Jumat, 25 April 2008

Lirih hidup terekam sebagai wajah keaslian.

Sudah lama bergerak namun sayang, gemulai ayu terlena lentur semringah kebahagiaan semu.

Singgasana derang ditahtakan dipelupuk. Mengubur helai indah manifestasi, Meng-enyah jubah gemerlap maknawi hiasan hati. Disegenap sajak-sajak hidup.

Mortir keangkuhan membahana sebagai eleksir yang tak mungkin terganti. Dalam ratap rerintihan yang mengiris para pemilik hati. Tak mungkin Diam dan hanya sunyi

Tatapan sayu kelelahan tersayat kesedihan nyata mata wanita dan bayi-bayi nirdaya tak digubris

Membabat habis kemanusiaan

Menjungkal segala keutuhan keadilan

Mereka....

Manusia, manusia.... Tidak lagi bisa dinisbat dengannya.

Masyarakat itu

Termakan sudah kebebasan serta kemerdekaan mereka.
Digarong para lalim yang terikat dengan rantai-rantai kecintaan kesenangan diri, keangkuhan. Tak lagi manusia, hewan atau lebih hina dari itu.

Mata semesti sembab
Langkah diurai senyata-nyata Diantara kesibukan hati mendengar jerit masyarakat Palestin, libanon, Irak dan negara madzlum yang dicengkram kolonialisme, Imperialisme berwajah baru

Penjajahan dalam kain modernitas demokrasi menjejali dan merenggut kehidupan mereka. Tak lagi sempat untuk merana. Tiada berdaya tanpa ulur tangan para bijak.

Yang bijak

Berfikir untuk raihan terbaik

Bersatu segera bersatu.

Sesuai teguran fitrah yang jujur.

Bersatulah jawaban

Bagi para pemikir

Kini bukan gelaran masa lagi untuk mencekcok perbedaan. Karena semua itu hanya menyenangkan para setan yang terus menginginkan perceraiberaian persaudaraan kita.

Jujur kita tidak suka dengan perpecahan

Sungguh benar kata si bijak

"Kalau setiap umat islam menuangkan segelas air ke negara israel (Simbul kekuatan yang disewenang)itu. Sungguh dia(yang mengaku sebagai negara itu) akan tenggelam"
Kan musna tak lagi mengiris hati

23-4-08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar