Jumat, 14 Januari 2011

ISAFAT Satukan Zakat Umat untuk Pendidikan


F-Sulis/Linggau Pos
INFAK :
Mobil Isafat yang digunakan untuk melakukan pengecekan terhadap kotak-kotak infak di seluruh kota dari Sumatera Barat hingga Lampung.

LUBUKLINGGAU-
Fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia terus menjamur. Kondisi ekonomi yang melilit mengakibatkan banyak putra bangsa terancam putus sekolah. Hanya segelintir orang yang memikirkan kesejahteraan mereka untuk memberikan pendidikan yang layak. Salah satunya Ikatan Sosial Anak Yatim Fakir Miskin dan Anak Terlantar (ISAFAT).
Gerak ISAFAT di Kota Lubuklinggau sudah cukup dikenal. Antusiasme masyarakat untuk membantu program-program yang dilaksanakan ISAFAT sudah terbukti. 60 kotak infak yang disebarkan ISAFAT di setiap toko di Kota Lubuklinggau berhasil memberikan angin segar bagi anak yatim fakir miskin dan anak terlantar di Kota Padang.
Manajemen pengelolaan dana yang dikumpulkan oleh yayasan yang didirikan Ibrahim Dulmasri ini dilakukan di Kantor Administrasi dan Keuangan ISAFAT, Jalan Gajah Mada Nomor 10, Gunung Pengilun, Padang.
Menurut pengungkapan Sidi Ali Shabrin D (67) Ketua Pemberdayaan Baitul Maal ISAFAT dana yang terkumpul ini digunakan untuk membiayai sekolah gratis bagi anak-anak yang tidak mempunyai kemampuan untuk melanjutkan sekolah.
Dalam peningkatan mutu sekolah, yayasan selalu berupaya dengan sekuat tenaga meningkatkan sarana dan prasarana sekolah seperti pembangunan lokal belajar, perpustakaan, ruangan praktik serta pengadaan peralatan praktik. Sedangkan dalam  peningkatan mutu pendidikan yayasan melakukan hubungan kerjasama dengan lembaga pendidikan lainnya, jelas Sidi Ali Shabrin D Jumat (14/1) ketika ditemui wartawan koran ini bersamaan dengan pengambilan zakat di salah satu toko di Kelurahan Taba Pingin, Lubuklinggau.
Sejak berdirinya ISAFAT, 1987 lalu hingga saat ini lebih dari 3.000 siswa berhasil menempuh tingkat pendidikan SMA, dan berhasil memperbaiki kondisi ekonomi lebih baik.
Selain itu, dengan memberikan bekal keterampilan, siswa-siswi binaan ISAFAT bisa lebih mudah mendapat pekerjaan. Bahkan ada sebagian alumni membuka usaha sendiri.
Sidi Ali Shabrin mengatakan, untuk mengumpulkan infak tersebut, ia berinisiatif untuk menyebarkan kotak infak ke beberapa kota besar di pulau Sumatera. Seperti Padang, Lubuklinggau, Muara Enim, Tebing Tinggi, Lahat, Palembang, sampai Bakaheni. Perjalanan pengambilan hasil infak umat yang terkumpul ini dilakukannya bersama istri dan salah seorang petugas keuangan.
Dengan menggunakan mobil Carry berwarna putih, setiap bulan Sidi Ali Shabrin melakukan perjalanan ini.
Berkat kegigihan ini, maka atas penelitian dan pengamatan yang dilakukan dan masukan dari tokoh-tokoh masyarakat, orang tua anak binaan serta tuntutan perkembangan teknologi, maka pengurus yayasan sepakat untuk mendirikan sekolah gratis untuk menampung anak-anak yang tidak mempunyai kemampuan untuk melanjutkan sekolah. Tepatnya Juli 1997 dilakukan penerimaan siswa perdana untuk SMK Dhuafa Padang.
“Alhamdulillah, berkat tingginya partisipasi masyarakat bersama-sama dengan pemerintah dalam pemerataan pendidikan, anak-anak terlantar yang tidak memiliki biaya untuk mengenyam bangku sekolah bisa menikmati pendidikan gratis menggunakan biaya dari masyarakat,” jela Sidi Ali Shabrin.
Saat ini, jumlah siswa yang aktif dalam rangkulan ISAFAT 400 orang. Yang terdiri dari 100 siswa MTs dan 300 siswa SMK. Karena sangat banyaknya masyarakat yang membutuhkan sekolah gratis, maka yayasan selalu berusaha melakukan pemerataan pendidikan di berbagai tingkatan dan daerah lainnya.
Tahun 2002 didirikan Pondok Pesantren Terpadu Dhuafa Nusantara Gratis (MTS Dhuafa) di Desa yang masih terisolir di Teluk Buo Kecamatan Bungus Padang. Tahun 2006 didirikan sekolah Gratis SMK Dhuafa Kepulauan Mentawai Kabupaten Mentawai.(03)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar