Selasa, 08 Desember 2009

Ingin Seperti HAMKA

Tadi siang kami berangkat keluar untuk membeli beberapa keperluan. Saat
bersiap-siap, Azkia berceloteh, "Mama, kebanyakan anak kan bersekolah,
sedangkan kakak dan Ade kan tidak sekolah."

"Memangnya Kakak ingin sekolah ya?" tanya saya. "Boleh kok kalau Kakak mau sekolah," lanjut saya.

"Tidak. Cuma Kakak baca di buku, Si Malik itu hanya sekolah sampai kelas dua SD, terus berhenti," katanya.

"Terus bagaimana akhirnya setelah dia besar?" tanya saya.

"Dia tetap rajin belajar, senang membaca, sampai akhirnya dia bisa
pergi ke Mekkah," kata Azkia lagi disambung juga Luqman menimpali.

"Memangnya buku apa sih yang Kakak maksud?" tanya saya. Benar-benar saya belum 'ngeh!' buku yang dia ceritakan.

"HAMKA!" jawab Azkia dan Luqman.

"Ooooh HAMKA ya. Terus jadi apa HAMKA setelah dia dewasa?" tanya saya lagi.

"Dia jadi penulis besar Mama! Dan dia pernah dipenjara, tapi dia tetap saja membaca dan menulis waktu dia dipenjara".

"Ade mau Mama!" seru Luqman.

"Mau apa?" tanya saya

"Mau seperti Hamka! Rajin belajar, suka membaca, dan jadi orang yang baik"

Ups!

Saya terkejut sekaligus bangga dengan anak-anak dan juga penulis buku
biografi Hamka. Yang paling saya salut, tampilan buku itu sebenarnya
tidak menarik kalau dibandingkan buku anak-anak saat ini yang full
color dan indah, sebagiannya malah sudah robek karena cetakan lama.
Tapi ternyata, ketika anak-anak membacanya, buku itu mampu membuat
mereka memiliki impian yang mulia.

Tampilan buku anak memang perlu menarik untuk menggaet para pembaca
cilik menyukai kegiatan membaca. Tapi, isi buku anak juga sebaiknya
memuat sesuatu yang berbobot untuk mensuplai kebutuhan 'gizi' akal dan
ruhani mereka. Tantangan besar bagi para penulis buku anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar