Rabu, 11 Maret 2009

PEMBELAJARAN INOVATIF PEMANFAATAN OUTBOND SAINS SEBAGAI SARANA MEWUJUDKAN MEANINGFUL LEARNING

PEMBELAJARAN INOVATIF
PEMANFAATAN OUTBOND SAINS SEBAGAI SARANA MEWUJUDKAN
MEANINGFUL LEARNING
Oleh Astuti Wijayanti*)
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 1
ABSTRAK
Seperti kita ketahui, berdasarkan Kurikulum Sains SD, sains merupakan cara
mencari tahu tentang alam sekitar secara sistematis untuk mengusai pengetahuan,
fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap
ilmiah. Pendidikan sains bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan
alam sekitar. Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung
dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa memahami alam
sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat
sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih
mendalam tentang alam sekitar.
Idealnya, pembelajaran sains digunakan sebagai wahana bagi siswa untuk
menjadi ilmuwan, terutama siswa SD. Melalui pembelajaran sains di sekolah siswa
dilatih berpikir, membuat konsep ataupun dalil melalui pengamatan, dan percobaan.
Namun ha tersebut berbeda dengan realita di lapangan masih terkendala untuk
mewujudkan idealita tersebut.
Kajian ini bertujuan menggali bagaimana lingkungan pembelajaran lebih
menarik dengan memunculkan penggunaan pembelajaran inovatif melalui outbond
sains sebagai sarana mewujudkan meaningful learning. Pada dasarnya, diskusi ini
difokuskan pada kemanfaatan outbond dalam membelajarkan siswa menjadi manusia
seutuhnya, yang dapat menginternalisasikan dimensi spiritual ke dalam kegiatan
belajar siswa.
A. Pendahuluan
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks) saat ini
mengakibatkan perubahan-perubahan di berbagai bidang kehidupan. Mulyasa (2008:
9) mengemukakan bahwa pendidikan harus dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan
masyarakat, terutama dalam kaitannya dengan permasalahan-permasalahan
perkembangan ipteks. Kesuksesan pendidikan anak Indonesia merupakan ujung
tombak kemajuan bangsa Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara lain.
Realita proses pembelajaran di kelas tradisional, siswa kurang didorong untuk
mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas
didominasi oleh kegiatan belajar yang hanya mengarahkan siswa untuk menghafal
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 2
informasi saja, otak siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai
informasi. Siswa tidak dituntut untuk memahami dan menghubungkan informasi yang
diingatnya itu dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran dengan menerapkan
pendekatan tersebut kurang mendorong siswa untuk dapat mengembangkan
kemampuan berpikir. Sebagaimana yang diungkapkan Mary (2002: 1) bahwa
Thinking outside the box is sometimes difficult when students and teachers are
working within the constraints of a traditional classroom. Students especially
have their outlooks limited by classroom walls because they often do not yet
have a wide perspective on the potential for their actions to have civic
consequences.
Saat ini pembelajaran yang dilakukan masih belum bermakna. Hal ini
sebagaimana diungkapkan Abdurrahman (2007: 100) bahwa selama mengikuti
pembelajaran di sekolah siswa jarang bersentuhan dengan pendidikan nilai yang
berorientasi pada pembentukan watak dan kepribadian. Hal tersebut mengakibatkan
pembelajaran kurang bermakna dan juga mengakibatkan siswa kurang termotivasi
untuk mempelajari sains yang ditunjukkan dengan sikap bosan mengikuti proses
pembelajaran sehingga sains kurang berkesan dalam benak mereka (Martin, et al.,
2005: 6). Oleh karena itu, perlu suatu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan
tahap perkembangan intelektual siswa dan dapat memberikan makna bagi siswa
untuk dapat menjadi manusia seutuhnya. Pembelajaran dengan outbond sains
memungkinkan siswa mengalami langsung konsep yang dipelajari serta
mengembangkan penalaran logis dan mengajarkan siswa untuk menguasai nilai-nilai
spiritual, emosional dan intelektual secara optimal. Hal itu dikarenakan materi
pembelajaran dapat dirangkum menjadi kegiatan yang dekat dengan pengalaman
siswa dalam kesehariannya sehingga menjadi bermakna bagi kehidupan.
B. Pembahasan
1. Pembelajaran Inovatif
Inovasi pendidikan (education innovation) adalah pembaharuan pendidikan
secara parsial berskala sekolah atau kelas, dengan objek pembaharuan mengenai salah
satu komponen pendidikan (Sukardjo & Das Salirawati, 2008). Santyasa (2005: 5)
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 3
menambahkan bahwa pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang lebih bersifat
student centered, artinya pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa
untuk mengkontruksi pengetahuan secara mandiri (self directed) dan dimediasi oleh
teman sebaya. Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
inovatif adalah pembaharuan pendidikan yang mengaktifkan siswa untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dengan menciptakan pembelajaran student
centered.
Menurut Marsaja (2007) keunggulan pembelajaran inovatif adalah: (1)
Kualitas hasil belajar yang dicapai menjadi lebih tinggi; (2) Lingkup hasil belajar
menjadi lebih komprehensif; (3) Pembelajaran inovatif tidak saja menekankan pada
hasil belajar kognitif, tetapi juga hasil belajar proses dan sikap. Konsekuensinya tentu
akan memerlukan waktu yang lebih lama karena dilakukan untuk mencapai banyak
hasil belajar. Pembelajaran inovatif dengan metode yang berpusat pada siswa (student
centered learning) juga memiliki keragaman model pembelajaran yang menuntut
partisipasi aktif dari siswa. Metode-metode tersebut diantaranya sebagai berikut
a. Berbagi informasi (information sharing) dengan cara: curah gagasan
(brainstorming), kooperatif, kolaboratif, diskusi kelompok (group discussion),
diskusi panel (panel discussion), simposium, dan seminar
b. Pembelajaran melalui pemecahan masalah (problem solving based learning)
dengan cara: studi kasus, tutorial, dan lokakarya.
c. Belajar dari pengalaman (experience based) dengan cara: simulasi, bermain
peran (roleplay), permainan (game), dan kelompok temu;
Salah satu metode alternatif yang saat ini sedang digemari dan diyakini lebih berhasil
dari kegiatan ceramah adalah pendidikan luar ruang (outbound education), yang sarat
dengan permainan yang menantang, mengandung nilai-nilai pendidikan, dan
mendekatkan siswa dengan alam.
2. Meaningful Learning
Dunia pendidikan saat ini sering lebih menitikberatkan pada bagaimana
mengembangkan kecerdasan kognitif sehingga terjebak pada rasional oriented dan
melepaskan orientasi irrasional maupun metafisik, semacam spiritual, dan konsep diri
yang dianggap sebagai penghambat. Keadaaan yang demikian mengakibatkan
pembunuhan karakter yang dimiliki siswa dari sebuah kesatuan dalam dimensi
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 4
kediriannya. Menurut Abdurrahman (2007: 74) proses pembelajaran meliputi
keseluruhan unsur baik kognitif, afektif dan psikomotorik. Apabila proses
pembelajaran tidak berjalan secara simultan maka akan terjadi split personality (diri
yang terpisah) pada setiap siswa.
Gejala split personality ini tampak dalam perjalanan dunia pendidikan kita,
tak terkecuali pendidikan sains. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru untuk
mengupayakan bagaimana melakukan pembelajaran yang menitikberatkan pada
proses penyempurnaan manusia atau memanusiakan manusia (to be human) dan
mengartikan hidup (enoble life). Spiritualisme yang dilaksanakan dalam pendidikan
berorientasi praktik riil seorang guru dan siswa untuk menyempurnakan proses
menuju kematangan hidupnya. Pada akhirnya yang diinginkan adalah dimensi
spiritual yang mapan dalam diri setiap siswa. Siswa tidak hanya mamapu menangkap
pesan lahiriah dari apa yang ia pelajari, namun lebih dari itu siswa juga mampu
memproyeksikan pesan esoterik dari setiap teori yang ia pelajari.
Pendidikan adalah proses interaksi antara siswa dengan dirinya sendiri
(konsentris), siswa dan alam sekitar (horisontal) dan interaksi siswa dengan Allah swt
(vertikal), tetapi banyak metode pengajaran kita yang memisah-misahkan ketiga
interaksi tersebut. Oleh karena itu guru hendaknya menyadari pentingnya
pembelajaran yang bermakna dengan menciptakan keseimbangan antara guru, siswa,
dan lingkungan. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memahami dan menerapkan
berbagai metode atau model mengajar semisal CTL, Cooperative learning, Quantum
learning, quantum teaching, accelerated learning dan sebagainya.
Menurut Bartlet pembelajaran lebih bermakna adalah proses pembelajaran
yang membangun makna (input), kemudian prosesnya melalui struktur kognitif
sehingga akan berkesan lama dalam ingatan/memori (terjadi rekonstruksi). Sementara
itu, menurut John Dewey, pembelajaran sejati adalah lebih berdasar pada
penjelajahan yang terbimbing dengan pendampingan daripada sekedar transmisi
pengetahuan. Pembelajaran merupakan individual discovery. Hal tersebut senada
dengan pendapat Burton (1962: 25) bahwa “Learning is experience”. Pengalaman
merupakan sumber dari pengetahuan, nilai dan keterampilan. Pendidikan memberikan
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 5
kesempatan dan pengalaman dalam proses pencarian informasi, menyelesaikan
masalah dan membuat keputusan bagi kehidupannya sendiri
(www.bocahkecil.info/belajar-bersama-alam.html).
Metode belajar inovatif yaitu outbond sains dapat menjadi salah satu sarana
yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pertumbuhan fisik dan
perkembangan mental siswa seutuhnya sehingga terwujud pembelajaran yang
bermakna. Artinya, siswa mampu membangun fisik dan mentalnya dengan belajar
sambil bermain karena melalui permainan outbond sains akan terbangun suasana
yang lepas, bebas, menyenangkan dan atraktif serta memberi makna dalam belajar
siswa..
3. Outbond Sains
Alam kaya akan pengetahuan. Hal yang tidak dapat siswa pelajari di dalam
ruangan, dapat siswa dapatkan di luar ruangan, sehingga siswa dapat belajar membuat
kesimpulan dan menguji apa yang diterimanya di kelas. Terdapat tiga tahapan yang
dapat dilakukan siswa untuk memudahkan masuknya informasi, yaitu mendengar,
menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan percobaan sendiri. Misalnya,
belajar tentang bunga, siswa dapat mengeksplorasi bunga misal macam-macam warna
mahkota bunga, adanya putik dan benang sari, dan sebagainya. Guru hendaknya
dapat mengajak siswa untuk melakukan observasi di lapangan misalnya mengamati,
menyentuh atau meraba dan menganalisa. Sebagai contoh siswa melakukan observasi
untuk mengenal bagian dari tumbuhan, misalnya daun, akar, batang, kelopak, dan
sebagainya. Tak hanya itu, guru juga memaparkan pada siswa masing-masing
fungsinya dan bentuknya yang beragam sehingga siswa belajar mengenal apa yang
ada di alam melalui semua inderanya.
Pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan dapat dilakukan dengan
cara membawa lingkungan ke dalam kelas, seperti: menghadirkan nara sumber untuk
menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber
belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
serta tindak lanjutnya. Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 6
dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa siswa ke lingkungan, seperti
survey, karyawisata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya.
Outbond adalah suatu program pembelajaran di alam terbuka yang
berdasarkan pada prinsip experiential learning (belajar melalui pengalaman
langsung) yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi dan petualangan
sebagai media penyampaian materi. Artinya dalam program outbond tersebut siswa
secara aktif dilibatkan dalam seluruh kegiatan yang dilakukan. Dengan langsung
terlibat pada aktivitas (learning by doing) siswa akan segera mendapat umpan balik
tentang dampak dari kegiatan yang dilakukan, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
bahan pengembangan diri setiap siswa dimasa mendatang. Hal tersebut juga dapat
diartikan bahwa proses belajar dari pengalaman (experiental learning) dengan
menggunakan seluruh panca indera (global learning) yang nampaknya rumit,
memiliki kekuatan karena situasinya “memaksa” siswa memberikan respon spontan
yang melibatkan fisik, emosi, dan kecerdasan sehingga secara langsung mereka dapat
lebih memahami diri sendiri dan orang lain.
Outbond juga dikenal dengan sebutan media outbond activities. Outbond
merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru di
sekolah. Dengan konsep interaksi antar siswa dan alam melalui kegiatan simulasi di
alam terbuka. Hal tersebut diyakini dapat memberikan suasana yang kondusif untuk
membentuk sikap, cara berfikir serta persepsi yang kreatif dan positif dari setiap
siswa guna membentuk jiwa kepemimpinan, kebersamaan/teamwork, keterbukaan,
toleransi dan kepekaan yang mendalam, yang pada harapannya akan mampu
memberikan semangat, inisiatif, dan pola pemberdayaan baru dalam suatu sekolah.
Melalui simulasi outdoor activities ini, siswa juga akan mampu
mengembangkan potensi diri, baik secara individu (personal development) maupun
dalam kelompok (team development) dengan melakukan interaksi dalam bentuk
komunikasi yang efektif, manajemen konflik, kompetisi, kepemimpinan, manajemen
resiko, dan pengambilan keputusan serta inisiatif. Adapun tujuan outbond menurut
Adrianus dan Yufiarti (http://widhoy.multiply.com) tujuan outbond adalah untuk:
a. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri siswa.
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 7
b. Berekspresi sesuai dengan caranya sendiri yang masih dapat diterima
lingkungan.
c. Mengetahui dan memahami perasaan, pendapat orang lain dan memahami
perbedaan.
d. Membangkitkan semangat dan motivasi untuk terus terlibat dalam
kegiatan-kegiatan.
e. Lebih mandiri dan bertindak sesuai dengan keinginan.
f. Lebih empati dan sensitif dengan perasaan orang lain.
g. Mampu berkomunikasi dengan baik
h. Mengetahui cara belajar yang efektif dan kreatif.
i. Memberikan pemahaman terhadap sesuatu tentang pentingnya karakter
yang baik.
j. Menanamkan nilai-nilai yang positif sehingga terbentuk karakter siswa
melalui berbagai contoh nyata dalam pengalaman hidup.
k. Membangun kualitas hidup siswa yang berkarakter.
l. Menerapkan dan memberi contoh karakter yang baik kepada lingkungan.
Kegiatan outbond sains merupakan kegiatan belajar sambil bermain atau
sebaliknya. Menurut Vygotsky (Tedjasaputra, 2001: 10) bermain mempunyai peran
langsung terhadap perkembangan kongnisi seorang anak dan berperan penting dalam
perkembangan sosial dan emosi anak. Menurut Heterington dan Parke
(Moeslichatoen, 1999: 34), bermain juga berfungsi untuk mempermudah
perkembangan kognitif anak. Belajar sambil bermain akan memungkinkan anak
meneliti lingkungan, mempelajari segala sesuatu dan memecahkan masalah yang
dihadapinya. Bermain juga meningkatkan perkembangan sosial anak serta untuk
memahami peran orang lain dan menghayati peran yang akan diambilnya setelah ia
dewasa kelak.
Dworetzky (Moeslichatoen, 1999: 34) mengemukakan bahwa fungsi bermain
dan interaksi dalam permainan mempunyai peran penting bagi perkembangan
kognitif dan sosial siswa. Jadi berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat
disimpulkan bahwa manfaat bermain tidak saja dapat meningkatkan perkembangan
kognitif dan sosial, tetapi juga perkembangan bahasa, disiplin, perkembangan moral,
kreativitas, dan perkembangan fisik siswa.
Outbond sains akan menyajikan pembelajaran aktif dan menyenangkan
sehingga siswa tidak cepat jenuh dan bosan dalam proses pembelajaran. Suasana
kegiatan outbond sains yang menarik dan menyenangkan akan mempermudah siswa
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 8
dalam pemahaman konsep sains, dan dapat meningkatkan perkembangan psikomotor
dan afektif siswa, serta menjadikan pembelajaran akan lebih bermakna. Selain itu,
terdapat keuntungan-keuntungan pembelajaran dengan menggunakan outbond sains
berdasarkan uraian di atas antara lain yaitu.
a. Membuat proses pembelajaran berpusat pada siswa yang menjadikan proses
belajar menyangkut semua aspek yang memungkinkan siswa berkembang sebagai
individu yang dapat berfungsi secara menyeluruh.
b. Memungkinkan siswa membentuk self concept sehingga siswa dapat mengenal
dirinya sendiri lebih baik, yaitu mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya.
c. Melatih siswa untuk mengkonstruk konsep dari pengalaman-pengalamannya yang
menyenangkan
d. Mengembangkan bakat-bakat siswa
e. Mencegah siswa belajar hanya pada tingkat verbal saja
f. Belajar secara bermain memberi waktu kepada siswa untuk mengasimilasi dan
mengakomodasi informasi.
Pendekatan outbond cocok diterapkan karena adanya perbedaan-perbedaan
individu dalam kelas. Pada pendekatan ini, siswa diberi rangsangan untuk
menemukan konsep yang akan dipelajari dengan dibimbing oleh guru. Adapun
kelemahan dari pembelajaran dengan outbond sains yaitu:
a. Waktu yang digunakan relatif lama.
b. Membutuhkan peralatan dan sumber belajar yang beragam.
c. Tenaga yang dibutuhkan lebih banyak.
d. Ide permainan dan memberi makna pada tiap konsep memerlukan kreativitas dan
perhatian yang lebih dari guru.
Prosedur mempersiapkan pembelajaran dengan outbond sains siswa
(experiental learning) menurut Oemar Hamalik (2003: 47)adalah sebagai berikut:
a. Guru merumuskan dengan teliti pengalaman belajar yang direncanakan untuk
memperoleh hasil yang potensial atau memiliki alternatif hasil.
b. Guru berusaha menyajikan pengalaman yang bersifat menantang dan memotivasi.
c. Siswa dapat bekerja secara individual, tetapi lebih sering bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil.
d. Para siswa ditempatkan dalam situasi-situasi pemecahan masalah yang nyata.
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 9
e. Para siswa secara aktif berperan serta dalam pembentukan pengalaman membuat
keputusan sendiri dan memikul konsekuensi atas keputusan-keputusan tersebut.
Menurut Gordon dan Browne (Moeslichatoen, 1999: 57-58) terdapat beberapa
aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dan peralatan outbond sains
yaitu antara lain:
a. Memilih bahan untuk kegiatan bermain yang mengundang perhatian semua siswa,
yakni bahan-bahan yang dapat memuaskan kebutuhan, menarik minat, dan
menyentuh perasaan mereka.
b. Memilih bahan yang multi guna yang dapat memenuhi bemacam tujuan
pengembangan seluruh aspek perkembangan siswa.
c. Memilih bahan yang dapat memperluas kesempatan siswa untuk
menggunakannya dengan bermacam cara.
d. Memilih bahan yang mencerminkan karakteristik tingkat usia kelompok siswa.
e. Memilih bahan harus sesuai dengan filsafat dan napas kurikulum yang dianut.
f. Memilih bahan yang mencerminkan kualitas rancangan dan keterampilan kerja.
g. Memilih bahan dan peralatan yang tahan lama.
h. Memilih bahan-bahan yang dapat dipergunakan secara fleksibel dan serba guna.
i. Memilih bahan yang mudah dirawat dan diperbaiki.
j. Memilih bahan yang mencerminkan peningkatan budaya kelompok.
k. Memilih bahan yang tidak membedakan jenis kelamin dan meniru-niru.
Pembelajaran berdasarkan pengalaman ini menyediakan suatu alternatif
pengalaman belajar bagi siswa yang lebih luas daripada pendekatan yang diarahkan
oleh guru kelas. Strategi ini menyediakan banyak kesempatan belajar secara aktif,
personalisasi dan kegiatan-kegiatan belajar yang lainnya bagi para siswa untuk semua
tingkat usia. Pembelajaran dengan outbond ini guru dapat menginternalisasikan
dimensi spiritual ke dalam kegiatan belajar siswa, agar apa yang siswa pelajari dapat
mendekatkan siswa kepada Allah swt (Sang Pencipta).
Adapun hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam kegiatan pembelajaran ini
adalah:
1) Menentukan bentuk kegiatan yang akan dipakai
Kegiatan outbond ini dapat divariasi sendiri oleh guru. Misalnya: dalam satu
materi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, seperti dalam tema yang lain à
lingkungan. Siswa di pos I à sayangi aku (mempelajari tanaman dan praktek
menanan dan merawatnya), pos 2à opera sampah (siswa memperagakan dalam
bentuk drama singkat/spontan dan guru menjelaskannya), pos 3 à sampah
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 10
(mengenal sampah dan cara memanfaatkannya, dapat juga dengan praktek), pos 4
dilanjutkan dengan pemaknaan terhadap bahaya sampah dalam kehidupan kita,
dsb.
2) Menentukan waktu pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan outbond ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran atau dapat juga
dilaksanakan di luar jam pelajaran.
3) Menentukan rute perjalanan
Outbond ini dapat dilakukan satu kelas bersama-sama dengan sistem
kompetisi dan dapat juga dilakukan dengan giliran kelompok/rooling, hal tersebut
disesuaikan dengan kemampuan dan jumlah guru. Outbond dapat menggunakan
rute di sekitar sekolahan atau di lingkungan warga sekitar. Pembelajaran ini juga
dapat dilakukan hanya dengan berpindah pos saja.
( a) (b)
Gambar 1. Skema Rute Pos Outbond: (a) jika terdapat dua guru; (b) jika hanya
satu orang guru
4) Mempersiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan di tiap pos.
a. Jika menggunakan sistem kompetisi: semakin banyak kelompok yang
dibentuk maka peralatannya semakin banyak.
b. Jika menggunakan sistem roling: peralatan yang dibutuhkan sedikit.
5) Menentukan dan mempersiapkan petugas pos
Jika dalam bentuk rolling maka diperlukan lebih banyak penjaga pos daripada
dengan sistem kompetisi. Tiap penjaga pos dipersiapkan untuk dapat mengisi pos
yang dipegangnya. Untuk menyamakan persepsi tema yang akan diajarkan maka
perlu diadakan briefing.
Pos
2
Pos
1
Pos
3
1
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 11
Setelah semua persiapan selesai maka tahap selanjutnya pelaksanaan kegiatan
outbond
1) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
2) Guru menjelaskan tentang benda dan sifatnya:
3) Guru menjelaskan aturan permainan Outbond.
Berikut merupakan contoh implementasi pembelajaran inovatif dengan
memanfaatkan outbond sains dalam rangka meningkatkan meaningful learning.
POS I à Roket Balon
Bahan dan alat: balon dengan soal tantangan
selotip
benang kasur yang terjulur hingga garis finish
sedotan
Cara bermain:
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 12
a) Di garis start telah tersedia balon dengan soal tantangan, selotip, benang
kasur yang terjulur hingga garis finish, dan sedotan. Gunakanlah alatalat
ini dengan baik.
b) Bantuan awal: Sedotan dimasukkan ke dalam benang kasur.
c) Diskusikan cara agar balon dan soal dapat diterima oleh teman kalian di
seberang (jarak 2-3 meter).
d) Setelah balon diterima, kerjakanlah soal dan serahkan 10 menit
kemudian kepada petugas pos.
e) Kerjakan dengan baik semoga kalian termasuk orang-orang yang
beruntung.
Kunci: Balon bisa terbang lho....
Lembar pertanyaan yang diletakkan ke dalam balon:
a) Selain terdapat soal, benda apa yang kalian tiupkan ke dalam balon
hingga balon menggelembung?
b) Menurut kalian, bagaimanakah bentuk benda tersebut di dalam balon?
Apakah bentuknya berubah jika udara dimasukkan ke dalam plastik?
c) Dapatkah kalian merasakan udara yang ada di sekitarmu?
d) Dapatkah kalian melihatnya dan dapatkah kalian memegangnya?
e) Apa yang kalian rasakan ketika melepas balon? Dan mengapa balon
yang dilepas dapat berlari dengan kencang?
f) Sebutkan sifat-sifat benda gas dalam permainan ini?
g) Sebutkan manfaat benda gas dalam kehidupan sehari-hari!
Setelah kegiatan outbond, guru bersama siswa membahas kembali apa
yang telah dilaksanakan. Metode yang digunakan yaitu metode diskusi, dimana
akan diperoleh pendapat yang berbeda dan bervariasi antara siswa yang satu
dengan yang lainnya. Guru bertugas memfasilitasi dalam menyisipkan makna
(misal pesan moral, sikap dan kerjasama).Misal sebagai contoh dalam kegiatan ini
yaitu: Udara yang ada di dalam balon memberikan tekanan sehingga ketika
dilepaskan balon dapat berlari menuju ke ujung benang yang lain. Udara
merupakan benda gas yang mempunyai sifat bentuknya berubah-ubah sesuai
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 13
dengan tempatnya, udara dapat memberikan tekanan, udara tidak terlihat dan tak
dapat dipegang namun bisa dirasakan, dan udara ada di mana-mana/ada di sekitar
kita. Semakin banyak udara dalam balon maka balon juga akan tampak besar dan
tekanannya juga besar. Tekanan besar maka larinya semakin cepat à artinya
dalam kehidupan ini kita harus mengisi kehidupan kita (seperti balon) dengan
menambah wawasan, akhlak yang baik, dan keterampilan-keterampilan, selain itu
kita juga harus memupuk semangat, motivasi dan kemauan yang besar agar kita
akan dapat berlari dengan cepat untuk mencapai cita-cita. Kemudian siswa
diarahkan pada pemanfaatan apa yang sedang dipelajari dengan kehidupan
mereka sehingga menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebagai contoh: Udara
dapat dimanfaatkan untuk
a. Mengisi ban kendaraan à tanyakan kepada siswa berapa banyak udara yang
di masukkan ke dalam ban kendaraan (sedikit/banyak?) dan dapatkah udara
dalam ban-ban tersebut mengangkat 50 orang? Dan berilah tanggapan pada
siswa bahwa: meskipun udara yang kita berikan pada ban sedikit, akan tetapi
udara memberikan tekanan pada ban sehingga ban menjadi keras dan dapat
digunakan kendaraan seperti bus untuk mengangkut 50 orang atau lebih.
(jangan menganggap hal yang sepele, karena hal yang sepele kadang adalah
sesuatu yang besar pengaruhnya bagi kehidupan).
b. Bernafas à tanyakan dari manakah udara yang kita hirup? Bagaimanakah
ketika hidungmu mampet? bayarkah kita untuk menghirup udara disekitar
kita? Hitunglah berapa banyak tabung gas yang kita perlukan untuk bernafas
hingga hari ini? Siapakah yang menciptakan udara? Dan berikanlah tanggapan
pada siswa bahwa: kita dapat bebas bernafas, menghirup udara sebebasbebasnya
dimanapun kita berada, diberi nikmat kesehatan sehingga dapat
bernafas dengan baik Gratis dan jika kita harus bernafas dengan tabung gas
maka berapa uang yang akan dikeluarkan hingga kita hidup sampai hari ini.
Ini adalah karunia Allah swt. Bersyukurlah atas segala nikmatNya.
c. Membantu pembakaran.
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 14
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa outbond
merupakan salah satu metode yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir,
keterampian sosial, life skill, kemampuan spiritual dan sikap siswa Prinsip
“experiential learning“ (belajar melalui pengalaman langsung) pada kegiatan outdoor
ini, siswa akan mampu mengembangkan potensi diri, baik secara individu (Personal
Development) maupun dalam kelompok (Team Development). Melalui outbond,
siswa secara aktif dilibatkan dalam seluruh kegiatan yang dilakukan.dan langsung
berinteraksi dengan alam untuk mengenal Allah swt (Sang Pencipta) dan mencintai
lingkungan .tempat hidupnya. Banyak orang yang mengetahui bahwa teknik tersebut
dapat mengembangkan potensi siswa dan memberikan lingkungan belajar yang
kreatif dan menyenangkan, akan tetapi guru jarang memanfaatkan outbond dalam
pembeajaran secara formal. Padahal jika outbond ini dilakukan maka akan diperoeh
kemanfaatan yang uar biasa. .
Daftar Pustaka
Abdurrahman. (2007). Meaningful learning re-invensi kebermaknaan pembelajaran.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Burton, William H. 1962. The guidance of learning activity. New York: Appleton-
Century-Crofts, Inc.
http://widhoy.multiply.com/journal/item.15/definisi_dan manfaat outbond. diakses
pada tanggal 6 Januari 2009.
http://marsaja.wordpress.com
I Wayan Santyasa. (2005). Model pembelajaran inovatif dalam implementasi KBK,
Makalah Penataran Guru-Guru SMP, SMA, dan SMK se- Kabupaten
Jembrana Juni-Juli 2005. Jembrana: FMIPA IKIP Negeri Singaraja.
Martin, et.al. (2005). Teaching science for all children: inquiry methods for
constructing understanding-3rd edition. Pearson education. Inc.
Mary, et.al. (2002). Linking universities and k-12 through design of outdoor learning
environment. Paper ini dipubikasikan di J. Chambers (Ed.). (2002).
Selected Papers from the 13 International Conference on College Teaching
and Learning, (pp. 65-74) diakses dari www.glenninstitute.org.pdf pada
tanggal 22 Januari 2009.
*) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 15
Moeslichatoen, R. (1999). Metode pengajaran di taman kanak-kanak. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta.
Mulyasa. (2008). Implementasi KTSP Kemandirian guru dan kepala sekolah. Jakaerta:
Bumi Aksara..
Oemar Hamalik. (2003). Pendekatan baru strategi belajar mengajar berdasarkan
CBSA. Bandung: penerbit Sinar Baru Algesindo Bandung.
Sukardjo&Das Salirawati. Pembelajaran sains (IPA) terpadu yang kreatif dan
menyenangkan, Makalah Seminar Nasional Program Studi Pendidikan Sains
Program Pascasarjana UNY, 8 Oktober 2008. Yogyakarta: Program Studi
Pendidikan Sains PPs UNY.
Tedjasaputra, Mayke S. (2001). Bermain mainan dan permainan untuk pendidikan usia
dini. Jakarta: Grasindo.
www.bocahkecil.info/belajar-dengan-alam.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar