Selasa, 28 September 2010

Menangkap Kupu-Kupu Lagi

Dulu saya pernah memposting tulisan berjudul, Mengejar Kupu-Kupu. Tulisan itu saya buat ketika kami baru 26 hari tinggal di rumah baru di Tanjungsari. Tak terasa sekarang sudah hampir mendekati masa 2 tahun kami menempati kawasan ini, dan anak saya Luqman ternyata masih menyimpan rasa penasaran terhadap kupu-kupu yang tidak terlalu jinak. Ia ingin mencoba menangkapnya, walau kemudian dilepaskannya kembali.

Berbekal jaring penangkap ikan (lamit kalau kata orang Sunda ^_^), sejak kemarin ia terus tertarik untuk mengubahnya menjadi penangkap kupu-kupu. Ia terinspirasi dari buku yang memperlihatkan alat itu dipakai anak-anak untuk berburu kupu-kupu. Awalnya saya membeli 'lamit' memang hanya untuk menangkap ikan yang ada di kolam kecil kami. Kemudian berubah jadi penjaring kupu-kupu, sepertinya bukanlah ide yang perlu ditolak.


Satu hal yang menarik, kupu yang biasanya sangat liar dan terbang cekatan itu bahkan bisa terdiam di tangan anak saya selama kurang lebih 3 menit. Caranya hanya dielus-elus dan "memakai kekuatan pikiran" (begitu kata Luqman ^^).

Waah, sebenarnya mungkin juga ada pengaruh film MATILDA (anak yang memiliki kekuatan imajinasi sehingga bisa membebaskan teman-temannya dari seorang kepala sekolah yang jahat). Luqman menontonnya hingga beberapa kali dan begitu takjub dengan kehebatan MATILDA. Dengan pendampingan, film itu bisa sekalian mengajarkan pada anak-anak tentang hebatnya pikiran yang pantang menyerah. Tokoh Matilda yang sangat mandiri dan percaya diri membuat anak-anak belajar tentang kebalikan dari imperior.

Nah, setelah kemahiran menangkap kupu-kupu ini makin baik, dan pasti besoknya dan besoknya lagi diulang, rencananya saya akan membuatkan penangkaran kupu-kupu mini buat anak-anak. Setidaknya untuk mempertahankan benih kecintaan belajar sains sejak dini?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar