Selasa, 08 Februari 2011

MODEL PEMBELAJARAN MEMORIZATION

Oleh, MAHURI
MAHASISWA PASCASARJANA (S2) Teknologi pendidikan UNIB

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan sebuah sistem atau cara dalam mencapai tujuan tertentu. Sistem dapat diartikan sebagai satu kesatuan komponen dimana satu sama lainnya saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu (Sanjaya, 2009: 2). Dari konsep tersebut terdapat tiga ciri utama sebuah sistem yaitu suatu sistem memiliki tujuan tertentu, untuk mencapai tujuan sebuah sistem memiliki fungsi-fungsi tertentu, untuk menggerakkan fungsi suatu sistem harus ditunjang oleh berbagai komponen.
Berdasarkan laporan dari TIMSS (Trends In Mathematic And Science Study) pada tahun 2003 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-35 dalam literasi matematika dan sains dari 46 negara peserta, selanjutnya berdasarkan studi yang dilakukan oleh UNDP tahun 2005 menunjukkan bahwa HDI (Human Development Index), Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara yang disurvei, sementara Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand masing-masing menduduki peringkat ke 25, 33, 61, dan 73. Dari data tersebut sangat jelas memperlihatkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum dilakukan dengan baik.

Pada proses pembelajaran terdapat juga sebuah sistem yang biasanya disebut dengan sistem pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik, Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Keberhasilan sistem pembelajaran merupakan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran dan yang menjadi subjek utamanya adalah siswa. Jadi tujuan utama sistem pembelajaran yang harus dicapai adalah keberhasilan siswa mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam hal ini guru menjadi desainer pembelajaran dan memiliki tiga tugas utama yaitu: Pertama, sebagai perencana yakni mengorganisasikan semua unsur yang ada agar berfungsi dengan baik, sebab manakala salah satu unsur tidak bekerja dengan baik maka akan merusak sistem itu sendiri. Dalam hal ini guru harus memahami secara benar kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber daya yang ada, sehingga semunya dijadikan komponen-komponen dalam menyusun rencana dan desain pembelajaran. Kedua, sebagai pengelola implementasi sesuai dengan prosedur dan jadwal yang direncanakan. Dalam hal ini guru bukan hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya akan tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning). Dengan demikian efektifitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas dan kemampuan guru. Norman Kirby (Sanjaya, 2009: 16) menyatakan bahwa ” One underlying emphasis should be notice-able: that the quality of the teacher is the essential, constant feature in the success of any educational system.” Ketiga, mengevaluasi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan untuk menentukan efektivitas dan efisiensi sistem pembelajaran.
Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut aktivitas, kreatifitas, dan kearifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan, secara efektif dan menyenangkan. Saylor (Mulyasa, 2006: 189) mengatakan bahwa “ Instruction is thus implementation of curriculum plan, usually, but not necessarily, involving, teaching in the sense of student, teacher interaction in an educational setting.” Dari pernyataan diatas, guru harus dapat menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran dan metode mengajar, keterampilan menilai hasil belajar, serta memilih dan menggunakan strategi dan pendekatan pembelajaran. Semua kegiatan dan fasilitas yang dipilih serta peranan yang dilakukan guru harus tertuju pada kepentingan siswa, yang diarahkan pada kebutuhan siswa, disesuaikan dengan kondisi siswa, dan menguasai apa yang diberikan atau memperoleh perkembangan optimal (Sukmadinata 2009: 197). Dalam hal ini, guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan (Mulyasa, 2006: 192). Menurut Lindy Petersen (1995: 16), meskipun guru tidak mungkin mengontrol seluruh aspek setiap masing-masing individu siswa, namun hubungan yang timbul selama proses mengajar dengan masing-masing anak dapat ditingkatkan dan pemahaman guru terhadap psikologi siswa sangat berharga bagaimana cara memotivasi belajar mereka. Jadi guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar, kondisi internal dan eksternal, serta menciptakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Selain hal tersebut yang perlu diperhatikan juga adalah lingkungan belajar, karena lingkungan juga mempengaruhi situasi belajar. Siswa tidak akan merasa aman dan tenteram belajar manakala kondisi lingkungan yang tidak mendukung (Yamin, 2007: 111).
Ada beberapa istilah yang cenderung tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran yaitu model, pendekatan, metode dan teknik. Pendekatan dapat diartikan sebagai perangkat asumsi berkenaan dengan hakikat dan belajar-mengajar. Metode adalah rencana menyeluruh tentang penyajian materi ajar secara sistematis dan berdasarkan pendekatan yang ditentukan. Sedangkan teknik merupakan kegiatan spesifik yang diimplementasikan dalam kelas sesuai dengan metode dan pendekatan yang dipilih. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendekatan bersifat aksiomatis, metode bersifat prosedural, dan teknik bersifat operasional (Majid. A, 2008: 132). Selain pendekatan, metode dan teknik dalam pembelajaran sering juga disebutkan strategi, media dan model. J.R. David (Sanjaya, 2009: 186) mengartikan strategi sebagai ”a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal.” Media menurut Heinich at al (Sanjaya, 2009: 204) “ Media is a channel of communication. Derived from the Latin word for “between”, the tern refers “ to anything that carries information between a source and a receiver.” Sedangkan model merupakan tahapan pelaksanaan manajemen dan lingkungan belajar.

Sekarang ini banyak ditawarkan berbagai jenis pendekatan, metode, teknik strategi maupun media yang merupakan bagian dari model pembelajaran dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ditemukan dalam pendidikan terlebih lagi yang berhubungan dengan kebutuhan siswa, karena masing-masing hal tersebut dalam dunia pendidikan memiliki manfaat tersendiri. Jika manfaat tersebut dipahami oleh guru maka tidak ada lagi pelajaran yang sulit bagi siswa terlebih lagi pada pelajaran matematika dan sains yang seringkali menurut siswa merupakan pelajaran yang sangat sulit.
Sebenarnya pelajaran matematika dan sains sangat mudah dipahami dan menyenangkan jika siswa memahami dasar – dasar dari pembelajaran tersebut. Khususnya pada pelajaran sains salah satunya kimia. Dasar dari pelajaran kimia adalah perkembangan periodik unsur, sifat – sifat kimia dan fisik unsur serta sifat keperiodikannya melalui pemahaman konfigurasi elektron. Jadi, agar siswa lebih mudah memahaminya maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah siswa harus mengenal dan dapat menyebutkan nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur tersebut dalam tabel periodik karena pelajaran kimia pada dasarnya berhubungan dengan unsur dan sifat - sifat unsurnya berhubungan dengan posisi/letak unsur. Namun yang terjadi dilapangan siswa yang sudah belajar kimia bahkan yang sudah kelas XII tidak mengenal dan tidak dapat menyebutkan nama – nama unsur dan letak unsur dalam sistem periodik.
Hal diatas terjadi karena dari awal siswa mulai belajar kimia, guru kurang menekankan bahwa dasar pelajaran kimia dari kelas X sampai kelas XII yang paling sederhana tapi merupakan hal yang terpenting dalam pelajaran kimia adalah siswa harus mengenal dan dapat menyebutkan terlebih dahulu nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur dalam tabel periodik agar siswa dapat memahami konsep – konsep kimia. Untuk dapat mengenal dan menyebutkan nama – nama setiap unsur dan mengetahui posisi/letak unsur maka siswa terlebih dahulu dapat menghapalkan nama – nama unsurnya dan posisi/letak unsur dalam tabel periodik. Seringkali siswa merasa kesulitan dalam menghapalkan nama – nama unsur dan posisi/letaknya dalam tabel sistem periodik karena dalam menghapalkannya siswa seringkali melakukannya dengan cara yang salah yaitu dengan mengucapkannya berulang-ulang kali. Menghapal dengan cara mengucapkan berulangkali mungkin akan berhasil tetapi biasanya yang dihapal seringkali diingat pada saat itu saja (cepat terlupakan).
Berdasarkan permasalahan diatas menurut penulis salah satu model pembelajaran yang tepat untuk menangani permasalahan siswa dalam hal meningkatkan memori/ hapalan agar siswa lebih kreatif sehingga yang dihapal dapat bertahan lebih lama (tidak cepat lupa) adalah dengan model pembelajaran memproses informasi salah satunya dengan model pembelajaran Memorization. Menurut Bruce Joyce et al (2009, 217) memori dapat membangun hubungan sehingga objek-objek yang dipelajari tidak hanya sekedar diingat dengan hapalan saja, tetapi juga dengan hubungan konseptual. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pressley et al adalah bahwa dengan menggunakan model memorization orang dapat menguasai materi lebih cepat dan menyimpannya lebih lama. Model memorization dapat dilakukan dengan metode kata-penghubung (Link-Word Method), metode kata kunci (Key-Word Method) bahkan bisa saja dengan menggunakan sebuah lagu dan lain sebagainya. Model memorization ini berguna untuk menyeimbangkan fungsi kedua otak yaitu otak kiri dan otak kanan dalam mengolah informasi yang didapat. Otak kiri merupakan otak yang bersifat logis, beruntun, parsial dan cenderung memproses informasi satu persatu, sedangkan otak kanan berpikir secara acak, holistik dan kreatif dalam menerima dan menyimpan informasi. Seringkali siswa merasa kesulitan dalam menghapal karena biasanya dalam proses belajar siswa lebih sering menggunakan setengah kemampuannya yaitu otak kiri saja karena biasanya saat belajar disekolah siswa dituntut untuk berpikir urut dan logis padahal seharusnya otak kanan juga harus digunakan karena otak kanan sangat membantu dalam proses menghapal cepat, dan berpikir kreatif. Dengan menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan otak kanan secara bersamaan dapat meningkatkan efektifitas belajar. Jadi dengan menggunakan model pembelajaran memorization segala sesuatu yang berhubungan dengan hapalan tidak akan sulit lagi justru akan menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan.

Penggunaaan model Memorization dalam pembelajaran kimia diharapkan siswa semakin kreatif dalam merangkai kata-kata meningkatkan daya memori siswa serta menjadikan materi pelajaran kimia merupakan suatu hal yang menyenangkan dan bukan merupakan hal yang membosankan lagi. Jika siswa sudah memiliki asumsi bahwa belajar merupakan hal yang menyenangkan maka diharapkan hal tersebut akan meningkatkan prestasi dan hasil belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis memandang perlu adanya penelitian dalam mengembangkan model pembelajaran memorization untuk meningkatkan pemahaman ”Sistem Periodik Unsur” siswa di SMK Negeri 4 kota Bengkulu

B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah: Model pembelajaran Memorizatation Bagaimanakah yang mampu meningkatkan pemahaman siswa pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?

C. DEFENISI OPERASIONAL
1. Model pembelajaran Memorization dalam penelitian ini didefenisikan sebagai pola atau desain pembelajaran yang menggunakan memori untuk meningkatkan pemahaman dengan strategi membangun hubungan objek-objek yang dipelajari serta hubungan konseptualnya. Jadi memori merupakan inti dari perkembangan kognitif, sebab segala bentuk belajar dari individu melibatkan memori. Dengan memori individu dapat menyimpan informasi yang diterima sepanjang waktu. Tanpa memori, individu mustahil dapat merefleksikan dirinya sendiri, karena pemahaman diri sangat tergantung pada suatu kesadaran yang berkesinambungan, yang hanya dapat terlaksana dengan adanya memori.

2. Pemahaman siswa pada pelajaran kimia sub bahasan sistem periodik unsur yaitu siswa dapat mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia serta mengetahui letak/ posisi unsur tersebut dalam sistem periodik unsur.

D. PERTANYAAN PENELITIAN

Agar penelitian lebih terarah rumusan masalah tersebut dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Desain model RPP bagaimana dalam pembelajaran Memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?

2. Desain model bagaimana yang dapat peningkatan pemahaman siswa dalam hal mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia dan mengetahui letak/ posisi unsur kimia ”Sistem Periodik Unsur” dalam pembelajaran memorization?
3. Apa keunggulan dan kelemahan model pembelajaran memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?

E. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran memorization dalam pembelajaran kimia adalah:

1. Menghasilkan RPP model pembelajaran memorization dalam pembelajaran kimia sub bahasan sistem periodik unsur.

2. Meningkatkan pemahaman siswa dalam hal mengenal dan menyebutkan nama – nama unsur kimia dan mengetahui letak/ posisi unsur kimia dalam sistem periodik unsur setelah belajar model pembelajaran memorization.
3. Mengetahui keunggulan dan kelemahan model pembelajaran memorization pada pelajaran kimia ”Sistem Periodik Unsur”?

F. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan manfaat praktis untuk meningkatkan kualitas pendidikan, yaitu:

a. Bagi guru, model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

b. Bagi dinas pendidikan, dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan daerah.

c. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan landasan untuk meneliti lebih lanjut pengembangan model pembelajaran memorization dalam pembelajaran disekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar