Rabu, 26 Januari 2011

Kapan Anda Harus Datang ke Psikolog?

LUBUKLINGGAU-Banyak sekali masalah yang terjadi dalam hidupan yang terkadang membuat bingung mencari solusi atau jalan keluar. Terlebih dengan permasalahan yang menyangkut dimensi pisikologis, sebab aspek ini tidak nampak jelas. Seorang cenderung menyimpan masalah, sehingga tidak ditemukan jalan keluar. Akibatnya permasalahan bertambah parah. Agar tidak berkelanjutan, lalu kemana harus mencari bantuan?
Menurut Psikolog sekaligus pemilik Syaamil Center, Irwan Tony, seseorang yang bisa disebut pisikolog adalah mereka yang menempuh pendidikan pisikolog selama 8 semester, hingga mendapat gelar sarjana pisikolog. Kemudian mengambil pendidikan profesi atau magister profesi pisikolog setrata S2.
Guna mendapatkan gelar pisikolog dan izin praktik, dari awal pisikolog sudah belajar mengenai dimensi pisikolog seseorang. Berbeda dengan psikiater yang banyak belajar dimensi fisik.
Sehingga ketika mengalami permasalahan yang berkaitan dengan dimensi psikologis, seperti putus pacar, konflik dengan pasangan, perselingkuhan. Atau anak bermasalah dengan gangguan tingkah laku maupun gangguan perkembangan, remaja yang mengalami hambatan dalam penyesuaian atau pengembangan diri, dan ingin tahu kepribadian, minat dan potensi diri bahkan untuk rekrutmen karyawan sekalipun, psikolog akan sangat terbuka untuk membantu menemukan problem solving atas masalah Anda.
“Tetapi ketika Anda menemukan orang di sekitar Anda dengan gangguan kejiwaan berat seperti psikosa, atau istilah awamnya kita bisa sebut “orang gila” yang sering tertawa sendiri, keluyuran tanpa tujuan, pakaian compang-camping, ketika diajak berbicara tidak nyambung, maka pada psikiaterlah mereka harus dibawa,” kata pria yang juga aktif sebagai anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HPI).
Menurutnya, jika telah mencapai kondisi yang demikian, aspek fisik juga telah mengalami gangguan yakni terjadinya ketidakseimbangan cairan kimia di otak yang biasa disebut neurotransmiter. Ada beberapa neurotransmiter di otak yang mempengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Misalnya terlalu banyak jumlah Dopamin dalam otak, menyebabkan kontak realitanya terganggu, adanya halusinasi, suka bicara sendiri, yang kadang sering kita sebut “gila” atau istilah psikologisnya schizofrenia. Guna menormalkan kembali fungsi ini, maka seseorang butuh obat anti psikotik yang bekerja “memblok” atau menghambat kerja dopamin, sehingga halusinasi berkurang, dan mulai ada kontak realita.
Obat ini hanya psikiater yang boleh memberikan. Ketika halusinasi sudah berkurang atau bahkan tidak muncul, diajak berbicara mulai tidak nyambung, barulah treatment psikologis seperti psikoterapi atau konseling, juga penggalian riwayat gangguan secara lebih mendalam dapat dilakukan psikolog.
Untuk memudahkan lagi membedakan antara keduanya,Irwan Tony mencontohkan, seseorang datang dengan keluhan tidak bisa tidur di malam harinya. Ketika ia datang ke psikiater, maka ia akan mendapatkan obat tidur guna mengatasi gangguannya. Tetapi, ketika ia datang ke psikolog, maka akan digali sebab musabab mengapa ia tidak dapat tidur, sehingga ditemukan akar permasalahan mengapa seseorang tidak dapat tidur. Apakah murni dimensi fisik, ataukah ada faktor psikologis. Jika murni faktor psikologis, maka treatment psikologislah yang akan diberikan. Misalnya, konseling, katarsis, atau jenis psikoterapi lain sesuai dengan permasalahan klien.
Masih bingung harus ke psikolog atau psikiater? Tidak usah bingung dan khawatir. Anda dapat merasakan yang dominan Anda keluhkan saat itu.
Jika psikologis, maka datanglah ke psikolog. Jika Anda rasa ada dimensi fisik yang menyertai keluhan Anda, maka datanglah ke dokter atau psikiater. Anda tidak perlu khawatir akan salah tempat, sebab jika mereka para psikolog, dokter, atau psikiater memegang prinsip kode etik maka mereka akan merujuk Anda jika tidak sesuai dengan disiplin ilmu mereka.
Mereka tidak asal memberikan terapi atau penanganan, tetapi disesuaikan dengan keahliannya. Misalkan saya sebagai psikolog, ada klien yang datang dan ternyata saya curiga ada dimensi fisik yang menyertai keluhannya. Tidak mungkin saya akan menutup mata dan diam saja lalu saya terapi apa adanya, tetapi saya pasti akan rujuk untuk mendapatkan pemeriksaan fisik dahulu ke dokter umum, psikiater, neurolog, internist, atau dokter yang ahli pada bidangnya sesuai dengan keluhan klien.  Begitu juga sebaliknya, saya pun tak jarang menerima psien rujukan dari dokter yang memang sumber keluhan fisik mereka adalah psikologis. Berdasarkan hasil cek laboratorium, bersih tidak ada yang terganggu sama sekali, namun si pasien mengeluhkan adanya sakit yang luar biasa pada bagian tubuh tertentu. Setelah menjalani beberapa sesi psikoterapi maka keluhan si pasien perlahan mulai berkurang. Memang butuh kehati-hatian dalam melangkah dan menentukan pilihan, tetapi bukan berarti dengan kekhawatiran salah menentukan pilihan, Anda menjadi tidak segera mendapatkan penanganan, khususnya masalah yang berkaitan dengan dimensi psikologis Anda. Sebaiknya tidak terlalu memendam banyak masalah, sebab hal ini juga akan menimbulkan masalah baru bagi Anda di  kemudian hari. (Wn)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar