Minggu, 01 Maret 2009

Asyiknya Meneliti



Ternyata Meneliti itu Asyik Lho!





Budaya meneliti Kita Masih Rendah

Semarang, CyberNews. Gairah melakukan kegiatan penelitian atau riset terutama dalam bentuk publikasi ilmiah pada ilmuwan Indonesia, diketahui hingga kini masih rendah. Padahal, rendahnya publikasi ilmiah peneliti di perguruan tinggi Indonesia pada jurnal ilmiah bereputasi internasional, akan mengahalangi masuk ke dalam kategori world class university.

"Menurun drastinya peringkat ketiga perguruan tinggi Indonesia, harus dikhawatirkan. Menurut data THES, pada tahun 2008 menunjukkan bahwa 3 PT Indonesia (UI, ITB, UGM), masuk dalam peringkat 500 tertinggi di dunia. Padahal pada 2006 dan 2007 lalu, UI menduduki peringkat 250 dan 395, ITB peringkat 258 menjadi 369, serta UGM berada di urutan 270 dan 360," kata Anggota Dewan Riset Daerah Jateng, Prof Dr Mudjahirin Thohir.

Hal tersebut, menurut dia, menjadi PR berat bagi pemerintah guna menggairahkan ilmuwan khususnya akademisi kampus dalam melakukan kegiatan penelitian secara berkala dan terarah.

"Jujur saja, bagi dosen atau seseorang yang belum tahu jalur pembiayaan penelitian, bisa kesulitan melakukan penelitian yang akurat. Sebab, selain dibutuhkan ketelitian, hasil penelitian yang bermutu ditentukan dari ketersediaan dana yang cukup besar untuk menyelesaikan sebuah penelitian," ungkapnya.

Berdasarkan data yang ia peroleh dari Science Direct Elsevier, menunjukkan bahwa sejak tahun 1996 hasil riset Indonesia ialah sekitar 500, hingga tahun 2007 tetap masih kurang dari 1.000 hasil penelitian, yang setara dengan Filipina dan Vietnam.

"Kita ketinggalan jauh dengan Thailand yang mengalami kelonjakan tajam out put riset dari sekitar 1.000 menjadi 5.500 pada tahun 2007. Sementara Malaysia dari sekitar 1.000 menjadi lebih dari 3.500 pada tahun 2007," kata dia yang juga Dosen Fakultas Ilmu Bahasa Undip Semarang.

Jaga Mutu dan Orisinalitas

Meski gairah riset harus ditingkatkan, tetapi hasil riset itu, tetap harus dijaga mutu dan orisinalitasnya. "Jangan sampai kita menggalakkan kegiatan penelitian, tetapi mayoritas merupakan hasil kutipan atau bahkan plagiatisme. Ini sangat berbahaya dan tergolong kejahatan intelektual," tuturnya.

Ada beberapa metode yang harus dikuasai oleh ilmuwan, agar jurnal lebih terarah, singkat, padat, tapi berisi. Yakni dengan eksposisi (menguraikan ide sesuai tema), deskripsi (melukiskan keadaan nyata), narasi (menceritakan sejarah pertumbuhan), argumentasi (menekankan proses penalaran).

Redaktur Jurnal Millah UII Yogyakarta, Saiful Amin Ghofur menambahkan, penulisan jurnal harus lebih mementingkan universalitas dibanding kenasionalan apalagi lokalitas.

"Orisinalitas jurnal, memang menjadi harga mati. Kebiasaan plagiatisme pada ilmuwan Indonesia harus dihilangkan, sebab akan memperburuk citra Indonesia di mata negara asing," tandasnya.

( Hadziq Jauhary / CN26 )


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar