Sabtu, 18 September 2010

SIG dan Perencanaan

     Penyajian informasi keruangan dalam bentuk peta tidak lagi menjadi kebutuhan eksklusif orang-orang yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu keruangan (geografi, geologi, landsekap, dll). Dapat dimengerti apabila gejala ini timbul kepermukaan, mengingat yang dibutuhkan ternyata tidak cukup dengan hanya mengandalkan informasi dalam bentuk tabel dan angka-angka tetapi juga dalam bentuk peta.
     Kebutuhan akan informasi keruangan yang cepat, tepat, akurat, mudah dan murah makin mengusik para ahli sistem informasi sampai terbentuknya suatu sistem informasi keruangan berkomputer yang dinamakan Sistem Informasi Geografis (SIG) atau dalam bahasa Inggris Geographical Information System (GIS).
    SIG dan sistem informasi lainnya menjadi semacam sisi lain dari keping mata uang informasi. SIG menghasilkan informasi dalam bentuk peta dengan segala atributnya berupa data tabular dan citra.
    Untuk menghasilkan peta digital dapat digunakan sistem pengolah gambar semacam CAD sedangkan data tabular bisa dibuat melalui spreadsheet, dbase, dll, dan untuk mengolah data statistik telah banyak program statistik yang dijual di pasaran. Akan tetapi itu bukanlah SIG yang dimaksud dalam tulisan ini.

   Enviromental Systems Research Institute (ESRI) sebagai sebuah institut yang banyak mencurahkan perhatian terhadap sistem ini menyebutkan bahwa : "…..a GIS (Geographical Information System) is only a GIS if it permits spatial operations on the data." Pengelolaan data tabular sebagai atribut peta dalam SIG akan mampu mengelola dua jenis data (tabular dan keruangan) secara bersamaan.
   Dalam pengelolaan SIG yang perlu mendapat perhatian tidak hanya sekedar aspek peta digital meskipun ini hal yang utama. Hal lain yang tidak kalah penting adalah aspek pengelolaan database yang dikandungnya yang merupakan atribut peta. 
   SIG merupakan suatu sistem yang unik sehingga perlu berbagai macam latar belakang pengetahuan untuk mengelolanya diantaranya pengetahuan mengenai geografi (ilmu bumi), kartografi (ilmu desain perpetaan), geodesi (ilmu tentang ukuran-ukuran permukaan bumi), selanjutnya mengerti sistem operasional database, dan tentu saja yang "akrab" dengan komputer atau bisa juga dalam bentuk sebuah tim dengan berbagai latar belakang keahlian dan pengetahuan seperti tersebut diatas untuk suatu hasil yang padat karya.
    Jika masih sebatas memindahkan lembaran kertas peta ke bentuk peta digital yang dapat ditampilkan di layar computer, belum dapat dikatakan sebagai SIG. Hal ini baru merupakan digitasi peta. Sedangkan aspek informasinya belum nampak.
    Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) adalah sebuah sistem yang mampu membangun, memanipulasi, dan menampilkan informasi yang memiliki referensi geografis (georeferences).
    SIG dapat menyerap dan mengolah data dari bermacam sumber yang memiliki sekala dan struktur yang berbeda. Selain itu SIG juga dapat melakukan operasi data-data keruangan yang bersifat kompleks.
     Hal ini jika dikaitkan dengan system perencanaan untuk suatu produk kebijakan pembangunan, maka SIG akan sangat membantu dalam memberikan referensi pengambilan keputusan dengan perhitungan yang matang. Sebab informasi yang diberikan oleh SIG dalam bentuk informasi geografis yang dipadukan dengan hasil olahan tabulasi data yang telah dianalisis, merupakan basic data dari perencanaan itu sendiri.
    Kelompok pembuat keputusan pada pemerintahan yang baik, selamanya ingin mendapatkan informasi awal yang baik pula. Untuk itu SIG dapat memberikan informasi keruangan yang dapat divisualisasikan dalam bentuk peta digital, juga atribut informasi data yang telah dianalisis untuk tujuan yang lebih jelas seperti yang diinginkan.
   Dengan demikian, kemungkinan kurang efisiennya suatu produk kebijakan pembangunan dapat diminimalisir bahkan ditiadakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar