Rabu, 18 Maret 2009

contoh laporan observasi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 dijelaskannbahwa:



Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis
nsertanbertanggungnjawabn(2005:65-66).



Upaya pembaharuan pendidikan sebagaimana yang tertuang di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, adalah re-orientasi pendidikan ke arah pendidikan berbasis kompetensi. Di dalam pembelajaran berbasis kompetensi tersebut tersirat adanya nilai-nilai pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, sebagai pribadi yang integral, produktif, kreatif dan memiliki sikap kepemimpinan dan berwawasan keilmuan sebagai warga negara yang bertanggung-jawab. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, disusunlah kurikulum yang menurut Undang - Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Untuk melihat dan memudahkan ketercapaian tujuan tersebut, maka dibutuhkan suatu bentuk penilaian atau evaluasi. Evaluasi adalah suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menggunakan patokan-patokan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh evaluasi adalah dengan diadakannya Ujian Nasional (UN). Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 77 Tahun 2008, tanggal 5 Desember 2008, menurut pasal 1 (1) pada Permendiknas tersebut dijelaskan, bahwa Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan menengah. Dan mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada penjelasan pasal 68 butir b, hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu dasar seleksi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka Ujian Nasional penting untuk di laksanakan di sekolah. Dalam laporan observasi ke sekolah ini akan dibahas mengenai pelaksanaan UN di SMA Negeri 113 Jakarta.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah setuju dengan diadakannya Ujian Nasional
  2. Apa alasan diadakannya Ujian Nasional
  3. Bagaimana persiapan dan kegiatan sekolah SMAN 113 Jakarta dalam menghadapi Ujian Nasional

1.3. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penyusunan laporan observasi ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui pelaksanaan Ujian Nasional di tingkat sekolah menengah.
  2. Mengetahui pendapat sekolah SMAN 113 Jakarta tentang diadakannya Ujian Nasional
  3. Mengetahui bagaimana persiapan dan kegiatan sekolah SMAN 113 Jakarta dalam menghadapi Ujian Nasional.

1.4. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan observasi ini adalah :

1. Studi Pustaka, (memperoleh informasi dari buku dan internet)

2. Observasi

3. Wawancara

1.5. Sistematika Penulisan

Agar data tersusun secara sistematis maka laporan ini disusun dengan susunan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Perumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Metode Penelitian

1.5 Sistematika Penulisan

BAB II TEORI DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengertian UN

2.2 Tujuan UN

2.3 Pelaksanaan UN

2.4 Pelaksanaan UN di SMA Negeri 113 Jakarta

2.4.1 Profil SMA Negeri 113 Jakarta

2.4.2 Tanggapan Mengenai UN di SMA Negeri 113 Jakarta

2.4.3 Persiapan dan kegiatan yang dilakukan di SMA Negeri 113 Jakarta menjelang UN serta keterangan lain tentang UN

2.4.4 Proses Observasi di SMAN 113 Jakarta

2.4.5 Pengalaman UN di SMAN 113 Jakarta

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ujian Nasional (UN)

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 77 Tahun 2008, tanggal 5 Desember 2008, menurut pasal 1 (1) pada Permendiknas tersebut dijelaskan, bahwa Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan menengah. Dan mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada penjelasan pasal 68 butir b, hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu dasar seleksi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka Ujian Nasional penting untuk di laksanakan di sekolah.

Ujian Akhir Nasional atau biasa disebut UAN adalah bentuk ujian yang akan menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau tidak, dengan mengacu pada kompensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam keompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

2.2 Tujuan Ujian Nasional

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 77 Tahun 2008, tanggal 5 Desember 2008, menurut pasal 2 pada Permendiknas tersebut dijelaskan, bahwa Ujian Nasional bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.3 Pelaksanaan UN

Jadwal UN

  1. UN dilakukan satu kali, yang terdiri atas UN Utama dan UN Susulan.
  2. UN Susulan hanya berlaku bagi peserta didik yang sakit atau berhalangan dan dibuktikan dengan surat keterangan yang sah.
  3. UN dilaksanakan secara serentak.
  4. Jadwal pelaksanaan UN sebagai berikut.

Jadwal Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2008/2009

    1. Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA)

No.

Hari dan Tanggal

Jam

Mata Pelajaran

Program IPA

Program IPS

Program Bahasa

Program Keagamaan

1.

UN Utama

Senin 20 April

2009

UN Susulan

Senin 27 April

2009

08.00–10.00

11.00–13.00

Bahasa

Indonesia

Biologi

Bahasa

Indonesia

Sosiologi

Bahasa

Indonesia

Sosiologi Budaya/

Antropologi

Bahasa

Indonesia

Ilmu Kalam

2.

UN Utama

Selasa 21 April

2009

UN Susulan

Selasa 28 April

2009

08.00–10.00

Bahasa

Inggris

Bahasa

Inggris

Bahasa

Inggris

Bahasa

Inggris

3

UN Utama

Rabu, 22 April

2009

UN Susulan

Rabu 29 April

2009

08.00–10.00

Matematika

Matematika

Matematika

Matematika

4

UN Utama

Kamis 23 April

2009

UN Susulan

Kamis 30 April

2009

08.00–10.00

Fisika

Geografi

Sastra

Indonesia

Ilmu Hadist

5

UN Utama

Jumat, 24 April

2009

UN Susulan

Jumat, 1 Mei

2009

08.00–10.00

Kimia

Ekonomi

Bahasa

Asing

Ilmu Tafsir

Jumlah butir soal dan alokasi waktu UN untuk masing-masing satuan

pendidikan adalah sebagai berikut:

a. SMA/MA Program IPA

No.

Mata Pelajaran

Jumlah Butir Soal

Alokasi Waktu

1.

Bahasa Indonesia

50 butir

120 menit

2.

Bahasa Inggris

50 butir

120 menit

3.

Matematika

40 butir

120 menit

4.

Fisika

40 butir

120 menit

5.

Kimia

40 butir

120 menit

6.

Biologi

40 butir

120 menit

b. SMA/MA Program IPS

No.

Mata Pelajaran

Jumlah Butir Soal

Aokasi Waktu

1.

Bahasa Indonesia

50 butir

120 menit

2.

Bahasa Inggris

50 butir

120 menit

3.

Matematika

40 butir

120 menit

4.

Ekonomi

40 butir

120 menit

5.

Sosiologi

40 butir

120 menit

6.

Geografi

40 butir

120 menit

c. SMA/MA Program Bahasa

No.

Mata Pelajaran

Jumlah Butir Soal

Alokasi Waktu

1.

Bahasa Indonesia

50 butir

120 menit

2.

Bahasa Inggris

50 butir

120 menit

3.

Matematika

40 butir

120 menit

4.

Sastra Indonesia

40 butir

120 menit

5.

Sejarah Budaya/

Antropologi

40 butir

120 menit

6.

Bahasa Asing**):

50 butir

120 menit

Bahasa Arab

Bahasa Jepang

Bahasa Jerman

Bahasa Prancis

Bahasa Mandarin

*) Terdiri atas 15 soal listening comprehension atau 15 soal reading untuk penyandang tunarungu dan 35 soal pilihan ganda.

**) Sesuai dengan pilihan

d. MA Program Keagamaan

No.

Mata Pelajaran

Jumlah Butir Soal

Aokasi Waktu

1.

Bahasa Indonesia

50 butir

120 menit

2.

Bahasa Inggris*)

50 butir

120 menit

3.

Matematika

40 butir

120 menit

4.

Ilmu Tafsir

40 butir

120 menit

5.

Ilmu Hadist

40 butir

120 menit

6.

Ilmu Kalam

40 butir

120 menit

*) Terdiri atas 15 soal listening comprehension atau 15 soal reading untuk penyandang tunarungu dan 35 soal pilihan ganda.

2.4 Pelaksanaan UN di SMA Negeri 113 Jakarta

2.4.1 Profil SMAN 113 Jakarta

Nama Sekolah : SMAN 113

Propinsi : DKI Jakarta

Kecamatan : Cipayung

Kelurahan : Lubang Buaya

Jalan : Al - Baidho I

Kelompok Sekolah : Negeri

Telepon : (021) 8408034

Visi :

Akademis, Religius, dan Kekeluargaan

Misi :

Membentuk siswa-siswi yang beriman teguh, berhati sabar, dan tabah, berakhlak mulia, cerdas dan berwawasan luas, disayangi orang tua dan bermartabat dihargai sesama teman serta masyarakat sehingga menjadi pemuda-pemudi yang ideal dan pelopor bagi kemajuan bangsa, Negara, dan Agamanya.

2.4.2 Tanggapan Mengenai UN di SMAN 113 Jakarta

Ujian Akhir Nasional atau biasa disebut UAN adalah bentuk ujian yang akan menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Menurut Bu Puji, selaku wakil kepala sekolah sekaligus perwakilan pendapat dari sekolah merasa setuju dengan di adakannya Ujian Nasional oleh pemerintah, karena dengan diadakannya Ujian Nasional maka sekolah akan mempunyai standarisasi. Dan pemerintah sebagai penanggung jawab dari keberhasilan belajar siswa bisa menghitung dimana letak-letak atau pemetaan daripada sekolah-sekolah. Bila dilihat dari kelebihan dan kekurangannya mengenai Ujian Nasional beliau mengutarakan sebagai berikut :

· Kelebihan

1. Pelaksanaan UN tersebut diadakan serentak di semua sekolah seluruh Indonesia baik negeri ataupun swasta.

2. Komputerisasi

3. Tidak ada permainan, sekolah tidak berhak untuk permainkan nilai jadi benar-benar murni hasil anak. Sehingga akan terlihat keberhasilan dari sekolah masing-masing, anak pun menjadi terpacu serta mengingatkan anak untuk rajin belajar dan tidak menyepelekan ujian nasional.

· Kelemahan

1. Sebenarnya UN itu tidak lemah hanya ada oknum yang sengaja untuk mengacaukan, dengan memberikan bocoran. Walaupun banyak asumsi yang mengatakan bahwa sekolah pun turut memberikan bocoran tapi hal ini tidak dibenarkan, ini hanya ulah oknum luar yang ingin mengambil keuntungan dengan adanya UN dan beberapa oknum yang menginginkan UN ditiadakan.

2. UN yang sekarang belum mencerminkan kepintaran siswa, karena pemberian soalnya hanya berbentuk pilihan ganda saja sehingga siswa kadang hanya menebak-nebak jawabannya, jadi menurut sekolah sebagai masukan kepada pemerintah agar soal ujian nasionalnya tidak hanya berbentuk pilihan ganda tetapi juga dalam bentuk essay. Dengan begitu, bisa diketahui sampai sejauh mana siswa memahami pelajaran yang diberikan di sekolah dan mampu mengembangkan pikiran untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Selain itu, sebagai bahan penguat tentang pelaksanaan ujian nasional, kita juga harus mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 77 Tahun 2008, tanggal 5 Desember 2008, menurut pasal 3 pada Permendiknas tersebut dijelaskan, bahwa hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk :

a. Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;

b. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;

c. Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan;

d. Dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

2.4.3 Persiapan dan kegiatan yang dilakukan di SMA Negeri 113 Jakarta menjelang UN serta keterangan lain tentang UN.

Ujian Nasional untuk tahun 2008/2009 akan dilaksanakan pada tanggal 20-25 April 2009. Sedangkan untuk UN susulan akan diadakan mulai tanggal 27 April 2009. Mata pelajaran yang akan diujikan pada UN SMA/MA :

a. Program IPA, meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi;

b. Program IPS, meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi;

dengan rincian jadwal ujian nasional sebagai berikut :

No.

Hari dan Tanggal

Jam

Mata Pelajaran

Program IPA

Program IPS

1.

UN Utama

Senin 20 April

2009

UN Susulan

Senin 27 April

2009

08.00–10.00

11.00–13.00

Bahasa

Indonesia

Biologi

Bahasa

Indonesia

Sosiologi

2.

UN Utama

Selasa 21 April

2009

UN Susulan

Selasa 28 April

2009

08.00–10.00

Bahasa

Inggris

Bahasa

Inggris

3

UN Utama

Rabu, 22 April

2009

UN Susulan

Rabu 29 April

2009

08.00–10.00

Matematika

Matematika

4

UN Utama

Kamis 23 April

2009

UN Susulan

Kamis 30 April

2009

08.00–10.00

Fisika

Geografi

5

UN Utama

Jumat, 24 April

2009

UN Susulan

Jumat, 1 Mei

2009

08.00–10.00

Kimia

Ekonomi

Jumlah butir soal dan alokasi waktu UN pada program IPA dan IPS adalah sebagai berikut :

a. SMA/MA Program IPA

No.

Mata Pelajaran

Jumlah Butir Soal

Alokasi Waktu

1.

Bahasa Indonesia

50 butir

120 menit

2.

Bahasa Inggris

50 butir

120 menit

3.

Matematika

40 butir

120 menit

4.

Fisika

40 butir

120 menit

5.

Kimia

40 butir

120 menit

6.

Biologi

40 butir

120 menit

b. SMA/MA Program IPS

No.

Mata Pelajaran

Jumlah Butir Soal

Aokasi Waktu

1.

Bahasa Indonesia

50 butir

120 menit

2.

Bahasa Inggris

50 butir

120 menit

3.

Matematika

40 butir

120 menit

4.

Ekonomi

40 butir

120 menit

5.

Sosiologi

40 butir

120 menit

6.

Geografi

40 butir

120 menit

Menurut sekolah, standar nilai yang ditetapkan pemerintah yang harus dilalui siswa agar dinyatakan lulus untuk tahun pelajaran 2008/2009 yaitu jika memenuhi standar kelulusan UN dengan memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Dan untuk sekolah-sekolah yang memang mau dapat menetapkan batas kelulusan diatas nilai yang sudah ditetapkan pemerintah. Selain dari nilai ujian, terdapat kriteria lain dimana siswa juga harus memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran:

(a) kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia,

(b) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian,

(c) kelompok mata pelajaran estetika, dan

(d) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan

Untuk menghadapi UN, SMA Negeri 113 Jakarta melakukan persiapan, diantaranya:

· Melakukan sosialisasi dengan orang tua murid

· Sosialisasi dengan anak

· Pembahasan soal-soal

· Analisa soal try out

· Pendalaman Materi

· Bagi guru ada sosialisasi seperti bedah SKL bersama tim MGMP

· Mengadakan seminar seperti career day, bedah kampus dan bimbingan belajar.

Selain itu, sekolah juga memperhatikan persiapan dari segi siswanya misalnya beberapa persyaratan yang harus dimiliki siswa agar dapat mengikuti UN, yaitu :

· Peserta didik yang belajar pada tahun terakhir di satuan pendidikan SMA dan MA berhak mengikuti Ujian Nasional (UN); artinya siswa tersebut terdaftar di suatu sekolah dan ikut belajar

· Peserta didik yang memiliki laporan lengkap penilaian hasil belajar pada satuan pendidikan sampai dengan semester I tahun terakhir.

· Peserta didik yang memiliki ijazah atau surat keterangan lain yang setara, atau berpenghargaan sama, dengan ijazah dari satuan pendidikan yang setingkat lebih rendah; artinya harus punya ijazah SMP

· Peserta didik yang tidak lulus tahun lalu bisa ikut ujian nasional tahun 2008/2009; maksudnya peserta yang tidak lulus UN pada tahun pelajaran 2006/2007 dan/atau 2007/2008 berhak mengikuti UN 2008/2009 dengan mendaftar di sekolah/madrasah asal atau sekolah/madrasah lain yang ditetapkan sebagai penyelenggara UN dengan menyerahkan surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) yang telah disahkan oleh sekolah/madrasah.

· Sedangkan untuk persyaratan dari segi biaya dalam mengikuti UN, menurut sekolah tidak ada karena biaya tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah pusat dan daerah. Untuk pengadaan kartu UN pun pengadaannya berasal dari pemerintah.

· UN Susulan hanya berlaku bagi peserta didik yang sakit atau berhalangan dan dibuktikan dengan surat keterangan yang sah, UN susulan diadakan mulai tanggal 27 April sampai 1 Mei 2009. Tapi, sekolah juga bisa menanyakan kalau memang siswa yang sakit tersebut siap untuk ujian nasional saat itu di Rumah Sakit, maka sekolah akan membawakan soal ujian langsung kesana dan diawasi pelaksanaannya oleh pengawas.

Dalam melakukan persiapan Ujian Nasional, atau bahkan mengaca pada pelaksanaan UN tahun-tahun sebelumnya, maka pasti banyak kendala yang juga harus diatasi. Menurut hasil wawancara di SMAN 113 Jakarta, selama ini di sekolah tersebut lancar-lancar saja ketika pelaksanaan UN, mungkin hanya ada sedikit hambatan yang bisa dibilang umum sering terjadi bahkan di sekolah-sekolah lain, seperti :

· Terkadang ada siswa yang tidak membawa kartu UN

· Siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal seperti;

- Matematika dan Fisika untuk program IPA

- Matematika dan Ekonomi untuk program IPS

Untuk mengatasi hal tersebut, maka sekolah melakukan berbagai upaya seperti :

· Bagi siswa yang tidak membawa kartu UN, maka harus melapor kepanitia untuk diberikan kartu ujian sementara

· Bagi siswa yang mengalami kesulitan untuk mengerjakan soal-soal UN, maka sebelumnya sekolah mencoba lebih memperbanyak pendalaman materi dan pembahasan serta analisa soal-soal try out. Selain itu, sekolah juga harus bisa menganalisa kelemahan-kelemahan siswa tersebut dan terus dimotivasi untuk meningkatkan belajarnya.

Selain dari persyaratan dari segi siswanya, sekolah juga mempersiapkan tata ruang untuk persiapan UN nanti. Ruangan tersebut ditata sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah yaitu :

· Ruang kelas yang digunakan aman dan memadai untuk UN;

· Setiap ruang ditempati paling banyak 20 peserta, dan 1 meja untuk pengawas UN;

· Setiap meja diberi nomor peserta UN;

· Setiap ruang UN disediakan denah tempat duduk peserta UN;

· Setiap ruang UN disediakan lak/segel;

· Gambar atau alat peraga yang berkaitan dengan materi UN dikeluarkan dari ruang UN;

· Tempat duduk peserta UN diatur sebagai berikut:

- Satu bangku untuk satu orang peserta UN;

- Jarak antara meja yang satu dengan yang lain disusun dengan

mempertimbangkan jarak antara peserta yang satu dengan peserta yang lain minimal 1 (satu) meter;

- Penempatan peserta UN disesuaikan dengan urutan nomor peserta UN

Untuk pengawasan di setiap ruang UN dilakukan oleh 2 orang pengawas. Pengawas ruangan ditetapkan oleh penyelenggara UN Tingkat Kota atau Kabupaten. Pengawasan di SMAN 113 dilaksanakan secara silang antar sekolah.

Pihak sekolah juga menjelaskan mengenai prosedur pengambilan soal UN, yang ternyata soal tersebut diambil ketika hari H pelaksanaan UN tapi lebih pagi sekitar pukul 06.00 karena UN akan dilaksanakan pukul 08.00. sekolah mengambil soal tersebut ke sanggar 13 di SMAN 48 Jakarta. Jadi sebelumnya soal tersebut berasal dari pusat kemudian didistribusikan ke Provinsi, setelah itu dari Provinsi didistribusikan kembali ke Kabupaten, dan Kabupaten mendistribusikan ke setiap sanggar. Terakhir setiap sekolah mengambil sendiri soal tersebut ke sanggar masing-masing yang telah ditentukan dengan dibawah pengawasan dari pihak panitia seperti dari perguruan tinggi negeri, pihak keamanan, dan lain-lain yang dulu di sebut tim independen dengan berita serah terima.

Untuk proses penilaian UN nantinya, menurut sekolah sangat tertutup sekali. Karena dari sekolah hasil UN langsung dilem rapat dan di berikan ke sanggar di SMAN 48 untuk di proses selanjutnya disana.

Sebagai akhir dari wawancara, pihak sekolah mencoba mengungkapkan harapan kedepan berkaitan dengan UN, yaitu:

1. Menurut Kepala Sekolah :

Diharapkan kepada pemerintah agar turut memperhatikan sekolah-sekolah yang berada di daerah-daerah terpencil atau desa yang sangat membutuhkan bantuan sarana dan prasarana sekolah agar lebih memadai. Seperti yang kita tahu bahwa disana banyak sekolah yang sebenarnya sudah tidak layak ditempati karena bangunannya yang sudah hampir roboh sehingga anak-anak yang belajar disana terpaksa harus mengungsi, begitupun ketika musim hujan tiba banyak sekolah yang kebanjiran sehingga sekolah harus diliburkan. Selain itu, berkaitan dengan UN pemerintah kan menetapkan UN untuk seluruh Indonesia, mungkin untuk sekolah-sekolah yang ada di kota-kota besar tidak mengalami masalah dengan sarana prasarana untuk proses belajar atau praktek tapi yang dipermasalahkan di sini adalah sekolah yang ada di daerah terpencil atau desa-desa yang mau tidak mau juga harus mengikuti standar nilai dari pemerintah tapi dalam proses pembelajaran dan praktek mereka tidak bisa melakukannya dengan baik karena mereka memang tidak mempunyai fasilitas belajar yang memadai. Jadi hal ini dianggap tidak adil bagi sekolah-sekolah di daerah terpencil.

2. Menurut Wakil Kepala Sekolah :

Harapan yang pertama, diharapkan agar pelaksanaan UN menjadi semakin lebih baik. Mungkin dari pihak pemerintah, agar pelaksanaan soal UN tidak hanya dalam bentuk pilihan ganda saja tetapi juga dalam bentuk essay. Hal itu dikarenakan agar siswa menjadi terlatih untuk mengembangkan pikiran dan sekolah pun menjadi lebih tahu sampai dimana kemampuan siswa dalam memahami pelajaran tersebut. Selain itu siswa juga tidak asal tebak menebak saja jawabannya karena perlu kemampuan berpikir.

Harapan yang kedua, adalah agar pihak-pihak yang sudah mengacaukan UN misalnya yang suka memberikan bocoran soal agar tidak lagi melakukan hal tersebut karena itu akan merugikan calon pemuda dalam pendidikan masa depan. Sebaiknya lakukanlah hal yang positif dan berguna demi kemajuan pendidikan bangsa.

Proses Observasi di SMAN 113 Jakarta

Pada hari Sabtu, 14 Februari 2009, sekitar pukul 08.00 WIB Saya datang ke SMAN 113 untuk meminta izin observasi di sana. Sebelumnya Saya mendatangi ke pos satpam untuk bertanya harus bertemu siapa dan mengisi buku tamu. Kebetulan Saya memang mengenal satpam yang menjaga disitu, namanya Pak Yadi. Pak Yadi membawa buku tamu tersebut untuk diserahkan dan disetujui oleh Kepala Sekolah. Jadi, Saya harus menunggu untuk persetujuan kepala sekolah. Tidak berapa lama, pak Yadi mendatangi Saya dan mengantarkan Saya untuk bertemu Wakil Kepala Sekolah bidang Humas. Selama perjalanan menuju ke ruang wakil kepala sekolah tersebut, Saya bertemu dengan beberapa guru yang masih ingat dengan Saya dan kami saling bertegur sapa. Ketika Saya mulai memasuki ruangan wakil kepala sekolah bidang humas ternyata, wakil kepala sekolah tersebut adalah Bu Nurhayati, guru sosiologi saya waktu kelas 3 SMA. Saya merasa kaget sekaligus senang karena bisa bertemu dengan beliau. Setelah itu kami berbincang-bincang mengenai keperluan Saya datang kesana. Menurut beliau, seharusnya Saya tidak langsung membuat surat yang menuju langsung ke SMAN 113 karena belum tentu Saya langsung diterima disana apabila sekolah tersebut sedang sibuk, sedangkan seperti yang kita tahu bahwa membuat surat itu pasti lama prosesnya, jadi seharusnya Saya datang untuk meminta izin dahulu kesana, lalu bila di setujui baru membuat surat yang menuju ke SMAN 113. Tapi karena Saya adalah alumni dari SMAN tersebut, jadi Bu Nurhayati mencoba membantu Saya dan menyuruh Saya untuk coba meminta izin kepada Bu Puji selaku wakil kepala sekolah bidang umum dan guru bidang studi matematika. Setelah itu Saya menemui bu Puji di ruangannya, dan beliau menyambut Saya dengan senang. Beliau menanyakan keperluan Saya datang kesana, setelah Saya jelaskan bahwa Saya ingin mengadakan observasi di SMAN 113, Bu Puji mengatakan boleh-boleh saja asalkan ada surat resmi dari Universitas baru dilayani keperluan Saya. Sebenarnya Saya merasa kaget sekaligus bingung, karena adanya perbedaan persepsi antara wakil kepala sekolah bidang humas dengan bidang umum. Menurut wakasek bidang humas, Saya harus minta izin dulu baru membuat surat observasi. Tapi menurut wakasek bidang umum, Saya harus membawa surat dahulu baru bisa observasi dan di layani keperluannya. Saya mencoba menghilangkan pikiran bingung Saya dan memberikan surat observasi yang memang sudah Saya buat sebelumnya di kampus kepada Bu Puji. Kemudian, Saya mulai membuat kesepakatan tentang waktu Saya bisa langsung observasi. Kami menyepakati bahwa waktu observasinya adalah hari sabtu, minggu depan. Setelah menyepakati hal tersebut, Saya segera mohon pamit kepada Bu Puji sekaligus mengucapkan terimakasih karena diperbolehkan untuk observasi di SMAN 113 Jakarta. Dan Saya juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Pak Yadi karena telah mengantarkan Saya untuk bertemu Wakasek.

Hari kedua Saya melakukan observasi ke SMAN 113, tepatnya tanggal 21 Februari 2009, sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah sampai di SMAN 113, Saya langsung mendatangi pos satpam untuk bertanya apakah ada Bu Puji atau tidak dan Saya langsung disuruh masuk ke dalam. Tapi Saya langsung kaget karena ternyata sekolah tersebut sedang mengadakan acara yang bertemakan “ Career Day “ dan bedah kampus. Karena sebelumnya Bu puji tidak memberitahu Saya bahwa hari sabtu ini sedang ada acara. Hal ini membuat Saya menjadi tidak enak hati karena berarti sekolah khususnya Bu puji sedang sibuk. Apalagi saat itu Saya mendengar suara bu Puji dari kejauhan sedang memberi kata sambutan dalam acara tersebut. Jadi Saya harus menunggu untuk sementara di lobi depan. Sampai akhirnya sekitar jam 12.00 lewat saat waktu istirahat acara tersebut, Saya mulai memberanikan diri untuk masuk ke dalam menemui Bu Puji. Dan alangkah senangnya Saya melihat Bu Puji sedang duduk sendirian menjaga meja tamu, jadi Saya langsung menghampiri beliau untuk mengadakan wawancara. Ketika Saya menghampiri beliau, karena memang sedang istirahat jadi kami langsung mengadakan wawancara seputar UN yang akan diadakan di SMAN 113. Setelah selesai mengadakan wawancara, Saya langsung diajak Bu Puji untuk menemui Bapak Kepala Sekolah sebagai permohonan izin dan terima kasih karena diperbolehkan observasi. Diruang kepala sekolah, Saya dan Bu Puji menjelaskan kembali tentang pelaksanaan wawancara yang Saya jalani dan memberikan instrumen pertanyaan apa saja yang Saya tanyakan kepada Bu Puji. Kemudian kepala sekolah mencoba untuk menerangkan kembali tentang jawaban-jawaban yang dipertanyakan oleh Saya dan beliau juga memberikan nasehat-nasehat dan cerita-cerita menarik yang tentunya bisa menjadi contoh untuk Saya kelak. Setelah itu, Saya mohon izin pulang kepada kepala sekolah sekaligus mengucapkan terimakasih atas izinnya. Saya pun tidak bisa meminta lampiran-lampiran dan wawancara terlalu lama di sana karena acara sekolah masih berlangsung jadi sekolah masih terlalu sibuk. Jadi Saya mencoba meminta izin kembali kepada Bu Puji agar dapat diperbolehkan datang ke sekolah lagi untuk meminta lampiran-lampiran yang Saya perlukan untuk membuat laporan hasil observasi, bu Puji menyetujuinya. Dan akhirnya Senin, tanggal 16 Maret 2009 Saya mencoba datang kembali ke SMAN 113 setelah sebelumnya Saya sudah meminta izin kepada Bu puji lewat telepon. Disana Saya meminta berkas-berkas yang Saya perlukan seperti surat keterangan observasi di sekolah, foto-foto sekolah, dan sebagainya. Setelah semuanya selesai, akhirnya Saya memohon diri untuk pulang dan sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Ibu Puji.

Pengalaman Saat Mengikuti UN di SMAN 113 Jakarta

Saya adalah salah satu alumni dari SMAN 113 Jakarta. Pengalaman UN Saya di sekolah itu cukup mengesankan. Menurut Saya, yang namanya Ujian Nasional adalah sesuatu yang menegangkan dan bikin tidak nafsu makan karena dari kabar yang Saya dengar dari teman-teman dan kakak kelas Saya bahwa ujian tersebut sangat sulit apalagi sistem pengoreksiannya memakai komputer jadi kita harus berhati-hati kalau menjawab. Pensil harus yang asli 2B sehingga Saya harus berulang kali ganti pensil karena takut pensil yang Saya gunakan palsu sehingga tidak terbaca di komputer, untuk menghitamkan lembar jawaban harus benar-benar hitam tapi tidak boleh sampai keluar garis pada bulatan yang ada, padahal bulatannya kecil, selain itu juga LJK tidak boleh kotor dan menghapus jawaban yang salah harus benar-benar bersih dan tidak boleh sampai robek, tidak boleh membawa HP, dan adanya kenaikan standar nilai dari pemerintah yaitu 4,25 dan lain-lain. Karena banyaknya peraturan yang harus dipikirkan, jadi membuat Saya sendiri jadi pusing dan tidak nafsu makan. Mengenai UN, sebenarnya kadang Saya dan mungkin mewakili pendapat dari teman-teman yang lain tidak terlalu setuju dengan UN awalnya karena Saya merasa tidak adil bila sekolah khususnya pemerintah hanya menentukan kelulusan dari 3 mata pelajaran saja dan berarti hasil belajar selama 3 tahun itu untuk apa, jadi kenapa sekolah tidak membelajarkan siswa dengan 3 pelajaran yang di-UN-kan saja, karena padahal sekolah yang lebih tahu apakah siswa tersebut layak untuk lulus atau tidak. Tapi semakin lama Saya jadi semakin mengerti bahwa UN di perlukan untuk standarisasi bagi sekolah. Pengalaman UN dimulai dari saat Saya sudah memasuki semester 2 dikelas 3 SOS 4, sekolah Saya sudah mulai mensosialisasikan tentang rencana pendalaman materi, try out, dan acara seminar bedah kampus dan bimbingan belajar agar siswa terbantu untuk mengetahui dimana tempat kuliah yang sesuai dengan bakat minatnya. Semakin mendekati UN, perasaan takut jadi sering muncul. Tapi Saya harus tetap optimis dan fokus, apalagi terbantu dengan adanya pendalaman materi yang diadakan di sekolah. Pendalaman materi di sekolah Saya dilaksanakan setiap hari setelah jam pelajaran sekolah selama 2 jam. Pendalaman materi itu berisi tentang pelajaran yang berkaitan dengan ujian nanti dan pembimbingnya berasal dari guru bidang studi masing-masing. Memang selama mengikuti pendalaman materi ini, Saya sering merasa bosan karena sudah lelah sebelumnya telah mengikuti pelajaran di sekolah. Tidak hanya Saya yang merasakan bosan, tapi teman-teman Saya terutama yang laki-laki kadang sampai kabur dari sekolah setelah jam pelajaran sekolah yang biasa sudah selesai, mereka pulang berbarengan dengan siswa kelas 1 dan 2 yang memang waktunya pulang.

Setelah selesai mengadakan pendalaman materi, sekolah Saya mengadakan uji coba UN atau biasanya disebut dengan try out (TO). Try out ini diadakan sebagai bahan pelatihan siswa untuk mengerjakan soal-soal materi UN dengan situasi yang dibuat seperti sebenarnya ketikan UN nanti, selain itu try out ini juga sebagai simulasi menghadapi UN agar siswa terlatih dan tidak kaget atau tegang ketika UN berlangsung. Try out di sekolah Saya diadakan sebanyak 3 kali secara bertahap. Hasil nilai selama Try Out pun diberikan kepada siswa dan orang tuanya agar orang tua bisa lebih membimbing anaknya untuk belajar lebih giat. Sekolah pun menjadi lebih terbantu untuk mengetahui dimana kelemahan siswa yang masih perlu dianalisis dan dibantu. Waktu itu hasil nilai try out Saya selama 3 kali semakin lama semakin membaik, walaupun awalnya nilai Saya selalu lemah dipelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Tidak berhenti hanya mengadakan TO, sekolah Saya juga aktif mengadakan seminar seperti bedah kampus dan bimbingan belajar. Untuk acara bedah kampus, sekolah juga mengundang alumni dari SMAN 113 untuk mengadakan persentase serta kesan dan pesan. Pengadaan seminar ini menurut Saya sangat baik karena siswa khususnya Saya sendiri menjadi lebih tahu mengenai universitas-universitas yang terbaik dan jurusan-jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat Saya. Dalam seminar tersebut kita bisa bertanya langsung kepada wakil dari universitas tentang hal yang ingin kita ketahui serta diberikan brosur. Namun, sayangnya banyak siswa yang kurang antusias dengan acara tersebut karena mereka berpikir hal tersebut sangat membosankan dan mereka lebih suka pergi atau jalan-jalan.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, tepatnya bulan April sekolah-sekolah se-Indonesia mulai sibuk dan bersiap-siap menanti datangnya hari perjuangan tersebut. Saya datang ke sekolah dengan langkah yang mantap dan mencoba menghilangkan rasa takut dan tegang. Di sana teman-teman Saya yang lain sudah menanti. Mereka pun merasakan hal yang sama dengan Saya. Sebelum bel masuk berbunyi, Saya dan teman-teman Saya mencoba memanfaatkan waktu untuk belajar dan saling tanya jawab dengan teman-teman yang lain. Tapi dari kejauhan, Saya juga mendengar ada teman-teman yang sibuk mencari bocoran soal dan sebagainya. Kita memang berjuang dengan jalan masing-masing yang diyakini. Ketika bel berbunyi, hanya diri inilah yang boleh masuk kedalam ruangan dan peralatan untuk UN, sedangkan tas dan yang tidak berkaitan dengan UN ditaruh diluar kelas. Tangan Saya mulai berkeringat karena di dalam ruangan terdapat 2 orang pengawas yang belum pernah Saya lihat sebelumnya, mereka mulai membacakan tata tertib pengawas dan UN. Dan ujian pun dimulai sampai 3 hari berturut-turut. Mungkin saat hari pertama mengerjakan soal UN, Saya memang merasa tegang dan badan rasanya sulit dan takut untuk di gerakkan sedikit pun, tapi lama-kelamaan Saya menjadi terbiasa untuk rileks dan tidak terlalu tegang untuk mengerjakan soal di hari-hari berikutnya. Menjalani itu semua sangat menguras pikiran dan tenaga Saya, tapi setelah semuanya terlewati ada perasaan senang dan beban berat seperti terlepas dari tubuh. Perasaan lelah dan tegang terganti dengan hasil pengumuman yang sangat memuaskan. Saya LULUS, dengan nilai rata-rata UN adalah delapan. Untuk Ujian sekolah dan praktek pun nilai Saya lumayan memuaskan. Begitupun teman-teman Saya yang lain, mereka semua lulus. Tapi sayangnya, salah satu teman Saya tidak lulus dipelajaran ekonomi dan harus mengulang tahun depan. Memang teman Saya itu adalah anak baru atau pindahan dari sekolah lain saat Saya memasuki kelas 3 SMA. Saya sangat sedih mendengar hal itu, dan banyak teman dan guru yang tetap memberi motivasi kepadanya agar tetap semangat karena sesungguhnya kegagalannya itu hanyalah sebuah kesuksesan yang tertunda saja. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, apakah Dia tetap mengulang di SMAN 113 atau pindah ke sekolah lain. Tapi Saya harap dia bisa berhasil dikemudian hari. Itulah pengalaman Saya ketika UN tahun 2006/2007 di SMAN 113 Jakarta.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 77 Tahun 2008, tanggal 5 Desember 2008, menurut pasal 1 (1) pada Permendiknas tersebut dijelaskan, bahwa Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan menengah. Ujian Nasional bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tanggapan sekolah SMAN 113 mengenai pengadaan Ujian Nasional adalah setuju karena menurut sekolah dengan diadakannya Ujian Nasional maka sekolah akan mempunyai standarisasi. Persiapan sekolah pun lumayan baik, sekolah mengadakan sosialisasi UN kepada orang tua, siswa, dan guru. Dalam menghadapi UN pasti banyak kendala yang harus dilalui tapi SMAN 113 merasa lancar-lancar saja dalam mengadakan pelaksanaan UN. Sekalipun ada hambatan, mereka mencoba untuk mengatasinya dengan sebaik mungkin.

3.2 Saran

Pengadaan UN oleh pemerintah memang membuat sekolah khususnya siswa menjadi merasa mempunyai beban berat yang belum akan lepas sebelum melewatinya dengan baik. Maka diharapkan sekolah bisa benar-benar menganalisa dimana kelemahan siswanya dalam pembelajaran dan mencoba mengatasinya dengan sebaik mungkin. Dan untuk pemerintah, diharapkan pengadaan ujian nasional ini tidak hanya berbentuk pilihan ganda saja tapi juga berbentuk essay. Hal tersebut agar siswa terlatih untuk berpikir dan mengembangkan pikiran yang dimilikinya, jadi tidak asal menebak saja. Selain itu, karena UN ini diperuntukkan untuk se-Indonesia maka seharusnya pemerintah diharapkan bisa memperhatikan sekolah-sekolah yang terletak di daerah-daerah yang memerlukan fasilitas yang memadai agar dapat melaksanakan pembelajaran sebagaimana di kota-kota besar. Mereka juga layak untuk mendapatkan fasilitas yang baik dan menghadapi UN dengan nyaman, tidak merasa takut bahwa bangunannya akan roboh atau bocor saat hujan.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 77 Tahun 2008, Tanggal 5 Desember 2008

POS UN 2009

www.Infogue.com

LAMPIRAN

Foto-Foto Sekolah SMAN 113 Jakarta

-cÜtEZ pUNkz-{@(12).jpg -cÜtEZ pUNkz-{@(17).jpg

Wakil Kepala Sekolah Papan Sekolah

-cÜtEZ pUNkz-{@(13).jpg -cÜtEZ pUNkz-{@(16).jpg

Sekolah Tampak Samping

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar