Rabu, 29 April 2009

Mendedah Jejak Tuhan

Cerita Sampainya Aku di Negeri Para Mullah.

Awalnya pada tahun 1998 aku bergabung diekstra kurikuler agama. Disaat itu isi kepalaku bisa dibilang masih original tapi dengan pertanyaan yang datang bertubi-tubi dari tempat pengkajian akhirnya aku sadar bahwa aku tidak boleh membiarkan keoriginalan pemikiranku berlarut-larut.
Dari situlah kumengenal pentingnya mengenal Tuhan, atau lebih tepatnya mengenal agama. Hal itu menjadikan jelas langkah hidup. Aku menjadi paham Bahwa pendekatan ketuhanan sangatlah penting untuk dimiliki terutama untuk aku pribadi.

Seiring berjalannya waktu langkah pengenalan "wajah" Tuhan pun tak pernah aku hentikan. Semakin melangkah kaki, semakin kuat keinginan untuk mengenal Tuhan. Dari semua perjalan dari lembaga pesantren ke lembaga pendidikan formal atau nonformal lainya Akhirnya pada tahun 2007 Tuhan mengijinkan aku berselancar di negara para ulama, negeri persia, Iran.

Selangkah dari ketertinggalan dan rasa haus akan kebenaran semakin membuncah menjejal tanpa ampun setiap waktuku hingga saat ini. Dari buku-buku yang ada pemikiranku tentang Tuhan dan berbagai hal yang berkaitan semakin jelas dan mantap walau memang penelaahan belum berakhir. selamat berdendang dalam tulisan aku...semoga ada manfaat

Membuktikan Keberadaan Tuhan

Pembahasan pertama yang harus terpecahkan adalah pembuktian apakah Tuhan itu benar-benar ada, sehingga jelas perlu dibahas atau tidak.

Secara garis besar sesuatu dibedakan dengan materi dan nonmateri. Materi adalah segala sesuatu yang bisa diketahui atau dikenali dengan panca indra baik penciuman, pendengaran, pencecapan dan seterusnya. Nonmateri adalah segala sesuatu yang dikenali tidak dengan panca indra tapi dengan aqal.

Tuhan bukanlah materi jadi pengenalan ada tidaknya Tuhan dilakukan dengan aqal pikiran bukan dengan panca indra.

Pengenalan ada tidaknya Tuhan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Internal yaitu memahami yang secara fitrah telah bersama kita atau telah kita miliki sejak lahir. Jadi sesuatu itu telah kita pahami tanpa harus belajar terlebih dulu. Diantaranya:

1. Kecintaan pada kesempurnaan.
Tanpa bisa disangkal semua manusia pasti memilih yang paling sempurna disaat masih memungkinkan. Ketika disuruh memilih diantara pemilik ilmu maka yang dia pilih pasti yang paling berilmu. Ketika disuruh memilih diantara yang pemilik kekayaan maka akan dipilih yang paling kaya. Begitu pula ketika manusia disuguhkan pilihan untuk disembah pasti yang dia nilai paling sempurnalah yang bakal disembah. Dan sesuatu yang sempurna dalam segala dimensi keberadaannya itulah yang disebut sebagai Tuhan. Jadi Tuhan adalah pilihan terbaik karena Tuhanlah yang paling sempurna dalam segala seginya.

2. Rasa Ingin Berterimakasih.
Semua manusia normal dikedalaman hatinya ketika ditolong atau diberi sesuatu yang ia butuhkan pasti ingin berterimakasih, bahkan berniat ingin membalas kebaikan penolongnya itu diesok kelak. Pada kenyataannya manusia disetiap detiknya selalu diberi oleh sang penolong. Manusia butuh oksigen, air, makanan, keindahan, keamanan begitu juga semua kebutuhan yang lain dicukupi oleh sang penolong. Jadi sangat logis ketika manusia berterima kasih pada sang penolong tersebut. Terlepas siapakah penolong itu, manusia ingin bisa berterimakasih pada penolongnya semaksimal mungkin. Manusia tidak akan pernah mampu menghitung jumlah bantuan yang telah ia terima. Sebagai misal nikmat bernafas, masing-masing manusia tidak bisa mengitung jumlah oksigen yang telah ia pakai secara detail. Begitu juga untuk nikmat-nikmat yang lain. Manusia tidak mampu menghitungnya apalagi mensyukurinya, berterimakasih karenanya. Sang penolong yang sekaligus menunjukkan secara tidak langsung bahwa dia adalah zat yang tidak dan tidak akan pernah terbatas. Bahwa dia adalah penolong yang paling utama. Penolong itulah yang dinamakan dengan Tuhan. Jadi manusia sejatinya ingin berterimakasih pada Tuhan sebagai penolong mutlaknya.

3. Dalil Sebab Akibat(kausalitas). Akibat adalah sesuatu yang pernah tidak ada, pernah mengalami proses perubahan dari tiada menjadi ada, dan mengalami perkembangan.
Segala keberadaan atau ciptaan adalah akibat, semua akibat ada karena adanya suatu sebab. Sebab butuh pada sebab yang lain. Tapi ketika
semua sebab butuh pada sebab lain maka tidak akan pernah ada suatu ciptaan, jadi semua sebab harus berhenti pada suatu sebab yang tidak butuh pada sebab lain. Sebab yang tidak butuh pada sebab lain itulah yang disebut sebagai Tuhan. Karena jika masih butuh pada sebab lain berarti belum sempurna. Dan Tuhan adalah zat yang merupakan tempat berkumpulnya kepemilikan sifat kesempurnaan. Jadi Ketika ada suatu ciptaan hal itu menunjukkan adanya Tuhan.

4. Dalil kemungkinan.
Semua perwujudan atau keberadaan dibagi menjadi tiga yaitu : Wajib ada, mungkin untuk ada, dan mustahil ada.

Wajib ada adalah wujud yang menjadi sebab dari segala sebab. Ketika yang wajib ada ini tidak ada maka yang lain juga tidak mungkin ada. Wujud wajib ada ini kita sebut sebagai Tuhan.

Mumkinul wujud atau mungkin ada adalah wujud yang boleh ada dan boleh juga tidak ada. Seperti semua ciptaan yang mampu kita kenali dengan panca indera kita.

Mustahil ada adalah sesuatu yang tidak mungkin ada seperti menjadi satunya arah barat dan timur, antara baik dan buruk, antara menjadi pencipta bagi wujudnya sendiri dan semacamnya.

Dari dalil kemungkinan ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa
ada Tuhan, ada makhluk atau ciptaan dan ada sesuatu yang mustahil ada. Setelah kita buktikan bahwa Tuhan itu ada selanjutnya kita buktikan apakah Tuhan itu satu atau lebih dari satu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar