Minggu, 09 Januari 2011

KERANGKA BERPIKIR

Kerangka berpikir berbeda dengan sekumpulan informasi atau hanya sekedar sebuah pemahaman. Lebih dari itu kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran selanjutnya.

Untuk mendapatkan sebuah kerangka berpikir akan suatu hal bukan sesuatu yang mudah, diperlukan suatu pemikiran yang mendalam, tidak menyimpulkan hanya dari fakta yang dapat terindra, atau hanya dari sekedar informasi-informasi yang terpenggal. Selain itu diperlukan sebuah pemikiran yang cerdas dan mustanir (cemerlang) akan setiap maqlumat tsabiqah (informasi ) yang dimilikinya dan berupaya dengan keras menyimpulkan sesuatu kesimpulan yang memunculkan keyakinan.

Saya ambil sebuah contoh, karena dengan contoh ini dapat dengan mudah kita memahami apa itu kerangka berpikir. Pada SMA saya memiliki sebuah teman yang banyak sekali membaca buku tentang konsep-konsep islam dan juga umum. Saya agak ‘terhibur’ (membuat saya tersenyum), setiap kali dia membaca sebuah buku dia akan dengan semangat menceritakan pemahaman dia sesuai dengan yang dia baca. Tetapi yang lucu bagi saya adalah, pemahamannya seakan ‘berubah-ubah’ sesuai dengan buku apa yang dia baca terakhir. Apa yang terjadi pada teman saya tersebut dikarenakan dia belum memiliki kerangka berpikir sehingga apa yang dia ketahui sebenarnya hanya penggalan-penggalan informasi. Walaupun begitu saya salut dengan dia karena dia memiliki wawasan yang luas, sayang tidak dibingkai dengan sebuah kerangka berpikir.

Kemudian bagaimana mengetahui kita telah memiliki kerangka berpikir?

Seperti yang saya jelaskan diatas, kerangka berpikir adalah pemahaman yang paling mendasar yang mendukung pemahaman selanjutnya. Suatu tolak ukur yang paling mudah adalah apakah kita telah memahami pemahaman yang paling mendasar tersebut, atau pertanyaan sebelum itu, apakah kita telah mengetahui pemahaman apa yang mendasari pemahaman-pemahaman selanjutnya. Saya akan jelaskan dengan contoh lagi.

Ketika dulu saya belajar mengenai kimia di SMA pada kelas 1, saya benar-benar tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh guru, sehingga mendapat nilai < style="mso-no-proof:yes">:D. kemudian pada kelas 2, secara ‘iseng’ teman saya mengajak saya tuk mengikuti olimpiade kimia, terima kasih buat teman saya tersebut. Pada soal-soal olimpiade ternyata saya mendapat sebuah pertanyaan yang lebih fundamental dan tidak terkesan ‘book oriented’ seperti di sekolah, tapi lebih bersifat analisis dan filosofis. Dari hal itu saya mulai menyadari ‘kerangka berpikir’ mengenai kimia. Sesungguhnya hampir semua konsep kimia seperti reaksi kimia, kesetimbangan, laju reaksi, larutan, pH, dll ditopang oleh konsep stoikiometri. Konsep Mol, atom keterkaitannya dengan ikatan-ikatan kimia antar atom dan molekul mendasari semua konsep-konsep kimia. Dari pemahaman yang baik mengenai kerangka berpikir kimia tersebut, membuat saya dapat dengan cepat mencerap informasi-informasi/konsep-konsep baru dalam hal kimia, dapat dengan mudah mengkaitkan konsep baru tersebut dengan kerangka berpikir yang telah terbentuk.

Walaupun begitu kerangka berpikir pada dasarnya adalah sebuah pemahaman, bisa jadi kerangka berpikir itu memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan. Pada saat olimpiade kimia di SMA, saya benar-benar ‘mentok’ dengan pembahasan mekanisme reaksi. Dengan konsep mol atau atom yang saya pahami sebelumnya, ternyata tidak bisa saya korelasikan sama sekali dengan konsep mekanisme reaksi. Sama seperti kita menyelesaikan permasalahan-permasalahan fisika klasik, maka konsep yang harus kita pahami untuk menciptakan kerangka berpikir adalah hukum-hukum newton, pengaruh gaya terhadap percepatan (F = ma) dan teman-temannya. Tetapi ketika masalah yang ditemukan kemudian adalah permasalahan fisika modern einstenian, dibutuhkan sebuah kerangka berpikir yang lain untuk menyelesaikannya.

Seperti saat saya memahami keislaman saya dengan benar, maka hal yang harus dipecahkan sebelumnya adalah pemahaman yang paling mendasar bagi setiap manusia “dari mana saya, whats the meaning of my existence in this world, dan akan kemana saya setelah mati” setelah pemahaman tersebut didapatkan maka saya telah membentuk sebuah kerangka berpikir mengenai konsep ketuhanan, konsep itu yang akan menopang keyakinan akan konsep-konsep selanjutnya, seperti konsep monoteisme dan al-qur’an sebagai wahyu dari sang pencipta. Atau dalam tataran fiqh islam dikenal yang namanya ushul fiqh, pada dasarnya fiqh praktis maupun ushul fiqh keduanya bersumber dari al-qur’an dan asunnah, sama-sama sebuah pemahaman. Tetapi dengan ushul fiqh, kita dapat memiliki suatu acuan yang jelas untuk dapat menghasilkan fiqh praktis melalu proses ijtihad.

Harus diingat kerangka berpikir pada dasarnya adalah sebuah pemahaman, layaknya sebuah pemahaman maka pemahaman tersebut dapat salah, kurang, atau tidak sempurna. Ini penting saya jelaskan, karena kadang terdapat orang-orang yang memiliki kerangka berpikir yang salah yang pada akhirnya melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang salah pula. Sebuah kerangka berpikir yang salah konsekuensinya akan semakin besar dibandingkan pemahaman yang salah, karena kerangka berpikir biasanya akan membentuk pola sikap dan pola pikir bagi yang memiliki kerangka berpikir tersebut. Saya ingin mengambil contoh orang-orang JIL (Jaringan Islam Liberal) yang jika disimak, ternyata dia menggunakan dalil al-qur’an dan assunnah tetapi dengan kerangka berpikir ‘kebebasan akal/penafsiran’, sehingga semakin banyak dalil yang dia miliki, dapat semakin banyak pula kesimpulan salah yang dia hasilkan.

Kemudian saya ingatkan pula kerangka berpikir itu layaknya sebuah pondasi pada sebuah rumah, pondasi tanpa atap, jendela, atau pintu sungguh suatu rumah yang tidak sedap dipandang, tidak dapat menaungi sang pemilik rumah, dan tidak memberikan kenyamanan. Atap, jendela, atau pintu dapat diibaratkan sebagai pemahaman-pemahaman turunan yang dihasilkan oleh kerangka berpikir tersebut. Semakin banyak ilmu/pengetahuan yang didapat dan dikaitkan dengan kerangka berpikir tersebut dan semoga diamalkan, maka semakin lengkaplah atap, jendela, atau pintu rumah tersebut. Tetapi sebaliknya banyaknya ilmu/pengetahuan tanpa didukung oleh kerangka berpikir yang kuat, bagaikan seorang penghuni rumah yang mewah tetapi selalu gelisah karena dia khawatir pondasi rumahnya akan hancur walau oleh sedikit goncangan.

Tetapi sangat sayang sekali, untuk menciptakan kerangka berpikir bagi saya membutuhkan waktu, fasilitas dan usaha yang cukup keras. Sedangkan tuntutan pendidikan saat ini justru tidak melihat hal tersebut, banyaknya materi yang harus dipahami dan hanya dalam waktu singkat ditambah dengan minimnya fasilitas baik alat maupun pendidik, menjadi suatu hal yang sangat…sangaaaat sulit bagi kebanyakan orang untuk menciptakan kerangka berpikir. Oleh karena itu banyak materi-materi kuliah yang dijalani hanya sebatas informasi jangankan membentuk sebuah kerangka berpikir, mengubah informasi tersebut menjadi sebuah pemahaman saja sudah syukur alhamdulillah. (dosen : alasan aja, kuliahnya aja jarang, gimana bisa ngerti toh mas…, mahasiswa : hehe)

Oleh karena itu kadang-kadang banyak orang memulai ‘belajar’ untuk menciptakan kerangka berpikir tersebut justru pada saat dia telah bekerja, karena pada saat bekerja dia bertemu fakta permasalahan secara langsung, dia coba kaitkan dengan teori-teori yang pernah dia pahami, kemudian dari beberapa kali usahanya menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut barulah dia mendapatkan pemahaman. Dari pemahaman-pemahaman yang didapatnya itu dia akan memikirkan sebenarnya apa yang mendasari permasalahan-permasalahan tersebut, maka terbentuklah kerangka berpikir dia mengenai permasalahan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar