Rabu, 29 April 2009

Tentang Imam maksum

Imam maksum dg kemaksuman mereka maka tindakan, ucapan dan penetapan
mereka layak dijadikan sebagai standar dalam menilai kehidupan
sebagaimana Rasulullah saw. Disini kami tidak bermaksud menyamakan
antara Imam maksum dengan Rasulullah saaw hal ini secara kesempurnaan
kemanusiaan tidak mungkin. Rasul adalah satu-satunya manusia yang
telah mencapai puncak kesempurnaan kemanusiaan sedang yang lain pasti
berada ditingkat lebih bawah dari beliau. Tingkatan disini bukan
sebagaimana perbandingan matematik karena ini semua hanyalah
pendekatan karena kebahasaan kami yang begitu terbatas. Bisa kami
katakan bahwa para imamlah orang orang yang memiliki tingkatan tinggi
dibanding manusia pada umumnya. Orang-orang yang bergigih usaha demi
mencapai kedekatan sempurna pada sang khalik. Mereka memiliki keilmuan
cukup untuk memahami segala hal yang dibutuhkan manusia untuk mencapai
titian hidayah. Mereka dengan keilmuan mereka mampu menjaga diri dari
berbagai kemaksiatan. Dengan keilmuan mereka mendapat keridhaan yang
lebih dari Allah swt. Mereka adalah rangkaian yang tersimpan dalam
ayat innanahnu nazalna dzikra wa innalahu lahafidzun. Dengan
keberadaan merekalah ilmu qur'an terjaga. Mereka adalah pemegang
tongkat estafet keilmuan qur'an. Dengan penjagaan diri mereka yang
sempurna maka mereka memiliki hati yang memadai untuk menjadi media
tempat penitipan ilmu al qur'an untuk disampaikan pada manusia.

Karena mereka jadi penjaga keutuhan ilmu al qur'an dan petugas
penyampai keilmuan itulah maka tindak tanduk serta ucapan tentang
mereka layak digunakan sebagai dalil dan pembanding serta contoh
teladan bagi manusia yang ingin menapaki titian hidayah.

Riwayat dari Para Imam
riwayat para maksumin bisa dibahas dalam beberapa tahapan.

Masa Imam Ali.
Masa beliau dimulai sejak meninggalnya Rasulullah saaw. Beliau
berperan sebagai pemegang tampuk kekhalifahan(kepemimpinan) setelah
Nabi saaw. Ini bisa didapati dari berbagai riwayat mutawatir yang ada.
Memang secara politik beliau tidak langsung menjadi seorang pemimpin
dikarenakan adanya pemilihan khalifah nabi saaw yang dilakukan para
sahabat dengan asumsi nabi saaw tidak pernah menunjuk seorang khalifah
untuk meneruskan pemerintahan islam. Kiranya demi menyempurnakan alur
ini kami utarakan beberapa pertanyaan.

Bagaimana mungkin Nabi saaw tidak menunjuk seorang pemimpin bagi
pemerintahan islami yang sudah susah payah beliau bangun? Pada
kenyataannya kita dapati bahwa para sahabat setelah Nabi Saaw
meninggal lekas bermusyawarah untuk mencari seorang pemimpin tindakan
mereka ini menceritakan pada kita bahwa masalah kepemimpinan adalah
suatu hal yang mendasar, harus dipikirkan.

Sekarang ketika orang setingkat para sahabat saja menilai sebegitu
penting arti kepemimpinan apakah masuk akal kalau Nabi dengan
kesempurnaan pemahaman beliau tidak memahami arti penting kepemimpinan
sehingga tidak memilih seorang pemimpin demi kelangsungan
kepemerintahan islami yang telah beliau rintis.

Dari ayat dan riwayat
juga akan kita dapati berbagai dalil kuat yang menegaskan bahwa Imam
Ali adalah orang yang pertamakali berhak menjadi khalifah Nabi saaw.
Secara keilmuan imam Ali sendiri disebut Nabi sebagai pintu ilmu. Hal
ini karena beliau adalah seorang pelajar di madrasah kenabian. Guru
beliau adalah teladan bagi para guru sehingga pasti mengajar dengan
treatmen terbaik. Selain itu Imam Ali adalah seorang yang bersih dari
budaya penyembahan berhala dikala masyarakat tersesat dalam gelapnya
kemusrikan. hal ini menjadikan hati Imam Ali memiliki kesiapan
maksimal untuk memegang tongkat estafet ilmu qur'ani dari madrasah
kenabian. Setelah kepergian Nabi saaw Imam Ali mengatakan saluni qobla
antafqiduni, tanyai aku sebelum engkau kutingalkan jadi beliau mampu
menjawab semua pertanyaan. Ini mendukung riwayat bahwa beliau adalah
pintu ilmu nabi(ana madinatul ilim wa aliyun babuha)

Jadi sangat tidak masuk akal jika parasahabat saja punya pemikiran
sampai sedemikian dan Nabi saaw sebagai pemandu tidak memiliki
pemikiran atas hal itu. Tidak bisa dikatakan sebagai teladan sempurna
jika beliau tidak memilih seorang khalifah bagi beliau jadi pasti
beliau telah memilih seorang wakil sebelum meninggal. Disampaikan
bahwa

Dalam sejarah sebelum meninggal Nabi memerintahkan sebagian besar para
sahabat untuk berjihad ke medan perang menghadapi pasukan romawi.
Pemimpin pasukan dipercayakan pada seorang pemuda berumur 18 tahunan.
Karena komandan masih terlalu muda para sahabat yg merupakan pembesar
kabilah arab menolak dan banyak yang tidak berangkat. Berulang kali
Nabi saaw menekankan bahkan sampai mewajibkan untuk berangkat. Tapi
tetap tidak mau. Tindakan para sahabat yang termasuk didalamnya
Sahabat Umar, Abu Bakar, dan Ustman menyalahi ayat Qur'an bahwa apa
yang diberikan Rasul padamu maka ambillah dan yang dilarangnya maka
jauhilah. ما آتاكم الرسول فخذوه و ما نهاكم عنه فانتهوا
(al hasr ayat 8)
dari ayat ini kita paham bahwa semua perintah Rasul itu harus ditaati
dan menjadi pertada penyimpangan keimanan seseorang ketika orang
tersebut mengingkari perintah nabi. Padahal juga dikatakan oleh Allah
swt bahwa wama yantiquanil hawa inhuwa illa wahyun yuuha dan tidak
keluar dari dirinya (Nabi Muhammad saaw) kecuali sesuatu yang telah
diwahyukan padanya. Sejenak kita tengok tragedi hari kamis. Pada saat
itu Nabi saaw sedang menderita sakit parah, beliau memerintahkan agar
diberi pena dan kertas sehingga umat tidak tersesat selamanya namun
sahabat umar dengan sederhana mengatakan bahwa Nabi sedang mengigau.
dan mengatakan Cukup bagi kita kitabullah apakah sahabat Umar lebih
utama ucapannya atau Nabi saaw. Selain itu orang yg ada dikamar itu
juga pada ribut dan Nabi tidak jadi menuliskan wasiat yang sangat
berharga, wasiat yang akan jadi pegangan manusia. Tapi jika tertulis
dan kembali Sahabat Umar mengatakan wasiat itu hasil dari orang yang
sedang mengigau maka wasiat itu juga tidak ada nilai lagi, mungkin
saja wasiat itu dirusak dan dibuang.
. . . .Masih banyak yang bisa diberi ruang u berpikir
bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar