Rabu, 04 Agustus 2010

KEBERUNTUNGAN YANG KELIRU

Ada kalimat bijak anonim yang berbunyi “ orang pintar kalah dari orang cerdas tapi mereka selalu kalah dari orang beruntung “. Kalimat ini sangat benar jika dikaitkan dengan beberapa rekruitmen dan staffing penjenjangan karir di berbagai lembaga baik swasta maupun pemerintah.
Pada lembaga swasta tingkat kesalahannya bisa dikatakan kecil dibanding dengan lembaga pemerintah. Hal ini disebabkan oleh tingkat evaluasi dari bagian HRD atau personalia, yang murni menilai kinerja secara keseluruhan dari individu yang dipromosikan, juga tidak terlalu mendapat intervensi atau tekanan dari pihak-pihak yang lebih di atasnya. Berbeda dengan lembaga pemerintah yang sebagian besar terintervensi oleh lobi-lobi politik praktis juga suka atau tidak sukanya pihak di tingkat pengambil kebijakan pada individu yang dipromosikan, dan menempatkan penilaian kinerja pada level-level kesekian.
Memang belum ada survey resmi tentang hal ini namun beberapa pengamatan dan pengalaman dari mereka yang pernah menjalaninya, serta kondisi yang nampak, tidak bisa ditampik bahwa pendapat ini dapat juga dibenarkan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam suatu lembaga, baik milik pemerintah maupun swasta pasti terdapat individu-individu yang brilliant dan memiliki ide-ide segar yang mampu mereka aplikasikan dengan baik tanpa melanggar aturan atau ketentuan yang berlaku, sehingga pada beberapa kesempatan yang mempertemukan mereka dengan pihak luar misalnya investor atau lembaga donor, individu ini dapat berperan aktif tanpa memberi kesan oportunis dalam hal meyakinkan pihak-pihak tersebut, hingga mampu meng-goal-kan nota-nota kerja sama yang dapat menguntungkan perusahaannya maupun lembaga pemerintah tempat mereka bekerja, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat mengangkat bukan hanya lembaga tapi lebih luas lagi seperti Daerah, Provinsi bahkan Negara.

Kemampuan seperti ini secara teori tidak mereka dapatkan pada pendidikan formalnya. Bangku pendidikan formal bagi individu seperti ini telah mereka jadikan sebagai ajang melatih diri bukan memintarkan diri dengan hafalan dan hasil ujian yang bernilai tinggi. Sehingga bekal kecakapan hidup dan intelegensi terlatihlah yang mereka bawa selepas dari pendidikan formal untuk diterapkan pada kenyataan hidup bersosialisasi dan bermasyarakat.
Kemampuan inilah yang disebut sebagai bakat kecerdasan alamiah sehingga dalam jajaran pimpinan baik swasta maupun pemerintah, mereka akan masuk pada kelompok yang dapat mempengaruhi decision maker secara positif, namun akan mendapatkan juga “lirikan negative” dari kelompok individu yang sebetulnya tidak berkinerja dan berkepribadian oportunistis. Disinilah letak bahaya dan kekeliruan rekruitmen itu sering terjadi. Mengapa demikian ? Sebab kelompok yang berkepribadian negative ini cenderung akan menampilkan laporan yang bersifat ABS dan penuh kamuflase serta manipulasi data yang notabene beresiko jangka panjang terhadap lembaga jika tidak segera disadari.
Bisa anda bayangkan, hanya karena sampul laporan yang baik dan data penjualan yang baik padahal didapat dari “tebang tanam” atas produk, seorang supervisor sales bisa melonjak menjadi manager pemasaran misalnya, atau seorang lurah yang melaporkan pajak dengan baik tapi belum tentu benar dan sering membuat spanduk atau baliho dengan slogan pembangunan yang indah dan ada foto Walikota/Bupati di situ, bisa diangkat menjadi camat atau jabatan yang setara dengan itu ? Padahal dari sisi kepribadian dan pola pikir sebenarnya individu-individu ini tidak layak bahkan berbahaya.
Disinilah factor keberuntungan itu berperan. Jika keberuntungan itu datang dan tanpa “diupayakan” oleh individu yang mendapatkannya, tentu itu adalah takdir dari Tuhan dan pasti akan berhasil baik sebab individu ini senantiasa akan diberi petunjuk dan dibimbing yang Maha Kuasa. Tetapi jika  keberuntungan itu didapat dengan cara-cara oportunistis dan jalan negative lainnya, pasti hasilnya juga akan negative pada yang bersangkutan sebab itu sudah merupakan hukum alam dan inilah yang dimaksud dengan keberuntungan yang keliru.
Jadi sebaiknya dari sekarang kita harus menyadari pada posisi mana keberuntungan yang kita peroleh, apakah pada keberuntungan karena “garis tangan” ataukah pada keberuntungan karena “campur tangan”? Sebab sebagai manusia yang beriman kita percaya bahwa semua ini ada konsekuensinya yang diluar kemampuan kita sebagai manusia untuk mengatur dan menetapkannya.
Semoga bermanfaat. By, http://pendidikan-keilmuan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar