Minggu, 17 Mei 2009

PEMANFAATAN MUSEUM SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN

Artikel:
PEMANFAATAN MUSEUM SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN


Judul: PEMANFAATAN MUSEUM SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian IPS / SOCIAL SCIENCE.
Nama & E-mail (Penulis): Arief Achmad Mangkoesapoetra
Saya Guru di SMAN 21 Bandung
Topik: Model Pembelajaran
Tanggal: 16 Agustus 2005


PEMANFAATAN MUSEUM SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN
Oleh :
Drs. Arief Achmad Msp., M.Pd.
Guru SMAN 21 Bandung

I. Pendahuluan

Pendidikan IPS dalam proses pembelajarannya di tingkat persekolahan tidak dapat dilepaskan dari museum, karena misi dari pendidikan IPS adalah "Menanamkan pendidikan nilai, moral, etika dan sikap berbudi luhur serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa kepada siswa agar mereka dapat menjadi Warga negara yang baik, serta mampu memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Pancasila dan UUD 1945". Misi pendidikan IPS tersebut salah satunya dapat dicapai melalui kegiatan edukasi di museum, karena menurut Hunter (1988), tujuan pendidikan dengan pendekatan warisan budaya adalah untuk memperkuat pengertian siswa tentang konsep dan hasil seni, kecerdasan dalam bidang teknologi, serta kontribusi perbedaan kelompok sosial ekonomi pria dan wanita.

Sebagai suatu institusi yang menyajikan berbagai hasil karya dan cipta serta karsa manusia sepanjang zaman, Museum merupakan tempat yang tepat sebagai sumber pembelajaran IPS; karena melalui benda yang dipamerkannya, pengunjung dapat belajar tentang nilai dan perhatian serta kehidupan generasi pendahulu sebagai bekal di masa kini dan gambaran untuk kehidupan di masa mendatang. Sehingga tujuan dari pendidikan IPS, yakni mendidik siswa untuk menjadi warga negara yang baik yang mampu melestarikan budaya bangsa dapat terwujud.

II. Persepsi Masyarakat terhadap Museum

Berbagai museum yang berdiri megah, mempunyai koleksi lengkap dan dipelihara dengan biaya yang tidak sedikit, kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Persepsi masyarakat terhadap museum, hingga kini, masih jauh dari harapan, artinya : sedikit sekali orang yang tahu dan mau memahami bahwa museum bermanfaat bagi dunia pendidikan dan rekreasi. Mereka umumnya memandang museum tidak lebih dari gudang tempat penyimpanan barang tua dengan suasana ruangan yang menyeramkan.

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa masyarakat yang membutuhkan museum relatif masih sedikit. Hal ini dapat kita saksikan dari minimnya jumlah pengunjung museum, baik secara perorangan maupun rombongan/kelompok. Selain itu, kebanyakan pengunjung museum yang berkunjung ke museum-museum yang ada di Indonesia, umumnya sebagian terbesar karena tugas sekolah, dan hanya sedikit yang datang karena ingin tahu atau keinginan sendiri. Kondisi ini jauh berbeda dengan keadaan di negara-negara maju, di mana kunjungan ke museum sudah menjadi suatu kebutuhan, terutama bagi siswa, karena merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.

III. Pengertian Museum

Kata 'museum' berasal dari bahasa Yunani kuno, 'museion', yang artinya "kuil untuk melakukan pemujaan terhadap 9 Dewi Muse". Dalam mitologi klasik, Muse adalah dewa-dewa literature (terutama puisi), musik, tarian, dan semua yang berkaitan dengan keindahan, pengetahuan, dan ilmu pengetahuan; mereka semua bernyanyi dan menari di bawah pengawasan Apollo yang dalam fungsi ini mempunyai nama kepanjangan Musagates (pimpinan para Muse). Kesembilan dewi tersebut (Calliope, Clio, Erato, Euterpe, Thalia, Melpomene, Polyhimnia, Terpsichore, dan Urama) merupakan putri-putri dari Dewa Zeus dan Mnemosyne-dewa tertinggi dalam pantheon Yunani Kuno. Mereka dipuja dalam suatu acara ritual untuk melengkapi pengabdian masyarakat pada Zeus (Encyclopedia Americana, 1970).

Menurut Boyer (1996), pada dunia kepurbakalaan, museum mempunyai dua pengertian : (1) tempat para muses; serta (2) tempat ilmu pengetahuan dan menuntut ilmu-seperti pada museum Alexandria yang didirikan abad ke-3 SM.

Dalam Collier's Enclopedia, vol. 16 (1963 : 716) disebutkan, bahwa museum adalah suatu institusi yang terbuka untuk umum dan pengelolaannya demi kepentingan umum untuk tujuan konservasi, pemeliharaan, pendidikan, pengelompokkan, serta memamerkan objek yang mempunyai nilai pendidikan dan budaya. Sedangkan Parker (1945) menerangkan, bahwa museum dalam pengertian modern adalah suatu lembaga yang aktifitasnya mengabdikan diri pada tugas interpretasi dunia manusia dan lingkungan.

Adapun Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum, mendefinisikan museum sebagai lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti material hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

IV. Pemanfaatan Museum sebagai Sumber Pembelajaran IPS

Pada proses pembelajaran pendidikan IPS, museum merupakan bagian yang tidak terpisahkan, karena museum sebagai institusi pendidikan, mengajarkan kita tentang objek perhatian dan nilai manusia masa lalu (Boyer, 1996). Selanjutnya Sunal dan Haas (1993 : 294) menegaskan, "a trip a museum or restoration is often reported as a positive memory of the study of History". Apapun tipe pengalaman yang terdapat di museum, seorang siswa akan belajar lebih baik apabila diberi kesempatan untuk belajar sebelum dan setelah kunjungan ke museum.

Siswa diajak berkunjung ke museum, tujuannya adalah untuk mengamati objek yang dipamerkannya. Selama di museum, diharapkan pikiran mereka bekerja dan objek pameran yang diamatinya dapat menjadi alat belajar. Observasi siswa di museum merupakan batu loncatan bagi munculnya gagasan dan ide baru, karena di sini mereka dirangsang untuk menggunakan kemampuan berfikir kritisnya. Beberapa kemampuan belajar siswa tersebut, menurut Takai dan Connor, 1998) mencakup :
1. membandingkan dan membedakan, pengenal persamaan dan perbedaaan objek;
2. mengidentifikasi dan mengklasifikasi, mengenal dan mengelompokkan benda pada kelompok yang semestinya;
3. menyampaikan deskripsi secara verbal atau tulisan objek yang ditampilkannya;
4. meramalkan apa yang akan terjadi; dan
5. menyimpulkan, mempresentasikan kesimpulan informasi yang dikumpulkan dalam laporan singkat dan padat.

Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kunjungan ke museum, diperlukan suatu kegiatan persiapan sebelum melakukan kunjungan. Jarolimek dan Parker (1993 : 126), menyatakan, bahwa pemanfaatan museum secara optimal dapat dilakukan oleh siswa setelah mereka diberi kesempatan membentuk penyesuaian materi yang diajarkan dengan materi yang dipamerkan. Maksudnya, kunjungan dilakukan setelah siswa melakukan eksplorasi ide dan konsep di ruang kelas melalui membaca, belajar, dan diskusi yang dilakukan sebelum memulai suatu kegiatan. Setelah mereka siap untuk mengklarifikasi ide, mereka mampu menjawab pertanyaan dan dapat memperkaya pengertian mereka setelah kunjungan ke museum. Ketika menugaskan siswa ke museum, sebelumnya guru akan mempersiapkan kelas melalui identifikasi beberapa pertanyaan relevan berkaitan dengan item yang akan diamati.

V. Penutup

Guru belum terbiasa dan terlatih dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran, kenyataan ini terjadi karena dalam pembelajaran IPS guru lebih terfokus pada kegiatan pembelajaran tatap muka dalam kelas (classroom meeting) dan jarang atau bahkan tidak pernah melakukan pembelajaran di luar ruang kelas. Untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS, guru perlu melakukan kegiatan pembelajaran IPS di luar kelas (Sumaatmadja, 2002).

Pemanfaatan museum sebagai sumber pembelajaran pendidikan IPS di tingkat persekolahan, belum dilakukan secara optimal, karena kurikulum pendidikan IPS yang berlaku sekarang tidak menjadikan kegiatan kunjungan ke museum sebagai suatu kegiatan yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran IPS di tingkat persekolahan. Akibatnya, guru lebih banyak menjadikan kegiatan kunjungan ke museum hanya sebagai kegiatan rekreatif belaka, bukan sebagai kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS.

Untuk meningkatkan kemampuan guru IPS di tingkat persekolahan dalam memanfaatkan museum sebagai sumber pembelajaran, antara lain melalui kegiatan MGMP, perlu dirancang suatu kegiatan pelatihan bagi guru IPS berkaitan dengan pemanfaatan museum sebagai sumber pembelajaran IPS. Diharapkan melalui kegiatan ini, para guru IPS akan menjadi lebih mampu dan terlatih dalam memanfaatkan museum sebagai sumber pembelajaran IPS. Semoga!

PUSTAKA ACUAN

Boyer, C.L. (1996). Using Museum Resources in the K-12 Social Studies Curriculum. [Online]. Tersedia : http://www.ed.gov/databases/ERIC Digest/ index/ ED412174 [26 Oktober 2002].

Encyclopedia Americana (1970). New York : Americana Corporation.

Hunter, K. (1988). Heritage Education in the Social Studies. ERIC Digest. [Online]. Tersedia : http://www.ed.gov/databases/ERICDigest/Index/ED30036. [22 Januari 2003]

Jarolimek, J. and Parker, W.C. (1993). Social Studies in Elementary Education. New York : MacMillan Publishing Company.

Sumaatmadja, N. (2002). "Pembelajaran IPS pada tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah". Makalah pada Seminar nasional dan Musda I HISPIPSI Jawa Barat, UPI Bandung.

Sunal, C.S. and Haas, M.A. (1993). Social Studies and The Elemantary/Middle School Student. New York : Harcourt Brace Jovanovich College Publisher.

Takai, R.T. and Connor, J.D. (1998). Museum + Learning : A Guide for Family Visits. [Online]. Tersedia : http://www.ed.gov/pubs/mueum.html [27 Maret 2003].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar