Sabtu, 09 Mei 2009

Lima Sila Pancasila

Pancasila sebagai sebuah i'tikad sebuah bangsa majemuk seperti bangsa
Indonesia memang sangat tepat adanya. Kandungan yang tetera didalamnya
umum dan mencakup berbagai kebutuhan yang semestinya dimiliki suatu
bangsa yang ingin terus maju dan berkembang.

Point-point yang ditera sebagai batang tubuh dan soko guru landasan
bangsa memiliki makna mendalam serta aplikatif dan efektif.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Dengan kaidah akal sehat semua mengakui bahwa keyakinan akan keesaan
Tuhan adalah pangkal dasar dan mendasar atas segala bentuk konsep,
termasuk juga konsep pemerintahan. Para arsitek batang tubuh bangsa
kita ini pasti tidak sembarangan menetapkan konsep ketuhanan yang maha
esa sebagai poin pertama. Paling tidak menunjukkan bahwa menurut
mereka konsep ini memang lebih utama dari konsep yang lain. Jadi point
ini adalah Konsep yang merupakan pijakan bagi konsep batang tubuh yang
lain.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Mungkin sekedar sebagai pendekatan kebahasaan Tuhan itu butuh kaki
tangan. Tuhan adalah keberadaan yang wajib untuk ada karena segala
keberadaan tidak akan pernah mewujud nyata ketika tidak ada sumber
dari segala sumber pertama. Sumber yang tidak membutuhkan pada hal
yang lain. Hal ini meniscayakan adanya kemungkinan terjadinya
komunikasi langsung antara Tuhan dan manusia. Kemustahilan ini terjadi
bukan karena Tuhan tidak bisa tapi obyeknya yaitu manusia yang tidak
memiliki 'wadah' yang memadai untuk itu. Jadi karena adanya
keterbatasan dari manusialah tidak dimungkinkan adanya hubungan timbal
balik antara keduanya secara langsung. Tuhan karena tak terbatas bisa
mengetahui manusia tapi manusia karena terbatas maka tidak tahu kalau
Tuhan senantiasa memantaunya dan selalu mengetahui perihal dirinya.
Karena alasan diataslah diperlukan adanya manusia khusus yang menjadi
penghubung tali terputus antara Tuhan dan manusia. Penghubung temali
ini tentu bukan dari sembarang orang. Seperti disebutkan dalam batang
tubuh penghubung ini adalah sesosok manusia yang adil dan beradab.
Dengan keadilannya dia menempatkan segala sesuatu pada tempatya dan
dengan adabnya dia mampu menyusun tatanan peradaban terbaik bagi
manusia. Yang dapat mengetahui keadilan dan keberadaban tentu bukan
manusia karena dua hal ini adalah perkara batin manusia. Bisa jadi ada
manusia dimata manusia yang lain begitu adil dan bijak namun dilubuk
hatinya tersimpan niatan yang sangat buruk. Ada juga manusia yang
pandai dalam pengaturan sebuah pemerintahan tapi tidak punya belas
kasihan demi mencapai tujuan serta ambisinya untuk menjadi penguasa
tunggal. Ketika pemimpin dan wakil rakyat adalah manusia yang memiliki
dua kriteria ini maka perwujudan Persatuan Indonesia tidak akan
mustahil. Jadi masyarakat semestinya berperan optimal didalamnya.
Masyarakat harus cerdas dalam memilih wakil rakyat maupun presiden
seyogyanya dipilih wakil dan presiden yang lebih mendekati keadilan
serta berperadaban. Pemerintah juga harus tepat dalam memberi
kesempatan pada partai peserta pemilu berikut para calon wakil
rakyatnya. Para calon wakil rakyat maupun calon presiden dan pemimpin
bangsa yang lain harus diteliti sedemikian detail tata cara
kehidupannya. Apakah konsep keadilan dan keberadaban tercermin dalam
kehidupan mereka atau tidak? Jika tidak walau calon itu memiliki masa
yang banyak tetap tidak layak untuk diikutkan dalam pemilihan untuk
dipilih. Karena para calon bermodal besar tapi tidak memiliki moral
yang pas maka hanya kehancuran yang bisa diharap darinya.

3. Pesatuan Indonesia
Sebuah bangsa adalah gabungan dari berbagai tipe dan kelompok manusia.
Jadi perbedaan pendapat, budaya dan semacamnya begitu kental adanya.
Karena itu persatuan harus menjadi topik utama yang harus selalu
digalakkan dan diserukan pada masyarakat. Mendengungkan persatuan
kebangsaan tidak hanya pada saat perang melawan penjajah seperti
Belanda dan Jepang. Pemerintah harus aktif untuk menyerukan ini guna
menjaga agar bangsa menjadi bangsa yang benar-benar utuh dan
independen. Cerminan bangsa yang bersatu adalah adanya kemerdekaan
dalam berbagai sisi. Baik sistem politik, ekonomi, sosial budaya
maupun sisi yang lain. Persatuan ketika benar-benar terjalin maka
tujuan bangsa akan lebih jelas terarah dan mandiri. Kebijakan dalam
negeri tidak pernah dicampuri negara lain. Hal ini hanya terwujud jika
para pemimpin benar-benar orang yang adil dan beradab.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijasanaan dalam
permusyawaratan perwakilan.
Konsep ini adalah sebuah sistem sebagai perwujudan penghargaan
terhadap masyarakat sebagai anggota tak terpisah suatu bangsa. Dengan
konsep ini masyarakat akan merasa lebih memiliki atas bangsanya.
Dengan ini mereka akan lebih mengindahkan tata aturan yang dikenakan
pada mereka. Ketaatan tanpa paksaan suatu masyarakat pada pemimpin
akan terbentuk. Tapi poin yang perlu diperhatikan adalah kepemimpinan
dalam hikmah dan kebijaksanaan. Point ini perlu benar-benar
diperhatikan sehingga terbentuknya masyarakat terpimpin benar-benar
berada dibawah payung kepemimpinan orang yang layak memimpin. Orang
yang memiliki itikad baik dalam pengabdian pada masyarakat. Bukan
mereka yang senantiasa menghisap harta rakyat.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Ketika masyarakat Indonesia mengimani Keesaan Tuhan, berpegang pada
manusia yang adil dan mengenal tatanan, berusaha menjaga persatuan dan
kesatuan niscaya keadilan menyeluruh bagi bangsa akan tercapai. Sesuai
fitrah setiap manusia, keadilan memang menjadi harapan yang selalu ada. dan keadilan ini di letakkan pada puncak pencapaian dari berderet susunan pancasila kita.
tapi apakah negara kita sudah benar-benar berpancasila terutama para punggawa pemerintahannya? silahkan anda sendiri yang menilai :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar