Senin, 13 April 2009

Mengatasi Siswa Berkesulitan Belajar dengan Senam Otak

Mengatasi Siswa Berkesulitan Belajar

dengan Senam Otak

Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai dengan hambatan-hambatan tertentu, dalam mencapai tujuan belajar. Kondisi ini ditandai kesulitan dalam tugas-tugas akademik, baik disebabkan oleh problem-problem neurologis, maupun sebab-sebab psikologis lain, sehingga prestasi belajarnya rendah, tidak sesuai dengan potensi dan usaha yang dilakukan. Allan O. Ross, mengemukakan “a learning dificulty represent a discrepancy between a child’s estimated academis potential and actual level of academic performance”. The Nasional Joint Committee Learning Disabilities (NJCLD), mendefinisikan kesulitan belajar sebagai sekelompok kesulitan yang dimanifiestasikan dalam bentuk kesulitan nyata; dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan, untuk mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, berhitung, berbahasa, sampai kepada kemampuan persepsi motorik. Gangguan tersebut diduga, disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat.

The Board of Association for Children and Adulth with Learning Disabilities (ACALD), berpendapat kesulitan belajar lebih merupakan suatu kondisi kronis, diduga bersumber dari aspek-aspek neurologis, yang secara selektif mengganggu proses perkembangan, integrasi, serta kemampuan verbal dan performance. Jadi, kesulitan belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifiestasi tingkah laku (bio-psikososial) baik secara langsung atau tidak, bersifat permanen dan berpotensi menghambat berbagai tahap belajar siswa. Secara umum kesulitan belajar mempunyai pengertian yang luas dan terjabarkan dalam istilah-istilah, seperti: (a) learning disorder (ketergantungan belajar); (b) learning disabelities (ketidakmampuan belajar); (c) learning disfunction (ketidak_fungsian belajar); (d) under achiever (pencapaian randah); dan (e) slow learner (lambat belajar). Gejala-gejal tersebut, akan nampak dalam aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, baik dalam proses maupun hasil belajar yang hendak dicapai.

Perlu diketahui, tidak semua siswa yang mengalami kesulitan dalam proses belajar dapat disebut learning disorder atau learning disabelities. Ada sebagian siswa, mungkin hanya mengalami kesulitan dalam mengembangkan bakatnya dan memperlihatkan ketidakwajaran dalam perkembangan alaminya. Sehingga, tampak seperti penderita berkesulitan belajar, namun ternyata hanyalah keterlambatan dalam proses pendewasaan diri. Para ahli telah menentukan kriteria-kriteria pasti, dimana siswa dapat dinyatakan sebagai penderita kesulitan belajar. Kriteria tersebut, tertuang dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder). Diagnosis yang didasarkan pada DSM umumnya dilakukan ketika individu mengajukan perlindungan asuransi kesehatan dan layanan perawatan kesehatan mental. Disebutkan, bahwa kesulitan belajar terbagi menjadi tiga kategori besar, yaitu: (a) kesulitan dalam berbicara dan berbahasa; (b) permasalahan dalam hal kemampuan akademik; dan (c) kesulitan lainnya, yang mencakup kesulitan dalam mengordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori di atas.

Pertanyaannya sekarang, adakah sebuah konsep pelatihan (training) atau pendidikan pendamping (coeducational) yang mampu menyelesaikan berbagai kesulitan belajar yang ada atau minimal membantu menguranginya? Jawabannya “ada”, dengan bentuk pemberian senam otak (brain gym) secara rutin bagi siswa berpotensi kesulitan belajar. Senam otak (brain gym) adalah rangkaian latihan gerak sederhana yang dilakukan untuk memudahkan kegiatan belajar, membangun harga diri dan rasa kebersamaan. Rangkaian gerakan yang dilakukan, bisa memperbaiki konsentrasi belajar, meningkatkan rasa percaya diri, menguatkan motivasi belajar serta membuatnya lebih mampu mengendalikan stres. Itulah sebabnya, latihan ini sangat cocok untuk siswa terutama untuk menunjang belajarnya di sekolah. Senam otak juga sangat praktis, karena bisa dila­kukan di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja, dengan porsi latihan yang tepat untuk hasil maksmimal sekitar 10-15 menit dan dilakukan 2-3 kali dalam sehari.

Latihan senam otak adalah inti dari Educational Kinesiology. Education berasal dari kata latin, yaitu educare yang berarti menarik keluar dan kinesiology berasal dari bahasa Yunani, yakni kinesis artinya gerakan. Jadi, kinesiology adalah ilmu tentang ge­rakan tubuh manusia. Educational Kinesiology, untuk selanjutnya disingkat menjadi Edu Kinestetik, merupakan metode yang dikembangkan oleh Paul E. Dennison, seorang pendidik di Amerika dan Direktur Valley Remedial Group Learning Center. Metode yang diciptakannya ini bertujuan untuk menolong para siswa agar mampu memanfaatkan seluruh potensi belajar alamiahnya, melalui gerakan tubuh dan sentuhan, terutama bagi yang berkesulitan belajar atau dengan kebutuhan khusus. Konsep dasar senam otak adalah: (a) belajar merupakan kegiatan alami menyenangkan dan terus terjadi sepanjang hidup individu; (b) kesulitan belajar adalah ketidakmampuan mengatasi stres dan keraguan dalam menghadapi suatu tugas baru; dan (c) setiap individu mengalami kesulitan belajar, selama belajar untuk tidak bergerak. Jadi, senam otak adalah suatu usaha alternatif alami yang sehat untuk menyelesaikan sejumlah ketegangan (stress and anciety) pada diri individu dan orang lain.

Dennison memahami bahwa pusat belajar dan fungsi luhur manusia terpusat di otak, maka cara terbaik untuk menyelesaikan berbagai penyimpangan (abnormality) yang ada cukup dengan melatih dan memfungsikan otak secara optimal. Karena itu dalam konsep senam otak (brain gym), otak dibagi ke dalam 3 (tiga) fungsi sebagai dasar gerakan, yakni: dimensi lateralis (otak kiri-kanan); dimensi pemfokusan (otak depan-belakang) dan dimensi pemusatan (otak atas-bawah). Masing-masing dimensi jelas memiliki tugas tertentu, sehingga gerakan senam yang dilakukan dapat bervariasi.

Sejumlah penelitian (eksperimen), tentang efektivitas senam otak dalam membantu menyelesaikan berbagai kesulitan belajar siswa telah banyak dilakukan, diantaranya: (a) Riset yang dilakukan atas 60 siswa SD yang mengalami kesulitan belajar, jumlah yang sama banyak antara siswa pria dan perempuan dan dibagi menjadi tiga kelompok PPL Edu-K, gerakan Edu-K dan kontrol. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok PPL Edu-K (brain gym), memperlihatkan perbaikan yang lebih besar dalam keseimbangan statis dan prestasinya lebih baik, ketimbang kelompok kontrol. Hasil penelitian juga menunjukkan Edu-K dapat dipakai secara efektif dalam pengaturan pendidikan pendamping (coeducational) (Siftt, Josie M & Khalsa, 1999); (b) Eksperimen yang dilakukan atas 52 siswa, yang dipilih dari kelas pendidikan dengan kebutuhan khusus. Kelompok senam otak melakukan urutas aktivitas, sementara kelompok kontrol dilibatkan dalam gerakan random, selama sekitar 7 (tujuh) menit. Semua siswa diuji waktu tanggapan visual sebelum dan sesudah aktivitas gerakan. Hasilnya menunjukkan, bahwa siswa yang melakukan gerakan senam otak mengalami perbaikan pada tugas waktu tanggapan, sementara kelompok kontrol tidak (Siftt, Josie M & Khalsa, 2000) atau; (c) Eksperimen terhadap 28 siswa MTs dengan jumlah dan derajat inteligensi yang sama antar kelompok eksperimen dan kontrol. Kelompok kontrol diberikan gerakan-gerakan senam otak penggugah kecerdasan matematis dan kelompok kontrol gerakan acak. Hasilnya menunjukkan, bahwa kelompok eksperimen secara keseluruhan prosentase nilai matematikanya lebih baik (96,57%), ketimbang kelompok kontrol (94,75%) saat post-test, meski sama-sama mengalami perbaikan (Masykur Ag, Moch, 2007).

Berdasarkan prinsip dan realitas di atas, maka sangatlah perlu konsep senam otak (brain gym) dikembangkan sebagai keahlian (personal skill) pada individu atau peserta didik, agar mereka mampu mengembangkan potensi bio-psikososial nya secara mandiri, sehat, konstruktif serta menghindarkannya dari berbagai problem akademis dan psikologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar