pendidikan yang diterima si anak. Dalam fikih kita tahu bahwa kewajiban seorang wanita secara pribadi sangatlah banyak. Terkait masalah ini kita bisa membuka kajian-kajian yang membahas masalah haid, istihadzah, nifas, dan sejenisnya. Disitu terlihat jelas betapa besar tanggung jawab yang harus dipikul para wanita. Disamping peranannya sebagai sang pendidik utama untuk anak. Belum lagi pada saat anak sakit. Para ibu itu rela semalaman berjaga menunggu kalau-kalau ada sesuatu yang dibutuhkan anaknya. Apakah alasan untuk menghargai seorang istri masih kurang?
Ada sebuah kalimat yang menarik dari tulisan guru besar Muthahari arti bahwa wanita harus atau wajib berjilbab. Bukankah Jilbab wajib dipakai bila keluar rumah artinya wajib jilbab berarti "wajib" keluar rumah dan wajib beraktivitas untuk memaksimalkan potensi kemanusiaanya. Muthahari-hak-hak wanita dalam islam. Dari sini kita tahu bahwa wanita dituntut menunjukkan eksistensinya sebagai wanita dalam menggapai nilai kemanusiaan tertinggi. Wanita dengan berbagai tangungan seperti ini masih juga dipinggirkan atau diremehkan apakah pelaku peremehan itu bisa kita sebut sebagai orang yang berakal?


--Suami yang mulia adalah suami yang bisa memuliakan istrinya--
25-4-08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar