Jumat, 13 Agustus 2010

Sekolah Gratis Tak Mengurangi Angka Putus Sekolah

LUBUKLINGGAU-Program sekolah gratis telah dicanangkan pemerintah selama ini tidak mengurangi angka putus sekolah. Padahal program itu merupakan salah satu program pemerintah wajib belajar 9 tahun dengan tujuan siswa putus sekolah dapat mengenyam pendidikan 9 tahun.
“Sejak diterapkan pendidikan gratis maka setiap anak wajib dan berhak untuk mengeyam pendidikan 9 tahun, seperti halnya anak lainnya. Akan tetapi di Kota Lubuklinggau masih ada siswa putus sekolah, dan tidak dapat mengenyam pendidikan wajib belajar 9 tahun,” kata Ir, inisial salah seorang wali murid enggan dikorankan kepada koran ini, Jumat (13/8).
Ia meneruskan keluhan ini berdasarkan pengakuan dirinya selaku wali murid dari anak putus sekolah. Karena ia tidak mampu melanjutkan anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Namun, kendati tidak memiliki biaya, tetapi anaknya itu membantu dirinya bekerja sebagai buruh harian lepas di salah satu tempat pecah batu di Kelurahan Ulak Lebar.
“Seharusnya anak saya dapat sekolah tetapi harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya ia ingin sekolah seperti teman-temanya yang lain tetapi tuntutan ekonomi keluarga membuat dia tak bisa melanjutkan sekolah,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Re, inisial warga kelurahan yang sama menyatakan jika ia mengalami nasib yang sama. Bangku sekolah yang selama ini ia nantikan namun itu hanya khayalan belaka. “Sebab kami hanya sebatas mengenyam pendidikan sampai SD saja. Sekarang ini saya harus memecahkan batu ditepi sungai untuk dapat menghidupi keluarga. Saya memiliki tiga saudara, dan kami tidak dapat melanjutkan sekolah karena orang tua kami tidak mampu dalam membiayai kami sekolah,” kata Re dengan nada memelas.
Menurutnya, orang tuanya juga bekerja sebagai buruh harian pecah batu. “Apakah mungkin dengan penghasilan yang tak menentu dapat menyekolahkan kami? Penghasilan kami di sini tidak tetap, terkadang jika ada pesanan dan memuatkan batu ke mobil truk, kami bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu dan itu harus berbagi dengan teman-teman yang ikut dalam memuat batu ke truk,” jelasnya.
Ia berharap kepada pemerintah dapat menyikapi permasalahan ini. Sehingga tidak ada lagi siswa yang mengalami hidup sama seperti dirinya.(10)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar