Jumat, 18 April 2008

Kebangkitan Pendidikan

Salah satu kebijakan yang diambil oleh imam khomeini qs setelah kemenangan revolusi islam iran adalah perbaikan kualitas SDM. Keberadaan para penjajah yang membungkus diri dengan seprei modernitas meninggalkan jejak kebobrokan dan kebodohan masyarakat. Para perampok yang sering berkedok kertas demokrasi berpena hak asasi manusia itu berhasil memeratakan kemiskinan dan kesenjangan sosial.Slogan penipuan dengan mudah diumbar ditengah masyarakat. Kondisi sebelum pecahnya revolusi yang di prakarsai ruhaniawan serta ahli politik dari kota khomein ini sangat menyedihkan. Dampak pembodohan, penipuan serta kamuflase berencana tersebut memaksa tindakan amoral ataupun asusila membudaya dan berkembang dengan cepat ditengah masyarakat. Mereka sengaja atau tidak sering dipaksa menerima sampah getir setelah mineral dan madunya dihisap pemerintah yang berkiblat pada barat dan eropa tersebut. Melihat kenyataan semacam itu tindakan pembenahan masyarakat merupakan manuver terapis bagi kemajuan dan kbangkitan bangsa. Pemikiran cemerlang ini begitu tajam dan dalam menusuk hati masyarakat untuk maju dan membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan.

Masyarakat dibuka pandangan mereka akan pentingnya pendidikan dan lazimnya konsep pembentukan negara islam iran sebagai sebuah madrasah. Jadi semua element masyarakat diajak dan dituntut bersama saling menyokong untuk menjadi pengajar atau siap belajar. Beberapa kebijakan yang lain juga diarahkan membahu mendukung proyek besar ini. Gerakan pembangunan jalan dan sarana transportasi ataupun komunikasi ataupun prasarana yang lain dengan gencar digalakkan. Sehingga mempermudah pelaksanaan proyek pembangunan masyarakat ini. Semangat ini berulang disampaikan kepada masyarakat sebab ujung bidik dari semua upaya itu tidak lain adalah kembali bagi kesejahteraan masyarakat. Hal-hal terkait kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas utama. Perhatian ini menjadi tonggak pengukuh kecintaan masyarakat terhadap bangsa.

Selain pendidikan demi pemberantasan buta huruf penuasan para mahasiswa serta para pelajar agama(thalabeh) ke daerah terpencil juga ditujukan untuk membina ruhani mereka. Sebagaimana kita tahu bahwa kecerdasan fikiran tanpa imbangan kecerdasan ruhani akan timpang.

Sebuah metode pendidikan meneruskan konsep dari revolusioner abad 19 inipun dibentuk. Salah satunya berupa pendidikan akselerasi. Para pelajar setahun sekali diajak napak tilas jejak para pejuang perang. Bekas serta sisa peperagan dijaga sedemikian rupa. Para calon penerus bangsa ini diingatkan dengan kesulitan dan jerih para pendahulu mereka. Mereka dididik untuk mensyukuri semua itu dengan menorehkan karya demi meneruskan pembangunan. Perjuangan dalam torehan karya yang menakjubkan dapat dilihat sejarah perjalanan bangsa yang baru lepas dari perang 30 tahunan ini. Baik dalam ilmu biologi, kimia, fisika,teknologi dan bidang yang lain tak bisa dipandang sebelah mata.

Kecerdasan masyarakat memang harus dijadikan sebagai suatu prioritas utama. Masyarakat cerdas tidak mau menerima konsep perbudakandalam bentuk apapun. Dikatakan masuknya orang-orang israel ke palestina pada awalnya dengan membeli tanah milik warga sipil. Lama kelamaan tidak lagi membeli tanah warga tapi mengklaim bahwa daerah tersebut adalah negara mereka. Pengusiran dan pembantaian anak-anak bahkan wanita lemah pun dilakukan. Menyadari ini Masyarakat iran dilarang menjual tanah mereka kepada orang asing.
Sebagaimana kita tahu ketika secara fikih sesuatu yang sudah dibeli maka itu sudah menjadi hak pembeli dan orang lain bahkan negara tidak bisa turut campur.

Apakah yang terjadi di negara para mullah sebelum revolusi juga terjadi di negara kita? Bila terjadi bukankah harus ada pembenahan mendasar. Siapakah yang mampu melakukan semua jihad pembangunan masyarakat ini? Pelaku yang dituntut disini adalah kita. Kitalah yang dituntuk untuk membangun diri dan membangun masyarakat. Karena kita adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.

Segi keilmuan dinegeri kita cukup dibilang maju. Sebenarnya pendidikan itu sudah bisa menjadi filter. Adaya pelajaran matematika misalnya, seharusnya menjadi penjera untuk bermain judi. Tapi togel atau bentuk judi-judi yang lain mengakar kuat di nadi masyarakat. Bukankah dengan matematika dapat dipahami bahwa judi adalah mengambil kemungkinan dari 1 per 10, per 100, per 1000 kemungkinan atau bahkan lebih dari itu. Dengan matematika maka manusia akan berpikir seribu kali untuk berjudi. Tapi mengapa hal itu terjadi di negara kita? Apakah ilmu matematika yang salah muridnya yang salah atau gurunya? Beberapa waktu yang lalu ada pihak yang mengajukan pelarangan judi namun ditolak mentah-mentah dengan alasan itu adalah alasan islam. Kenapa yang dijadikan perhatian malah sisi pembeda seperti ini. Tidak mendahulukan hal-hal yang baik bagi kemajuan masyarakat.

Bukan maksud kami untuk menyalahkan tapi kami hanya ingin menyampikan bahwa ilmu yang benar tapi karena penyampaian yang keliru maka tidak akan sampai pada tujuan. Ilmu tidak akan terpakai sebagaimana mestinya. Ini hanya sekedar pandangan sempit kami. Satu haraan yang ada di benak kami, pendidikan di negara kita maju sebagaimana beberapa kurun yang lalu lebih dari itu dengan pendidikan masyarakat cerdas dan maju dan pada akhirnya bangsa menjadi bangsa yang kuat tidak lagi tunduk pada negara lain walau hanya sembunyi. Negara kita menjadi merdeka dengan semua keharusan yang mesti melekat didalamnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar