Selasa, 10 Maret 2009

MENYELENGGARAKAN SEKOLAH UNGGUL PERLU MEMBUDAYAKAN GEMAR MEMBACA

Oleh : Marjohan, July 12, 2008

Akhir-akhir ini ada ide un¬tuk menyelenggarakan, sekolah unggul. Tentu ini amal mem¬banggakan kita semua, sebab selama ini seolah-olah orang kita, cuma tenggelam dalam kri¬tik-mengkritik saja. Halaman surat kabar clan media lain banyak menceritakan tentang kualitas dunia pendidikan yang rendah. Kemudian pemikir pen¬didikan mengadakan usaha tam¬bal sulam dan sedikit perubah¬an-perubahan dimana pada akhirnya tetap menunjukkan kualitas yang tidak beranjak.
Kata orang tua-tua, karena mudahnya untuk bersekolah sekarang membuat orang ada yang memandang enteng saja dunia pendidikan. Tingkat ke¬benaran pernyataan ini tentu tergantung kepada persepsi kita masing-masing. Yang jelas dalam pandangan kita tetap ada murid yang semangat belajar tinggi tetapi banyak pula mere¬ka yang memandang sekolah ini sebagai main-main saja. Agak¬nya setiap kita pernah mendengar guyon-guyon lucu yang mereka katakan: Sekolah itu pergaulan, SPP sumbangan dan buku rapor undangan.
Sebelum istilah sekolah unggul muncul dalam surat kabar, dulu telah ada pula istilah seko¬lah plus. Untuk SMA bernama SMA PLUS. Bisa jadi bahwa sekolah plus itu lah yang dike¬nal dengan istilah sekolah ung¬gul clan ini telah berdiri di Indo¬nesia. Dimana sebagai contoh dan patokan pula bagi daerah-daerah lain yang berminat mengikutinya.
Arti “Plus” atau “unggul” adalah menunjukkan jaminan mutu. Sebab kita mengharapkan sekolah-sekolah unggul dapat mengeluarkan lulusan yang ber¬mutu. Ada dua sekolah yang menyelenggarakan sekolah unggul di Indonesia, yaitu SMA Taruna Nusantara Magelang dan SMA Soposurung. Tentu akan dan telah bermunculan pula ditempat-tempat lain.
SMA Taruna Nusantara, yang didirikan tahun 1990 di Ma¬gelang, merupakan SMA Plus (unggul) swasta murni yang ber¬diri alas kerja sama ‘MABES ABRI dan perguruan Taman Siswa. SMA Soposurung, di Sumatera Utara, dimulai tahun 1991, menggunakan model ker¬ja sama pemerintah dan swasta. Pemerintah menyediakan SMA Negeri 3 Soposurung, sementara yayasan Soposurung mem¬bangun asrama; menyediakan bea siswa clan membiayai pen¬didikan ekstrakurikuler.
Keunggulan SMA-SMA di¬atas, nilainya, ada pada asrama yang tidak hanya sebagai tempat menginap. Asrama untuk seko¬lah ini dilengkapi dengan fasili¬tas penunjang clan bimbingan bagi siswa di luar jam pelajar¬an. Artinya pendidikan yang diberikan boleh dikatakan terin¬tegrasi antara pendidikan di kelas dan pendidikan mental disiplin asrama.
Belajar dan tinggal di sekolah unggul semua serba diatur. Saat baru bangun tidur, pukul lima pagi, siswa-siswa langsung di¬giring untuk senam pagi. Lalu ada bimbingan rohani sebelum makan pagi dan berangkat seko¬lah. Seusai sekolah ada berbagai kegiatan dari olah raga, berdiskusi sampai pada cera¬mah ilmiah. Demikian kata salah seorang siswa SMA Ta¬runa Nusantara asal Sumatera Barat.
Tahun lalu beberapa provinsi juga akan membuka beberapa sekolah unggul, SMA Plus, yang semuanya mengacu pada model SMA Taruna Magelang atau SMA Soposurung Suma¬tera Utara. Begitu pula halnya dengan provinsi ini, Sumatera Barat, di mata jajaran Depdik¬bud telah menyelenggarakan rapat-rapat kerja tentang penyelenggaraan sekolah unggul.
Agaknya menarik juga meng¬ikuti tulisan Naswardi dalam pojok komentar yang berbunyi “Padang perlu sekolah unggul” (Singgalang, 31 Januari 1995). Dalam tulisan itu dinyatakan tentang misi sekolah unggul yakni meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber¬ daya manusia Indonesia sebagai subyek dan wahana untuk men¬capai tujuan pembangunan na¬sional.
Menurutnya bahwa sekolah unggul tidak semudah yang dibayangkan dan harus memili¬ki tingkat fleksibilitas yang tinggi. Faktor yang menentukan dalam penyelenggaraan sekolah unggul adalah penerapan dan pengembangan kurikulum, dan proses belajar mengajar yang dapat memacu dan mewadahi integrasi antara pengembangan logika, kreatif dan estetika. Dis¬amping pembenahan proses pengadaan, pengangkatan, pen¬empatan dan pembinaan tenaga pendidik.
Kemudian, kepala sekolah menduduki peran yang amat penting dalam pengembangan dan mengelola seluruh sumber¬ daya yang dapat mendukung keunggulan sistem sebuah sekolah unggul. Ia mempunyai kemam¬puan manejerial yang tinggi dan pengalaman sebagai kepala sekolah minimal tiga tahun.
Guru yang selalu berhadapan dengan murid di sekolah me¬nempati peranan kunci dalam mengelola kegiatan proses bela¬jar mengajar. Pada jenjang Sekolah Dasar sebagai sekolah unggul yang dirintis akan menggunakan pendekatan sis¬tem guru kelas. Sedangkan pada tingkat SMP dan SMA menggu¬nakan sistem guru mata pelaja¬ran. Keunggulan guru tidak ha¬nya ditakar dari kemampuan in¬telektualnya melainkan juga ke¬unggulan aspek moral, keiman¬an, ketaqwaan, disiplin, bertanggung jawab, keluasan wa¬wasan kependidikannya dalam mengelola kegiatan proses bela¬jar mengajar.
Rasanya untuk menyelengga¬rakan sebuah sekolah unggul betul-betul memerlukan rencana dan persiapan yang matang dan komplit. Dan semua ini amat didukung oleh penyediaan dana yang besar. Sedangkan dalam meningkatkan kualitas dan kwantitas dunia pendidikan kita dana inilah yang selalu menjadi kendala. Bayangkan saja untuk anggaran pendidikan yang dise¬diakan negara kita cuma sekian persen saja, belum apa-apa dengan jumlah anggaran militer dan sebagainya. Konon kabar¬nya persentase anggaran pendi¬dikan di negara kita terendah untuk tingkat negara ASEAN. Namun untuk kelancaran seko¬lah-sekolah unggul, yang tadi disebutkan, tergantung banyak kepada sokongan swasta. Mengingat begitu banyaknya jumlah sekolah di negeri ini, tentu cuma segelintir saja jumlah keberadaan sekolah unggul ini. Kecuali nanti apabila kondisi negara kita amat mapan secara (pengadaan) materil dan spiritual. Bagaimana dengan ke¬beradaan sekolah-sekolah lain, padahal memperoleh pendidi¬kan yang berkualitas adalah ter¬masuk hak mereka dan kita se¬mua. Kalau begitu menyeleng¬garakan sekolah unggul adalah juga sebuah hak yang harus dipikirkan dan diperhitungkan.
Untuk menjadi unggul (pin¬tar) faktor tempat tidaklah selalu menentukan. Seseorang yang berada di pedalaman Irian Jaya dapat saja menjadi orang yang unggul atau berpikiran mo¬deren kalau ia sanggup me¬ngembangkan potensial diri dan otak adalah potensial utama kita. Begitu pula halnya dengan sekolah-sekolah, tetaplah disana ada tenaga potensial yang dapat dikembangkan. Selama ini ada sebuah potensial sekolah yang belum dimanfaatkan secara penuh yaitu “pustaka”.
Untuk menyelenggarakan se¬kolah unggul tentu (kita) perlu membudayakan gemar mem¬baca. Sebab tanpa gemar mem¬baca sekolah unggul yang di¬harapkan tentu cuma selalu be¬rada dalam mimpi.
Menyelenggarakan sekolah unggul ala SMA Taruna Ma¬gelang bagi sekolah-sekolah di daerah tentulah di luar kemam¬puan karena biayanya amat ma¬hal. Tetapi menyelenggarakan sekolah unggul dalam arti kata peningkatan mutu ini memerlu¬kan kemauan kita dalam mem¬belajarkan diri agar wawasan pendidikan dan intelektual kita meningkat.
Untuk ini usaha kita amat berhubungan dengan buku dari perpustakaan. Untuk itu ke¬beradaan perpustakaan sekolah, sekali lagi, perlu dikembangkan agar budaya gemar membaca dapat terwujud.
Kalau kita perhatikan kegia¬tan siswa di luar jam pelajaran di sekolah cuma hura-hura me¬lulu dalam arti kata tidak sebe¬rapa siswa yang melatih minat dengan keberadaan pustaka, ka¬laupun ada pustaka di kebanya¬kan sekolah cuma minim fasilitas dan terkunci melulu. Ini me¬nunjukkan kondisi minat baca yang rendah. Padahal syarat untuk maju musti gemar mem¬baca.
Kondisi minat baca yang ren¬dah pada tingkat SD dan seko¬lah menengah membawa penga¬ruh pada tingkat selanjutnya. Tingkat dasar harus menjadi perhatian utama. Karena se¬makin baik peranan di tingkat dasar ini akan semakin baik pula untuk tingkat selanjutnya. Kalau kita amati kebiasaan membaca yang rendah pada waktu sekolah dasar menyebab¬kan kebiasaan membaca pada tingkat SLTP dan SLTA rendah pula. Pada akhirnya pada ting¬kat perguruan tinggi demikian pula dimana mahasiswanya ba¬nyak yang kasak kusuk dan ti¬dak percaya diri. Menghadapi masa tentamen (ujian) dengan sistem sopir atau mengandalkan jimat ala anak SMA. Kelak dalam menyelesaikan skripsi dan tesis ban yak yang kelaba¬kan terpaksa comot sana comot sini.
Minat baca yang rendah tentu saja dapat ditingkatkan. Dalam upaya ini penyediaan sarana amat penting di kalangan ge¬nerasi muda. Membenahi pusta¬ka dengan menyingkirkan tem¬patkan buku-buku teks yang ti¬dak terpakai dan menempatinya dengan bahan bacaan yang me¬narik dan merangsang intelektu¬al siswa amat bermanfaat. Su¬dah sepatutnya pihak sekolah, dan jajaran pendidikan, untuk memikirkan melowongan waktu yang agak panjang agar siswa punya kesempatan untuk meni¬kmati keberadaan pustaka. Ke¬mudian memperkenalkan buku-buku yang bermanfaat kepada anak didik agar mereka dapat mengenal.
Sebab seperti kata-kata ro¬mantis “tak kenal maka tak cin¬ta”. Andai kata siswa-siswa (generasi muda) telah mengenal indahnya buku tentu kelak bu¬daya membaca akan dapat ter¬wujud. Kalau membaca telah membudaya tentu harga buku tidaklah menjadi persoalan bagi mereka, sebab bukankah untuk membeli sarana hiburan yang jauh lebih mahal mampu orang ¬tua mereka memenuhinya.
Terakhir, kalau mereka telah membudayakan kebiasaan membaca tentu mereka nanti dapat menjadi siswa-siswa yang unggul yang selanjutnya akan menentukan keunggulan sekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar