Minggu, 17 Mei 2009

PEMANFAATAN PAPAN TULIS SECARA OPTIMAL

Artikel:
PEMANFAATAN PAPAN TULIS SECARA OPTIMAL


Judul: PEMANFAATAN PAPAN TULIS SECARA OPTIMAL
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian TEKNOLOGI INFORMASI.
Nama & E-mail (Penulis): Hery Yanto, The
Saya Guru di SMA Gembala Baik
Topik: Media Pembelajaran
Tanggal: 21 Desember 2007

SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 1
PEMANFAATAN PAPAN TULIS SECARA OPTIMAL
UNTUK MENINGKATKAN PENCAPAIAN
KOMPETENSI SISWA

Oleh Hery Yanto,The

Guru Bahasa Indonesia SMA Gembala Baik Pontianak

ABSTRAK

Media pembelajaran merupakan sarana utama yang diperlukan oleh guru untuk dapat membantu siswa dalam belajar dan mencapai kompetensi dari proses belajar. Perkembangan teknologi pendidikan telah menghadirkan berbagai media pembelajaran baru, seperti OHP, LCD proyektor, atau Televisi Pembelajaran . Namun, kedudukan papan tulis tetap penting dalam mendukung proses pembelajaran di dalam kelas. Meskipun berbagai media presentasi baru telah digunakan secara luas, namun papan tulis tetap memiliki fungsi utama dalam mendukung proses pembelajaran di dalam kelas. Media ini telah lama dikenal sebagai pendukung proses pembelajaran kelas yang paling murah dan mudah penggunaannya. Papan tulis juga menjadi jawaban paling jitu dalam mengatasi masalah mahalnya penerapan berbagai teknologi pendidikan modern.

Pendahuluan

Dalam membuat perencanaan proses pembelajaran, semua guru masih menyebutkan penggunaan papan tulis sebagai media/alat pendukung pembelajaran di dalam kelas, bahkan media ini terpasang secara permanen pada setiap kelas di semua sekolah, mulai dari sekolah yang berada di tingkat pedesaan sampai sekolah di perkotaan, mulai dari sekolah bertaraf ijin operasional sampai dengan sekolah yang telah terakreditasi sangat baik. Intensitas pemanfaatan papan tulis dalam mendukung proses pembelajaran sepertinya masih lebih besar porsinya jika dibandingkan dengan media-media pembelajaran lain yang menjadi inventaris sekolah.

Papan tulis yang disediakan di setiap sekolah memang berbeda-beda. Sekolah tertentu menggunakan papan tulis berwarna hitam dan kapur SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 2 sebagai alat tulisnya. Sekolah yang lain mungkin menggunakan papan tulis berwarna putih dan spidol sebagai alat tulis. Pada pelajaran tertentu, papan tulis yang digunakan juga dikembangkan sesuai dengan karakteristik pembelajaran. Ada papan tulis bergaris untuk mendukung belajar menulis indah. Ada juga sekolah yang memiliki papan tulis berpetak untuk mendukung proses pembelajaran matematika ataupun menggambar perspektif.

Alat pendukung penggunaan papan tulis juga disediakan dalam bentuk beragam. Jangkar khusus disiapkan dapat digunakan bersama spidol ataupun kapur untuk membuat lingkaran di papan tulis. Penggaris panjang khusus untuk papan tulis disediakan untuk mendukung pembelajaran akuntansi, ekonomi, matematika, dan menggambar perspektif. Bahkan untuk memberikan kesan dan informasi khusus, spidol dan kapur juga telah diproduksi berwarna-warni sehingga menyampaikan pesan pembelajaran melalui papan tulis menjadi lebih menarik bagi siswa.

Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah, meskipun papan tulis telah disediakan dalam jumlah memadai di setiap sekolah dan demikian juga dengan alat-alat penunjangnya, media ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh guru dan siswa. Pemanfaatan papan tulis lebih banyak sekedar untuk memenuhi kebutuhan guru untuk menulis dan bukan pada prinsip penciptaan kesan dan pesan yang mengandung nilai informasi bagi siswa.

Masalah ini timbul karena guru kurang memberikan perhatian serius dalam tata aturan penggunaan papan tulis untuk menyampaikan pesan secara optimal. Hasilnya tentu saja siswa juga mendapatkan pesan yang kurang teratur dan pencapaian kompetensi mengalami hambatan. SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 3 Masalah-masalah dalam Penggunaan Papan Tulis Melalui berbagai supervisi dan pembicaraan dengan guru pasca pengamatan proses pembelajaran di dalam kelas dapat diidentifikasi banyak masalah di dalam penggunaan papan tulis di kalangan guru.

Masalah-masalah tersebut sebenarnya banyak yang diakui oleh para guru telah terus-menerus mereka lakukan. Kondisi ini juga tidak terlepas dari ketergantungan guru terhadap keberadaan buku dan bahan ajar cetak yang dianggap mampu memberikan penjelasan yang cukup kepada siswa selama proses membimbing siswa belajar di kelas. Masalah yang paling serius adalah papan tulis sama sekali tidak digunakan selama proses pembelajaran kelas berlangsung.

Guru yang masuk ke kelas langsung meminta siswa membuka buku pada halaman tujuan proses belajar. Ia kemudian melanjutkan pembelajaran dengan penjelasan/ceramah yang diselingin dengan tanya jawab. Kesimpulan hasil belajar juga disampaikan secara lisan. Guru ke luar kelas dalam keyakinan penuh bahwa siswa yang dibimbingnya telah menyerap dengan baik proses pembelajaran yang dibimbingnya. Guru yang demikian melupakan konsep multiple intelligence dan cara belajar yang berbeda dan khas pada setiap individu. Tidak semua siswa memiliki dominasi cara belajar yang bersifat audio. Siswa yang memiliki kemampuan audio yang dominan tentu akan puas dan baik kompetensinya dengan cara tersebut, namun siswa yang cenderung ke pembelajaran visual tidak akan memperoleh kompetensi yang memadai melalui proses pembelajaran yang dibimbing oleh guru tersebut.

Guru sains pada khususnya sering hanya menggunakan papan tulis sebagai tempat untuk menuliskan soal-soal yang akan ditugaskan kepada siswa. Memang ada juga guru sains yang menggunakan papan tulis tersebut untuk meminta siswa mengerjakan tugas/menunjukkan unjuk kerjanya. Penggunaan yang spatial hanya sekedar untuk menulis soal atau hanya SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 4 untuk tempat mengerjakan soal juga tidak tepat.

Informasi yang disampaikan selama proses pembelajaran tidak dapat diterima dalam paket yang utuh oleh sebagian siswa. Siswa hanya mengingat dan mungkin mencapai kompetensi sesuai dengan soal yang dilatihkan kepadanya, namun pemahaman terhadap konteks belajar dan penciptaan memori jangka panjang kurang mendapat tempat perkembangan dengan cara tersebut. Sebagian guru hanya menggunakan papan tulis untuk menuliskan kata-kata sulit yang ketika disampaikan secara lisan atau ketika didiktekan dapat menimbulkan kesalahan penafsiran oleh siswa. Penggunaan papan tulis untuk menuangkan kata-kata atau istilah yang sulit memang baik. Hal ini dapat membangun ingatan siswa terhadap konsep yang dituliskan, namun kondisi yang sama terjadi seperti pada masalah ke dua. Informasi yang disampaikan kepada siswa tidak utuh, tidak dalam satu paket, tetapi hanya tersegmentasi pada informasi yang sangat minimalis.

Teknik penulisan di papan tulis juga menjadi salah satu masalah tersendiri dalam penggunaannya. Guru-guru tertentu memang menggunakan papan tulis dalam intensitas yang sangat tinggi, namun penataan informasi yang akan disampaikan kurang baik. Guru menulis tidak sistematis. Informasi yang dituliskan diletakkan secara sembarangan tanpa memperhatikan susunan penulisan dan juga penataannya dalam kaitan antara bahan pembelajaran yang satu dengan yang lain.

Seringkali guru juga hanya terkesan sekedar menulis. Tulisan yang dituangkan pada papan tulis buruk sekali, tidak jelas, dan sulit untuk dibaca. Informasi yang disampaikan tumpang tindih dan acak- acakan. Tentu saja penggunaan papan tulis yang demikian juga sama sekali tidak memiliki arti, karena tidak memperhatikan prinsip kejelasan ide di dalam penggunaan papan tulis.

SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 5

Papan tulis juga sering digunakan sebagai sarana eksploitasi yang mematikan eksplorasi kompetensi siswa dan menunjukkan kemalasan guru. Guru-guru yang demikian memang sangat tinggi intensitas penggunaan papan tulisnya, namun tidak ada informasi berarti yang dapat diberikan dalam mengembangkan pencapaian kompetensi siswa. Papan tulis oleh guru ini dimanfaatkan sebagai media untuk menerapkan pembelajaran catat buku sampai habis.

Guru masuk ke dalam kelas, menuliskan isi buku yang dijadikan sebagai bahan referensi ke papan tulis. Siswa mencatat yang dituliskan guru dan mempelajarinya kembali dengan teknik menghafalkan. Tidak ada informasi berarti yang disampaikan oleh guru-guru yang demikian. Guru-guru tersebut hanya menjejalkan informasi ke dalam pikiran peserta didik dan menciptakan keenganan sebagian siswa untuk belajar, karena merasa tidak memperoleh manfaat kontekstual dari hanya sekedar menghafal.

Cara-cara Optimalisasi Penggunaan Papan Tulis Eksplorasi terhadap kompetensi siswa dapat dicapai dengan pemanfaatan papan tulis secara optimal. Papan tulis jika dimanfaatkan secara optimal tentu akan menjadi media yang efektif dalam pencapaian kompetensi hasil belajar siswa. Media atau teknologi yang dikatakan efektif untuk mengekplorasi kompetensi siswa ialah apabila:

(1) Digunakan untuk menyajikan informasi secara sistematis.

(2) Memperjelas ide-ide yang masih kabur dalam sumber belajar lain (buku paket).

(3) Memberikan penerangkan kontekstual terhadap isi pelajaran.

(4) Informasi yang disajikan dapat dilihat/dibaca dengan jelas oleh sebagian besar siswa.

(5) Kesan dari informasi yang disajikan menarik dan memiliki makna (misalnya dengan penggunaan warna, grafik, tabel).

(6) Dapat dimanfaatkan secara seimbang antara kegiatan guru dan kegiatan siswa.

Papan tulis dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk memenuhi SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 6 kriteria tersebut jika guru memperhatikan prinsip-prinsip dan cara penggunaannya. Jika papan tulis dianggap sebagai sebuah bidang utuh, maka bidang tersebut dapat dibagi secara khayal oleh guru menjadi tiga bagian. Bagian tersebut komposisinya adalah 20% di sebelah kiri, 60% di tengah, dan 20% di sebelah kanan (Lihat gambar).

Bagian kiri digunakan guru untuk menuliskan standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan indikator hasil belajar siswa atau yang sering juga dikenal sebagai tujuan pembelajaran. Bagian ini harus dipertahankan tidak dihapus sebelum pelajaran diakhiri. Bagian tengah dapat digunakan guru untuk menyajikan bahan pembelajaran dan juga digunakan sebagai tempat untuk unjuk kerja siswa dalam menyelesaiakan soal-soal latihan. Bagian tengah dapat ditulis-dihapus berkali-kali selama proses pembelajaran berlangsung.

Bagian kanan dari papan tulis digunakan untuk menuliskan kesimpulan-kesimpulan hasil proses pembelajaran. Tentunya kesimpulan tersebut harus disajikan secara sistematis dan dapat dibandingkan korelasinya dengan indikator hasil belajar. Jika siswa telah memiliki buku cetak dan sumber belajar yang lengkap, bagian di papan tulis kanan tetap perlu ditulis kembali sebagai rangkuman yang dapat mengingatkan keutuhan informasi selama proses pembelajaran.

Gambar 1. Teknik Pembagian Bidang Guna pada Papan Tulis SK Isi Materi Pembelajaran Kesimpulan KD (60%) Evaluasi Materi Penugasan Indikator Kata sulit dan definisinya (20%) (20%) SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 7 Tentu saja optimalisasi penggunaan papan tulis tidak hanya terletak pada teknik pembagian bidangnya.

Walaupun demikian, teknik pembagian bidang tetap harus menjadi prioritas di dalam penggunaan papan tulis sebelum menerapkan cara-cara yang lain. Sebab pembagian bidang merupakan cara utama untuk membuat informasi yang akan disampaikan tersusun secara sistematis dan teratur. Optimalisasi penggunaan papan tulis juga harus disertai dengan niat dan usaha guru untuk menuliskan informasi secara jelas dan cukup besar ukurannya.

Guru perlu melakukan pengamatan terhadap hasil tulisannya terutama bagi siswa yang duduk di barisan paling belakang dan juga siswa yang berada di pojok ruangan. Siswa yang berada pada posisi tersebut dapat saja tidak dapat melihat dengan jelas ukuran tulisanyang dituliskan oleh guru pada papan tulis. Jika tulisan terlalu kecil, maka guru harus memperbesar ukurannya. Apabila ketidakjelasan disebabkan oleh sudut pandang danposisi duduk siswa, maka siswa tersebut dapat diminta untuk pindah ke tempat yang sudut pandangnya lebih jelas. Penyajian informasi pada papan tulis juga harus diusahakan memiliki keragaman.

Dominasi tulisan yang padat dan sistem mencatat linear terbukti tidak memberikan kemampuan siswa mengembangkan daya ingat yang baik. Guru dapat mencoba bersama-sama siswa membuat tampilan informasi dalam berbagai bentuk yang lebih menarik. Grafik-grafik dan kurva mungkin dapat digambar dengan menggunakan spidol dan spidol yang berbeda-beda warnanya. Pelajaran ilmu sosial dapat saja memanfaatkan penyajian informasi dalam bentuk tabel atau skema. Guru juga dapat saja meminta siswa untuk membuat peta konsep sesuai dengan keperluan dan mempermudah proses mengingat informasi yang besar jumlahnya.

SMA KATOLIK GEMBALA BAIK - PONTIANAK - 2007- 8 Sebenarnya selain sebagai media untuk menulis, papan tulis juga dapat digunakan sebagai media untuk menempelkan atau menayangkan informasi. Poster-poster atau hasil pembuatan peta konsep siswa dan guru pada karton manila dapat saja ditempelkan pada papan tulis untuk menggantikan metode menulis. Jika papan tulis yang dimiliki sekolah berwarna putih, papan tulis tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti layar untuk menayangkan slide OHP atau slide dari LCD Proyektor. Kesimpulan Penggunaan papan tulis secara optimal dapat dimulai dengan cara menggunakan papan tulis secara sistematis dan menuliskan informasi dengan jelas.

Pengembangan dapat dilanjutkan oleh guru dan siswa disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kreativitas guru dan siswa. Alat-alat pendukung lainnya untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi papan tulis bagi pencapaian kompetensi siswa juga perlu dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah dan ketersediaan berbagai sarana pada sekolah.

Referensi

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and

Learning/CTL). Jakarta: Direktoran Pendidikan Lanjutan Pertama, Dinas Pendidikan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Penyusunan Silabus dan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Departemen Pendidikan Nasional.

Dryden Gordon, dan Jeannette Vos. (2002). Revolusi Cara Belajar Bagian I: Keajaiban Pikiran. Bandung: Kaifa.

Mukhtar, dan Martinis Yamin. (2002). Sepuluh Kiat Sukses Mengajar di Kelas. Jakarta: Nimas Multima.

Sudjana, Nana, dan Ibrahim. (2001). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Tondjowidjojo. (1985). Kunci Sukses Pendidik. Yogyakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar