Jumat, 05 Maret 2010

FLP Adakan Seminar Katakan “Ya” Pada Sastra

q Bedah Novel

LUBUKLINGGAU- Untuk membangkitkan dunia bersastra dan penikmat sastra yang telah impoten di Kota Lubuklinggau dan sekitarnya, Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Lubuklinggau mengadakan seminar sehari dengan tema Katakan “Ya” Pada Sastra. Mengapa memilih tema itu? Karena dunia sastra kerab dipandang sebelah mata, dan dianggap bukan sesuatu yang penting.
Kita lupa, apabila kembali pada sejarah, dunia sastra pada masa 20-an merupakan media dalam menyatakan pendapat, pandangan, sekaligus sebagai catatan sebuah peristiwa, budaya dan sebagainya. Pada 1945 hingga 1966, dunia sastra dijadikan sebagai media untuk berjuang. Lewat karya-karya sastranya seperti cerpen, puisi, dan drama, dijadikan alat oleh para sastrawan untuk membangkitkan semangat juang pemuda bangsa Indonesia.
Atas dasar itulah FLP mencoba untuk kembali membangkitkan semangat bersastra bagi masyarakat secara umum, dengan tema Katakan “Ya” Pada Sastra. Demikian dikatakan Ketua Panitia Katakan “Ya” Pada Sastra, Al Ihsan Maulana, didampingi Sekretarisnya Elida Nurhabibah kepada koran ini, Jumat(5/3).
Katakan “Ya” Pada Sastra, muncul tatkala mata tak lagi tertarik membaca sebuah cerpen di harian pagi, majalah, atau yang telah dibukukan dalam bentuk kumpulan cerpen, puisi, novel dan sebagainya. Semua itu terkalahkan dengan media elektro, televisi, Hp, internet, dan lain sebagainya.
Menyadari hal ini, muncul sebuah kekhawatiran akan matinya bersastra jika tidak ada suspense berbentuk wacana bercita rasa pahit tapi menyembuhkan. Karena selama ini, sastra dianggap sebagai bidang ilmu yang membuat manja para pembaca. sastra hanya sebagai hiburan pengantar tidur. Sehingga nasib sastra terlantar begitu saja. Padahal dibalik semua fenomena sosial, telah digambarkan melalui sastra baik berbentuk cerpen maupun novel.
”Sastra bukanlah ilmu yang elit yang hanya dikuasai oleh orang-orang yang berkacamata minus, tetapi sastra juga dimiliki kaum awam yang merasa dirinya mampu menulis dan membaca. Sebut saja Pipiet Senja yang terus menulis meski kondisi fisiknya seorang penderita Leukimia, Gola Gong, preman pasar cacat-hanya memiliki sebelah tangan, namun karya-karya sastranya novel tidak sedikit dijadikan skenario sinetron. Atau penulis dari Lubuklinggau, Mas Mul yang berprofesi sebagai pedagang di sebuah sekolah, namun memiliki kecemerlangan dalam berkarya. Lalu Ferry Irawan AM, seorang ustadz yang saban hari berkecimpung dengan para santrinya ternyata menjadikan sastra sebagai media dunai kreatifitasnya, luapan imajinatifnya yang mengenadah, dan telah melahirkan empat novel. Dan masih banyak sederet sastrawan-sastrawati yang nyaris tak dikenal oleh masyarakat Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas dan sekitarnya,”jelas Al Ihsan panjang lebar.
Beranjak dari kondisi inilah, maka FLP Kota Lubuklinggau akan mengadakan seminar sehari bertema Katakan “Ya” Pada Sastra. Menurut Elida Nurhabibah, dalam acara ini akan membedah novel ”Umang” karya Ferry Irawan AM, dari segi penulisan sekaligus seorang unstadz pada Pondok Pesantren (Ponpes) Mafazah Lubuklinggau. Lalu kumpulan naskah drama yang berlatar Suku Anak Dalam (Kubu) yang berjudul ”Sendang Rembun” karya RD.Kedum (nama Pena Rusmana Dewi), yang dikenal sebagai seorang guru/dosen yang karya-karyanya terutama puisi dan teater kerab dipentaskan oleh sanggar seni, pelajar, dan mahasiswa. Akan diapresiasi oleh H Suwandi Syam yang dikenal sebagai seorang peneliti Sejarah dan Budaya Lubuklinggau dan Musi Rawas. Selanjutnya Launching Antologi cerpen yang keempat FLP Kota Lubuklinggau.
Seminar yang bekerjasama dengan Yayasan Mafaza dan Linggau Pos ini terbuka untuk umum, baik kalangan pelajar dan mahasiswa. Acara akan dilaksanakan Di Ballroom Seni Pondok Pesantren Mafazah, Minggu (7/3) sekitar pukul 08.00 hingga selesai ini akan dibuka oleh Direktur Harian Pagi Linggau Pos sekaligus Pembina FLP, Solihin.
Hanya dengan distribusi Rp 25 ribu, peserta akan mendapatkan piagam, snack, makalah, makan siang, suguhan teater dari Sanggar Seni KOASIS STKIP-PGRI Lubuklinggau, dan musik Perkusi Mafazah. Selanjutnya dalam akhir acara, FLP akan memberikan penghargaan, mengundang pelajar dan mahasiswa yang telah berpartisipasi mengikuti lomba menulis puisi dan cerpen. Serta karya-karyanya masuk dalam nominasi dan juara, seperti cerpen, Asteranu dan Pelaut Bertopeng, Pelontrean Isteri, Ibu Guru Mumun. Selanjutnya puisi, Mahalnya Ridho, Mawar, dan Joged Terdahsyat.
“Kabar gembira bagi Anda, karena pada seminar ini akan diadakan bazar buku dengan discount 40% dari setiap pembelian novel, Umang, Saung Naga, Tuah, Antologi Puisi dan Cerpen Tambatan Hati, Produksi Mafazah Ekspress, yang hanya berlaku pada 7 Maret 2010. Lalu kumpulan cerpen Banditku Sayang dari FLP, dan Kumpulan naskah Drama Tradisional Sendang Rembun karya RD. Kedum,” tambah Elida Nurbhabibah.
Dalam kesempatan ini, diumumkan kepada guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa serta masyarakat umum, demi bangkitnya sastra di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas, FLP Kota Lubuklinggau mengajak untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Yang berminat dapat mendaftarkan diri langsung pada Elida Nurhabibah (Kursus Bahasa Inggris Wahid’s Collage), Rusmana Dewi (STKIP PGRI Lubuklinggau), Nyimas Jamilah (SMA AL Ikhlas), dan Desi Arisandi (SMK Yadika).(18)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar