Selasa, 11 Mei 2010

Makan Ubi, Siapa Takut?

Sekitar 2 tahun yang lalu, saat anak-anak saya, Luqman masih 4 tahun, dan Azkia 6 tahun, saya mencoba memperkenalkan makanan paling mudah olah pada mereka, yaitu ubi kukus. Hasilnya? Mengecewakan. Mereka hanya melihat sekilas, mencicip sedikit, lalu pergi.

Sesaat saya menganggapnya sebagai hal biasa, karena memang mereka tak pernah makan makanan seperti itu sebelumnya. Akan tetapi, setelah saya renungkan lebih jauh, sepertinya hal ini tak hanya sebuah fenomena biasa, tapi juga merupakan tantangan pengasuhan dan pendidikan. Orang Indonesia, orang Sunda lagi. Masak iya nggak mau makan ubi kukus?

Ubi kukus hanyalah satu kasus kecil, tapi yang saya khawatirkan adalah sikap mereka terhadap makanan sederhana seperti ini, yang mungkin melebar ke jenis makanan lain, entah singkong rebus, pisang kukus, urap talas, dll. Tanpa diajari, kemungkinan nantinya mereka akan berpikir bahwa makanan seperti itu tidak layak dijadikan makanan. Maunya roti, biskuit, atau makanan pabrik lainnya. Sungguh saya sangat tak berharap hal itu terjadi.

Walau bagaimanapun, makanan hasil olahan sendiri jauh lebih sehat dibandingkan makanan produksi pabrik, yang pasti memakai pengawet, mungkin memakai pewarna buatan, dan bahan kimia lainnya untuk membuat makanan menarik dan tahan lama.

Selain itu, sebagai orang Indonesia saya berharap, anak-anak harus kenal dan akrab dengan makanan ala Indonesia. Jangan sampai hanya kakinya saja yang menjejak di bumi pertiwi tapi gaya hidupnya jauh dari nilai-nilai ke-Indonesiaan dan justru lebih bangga dengan budaya asing.

Ubi terdepak oleh roti, burger, dan hotdog hanyalah sebuah contoh kecil bahwa anak-anak kini telah terjauhkan dari salah satu produk budaya negerinya sendiri.Betapa banyak hal lain yang sudah tak lagi membawa serta ke-Indonesiaan dalam keseharian anak-anak Indoensia, dari mulai tontonan, mainan, berbahasa, berpakaian, dll. Oh, malangnya Indonesia. Identitasmu tak lagi nampak jelas :(

Kembali ke soal ubi. Akhirnya saya memutuskan untuk memperkenalkan makanan itu lagi dan lagi, dengan memberi mereka contoh bagaimana menikmatinya dan mensyukuri kelezatan alami yang ada di dalamnya. Lega. Tak sampai satu bulan, terapi yang saya lakukan menunjukkan hasilnya. Acara cicip mencicip melebar ke umbi-umbian dan makanan minim olah lainnya, seperti talas kukus, singkong urap, kecipir rebus, kolak labu, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, kini mereka mulai akrab dan menyukainya sebagai penganan di sela makanan pokok. Modalnya hanyalah kepercayaan mereka bahwa makanan baru yang diperkenalkan ibunya adalah makanan yang sehat dan tak ada salahnya mereka mencoba.

Sungguh sedih, saat saya mengajak anak-anak berjalan-jalan ke perkampungan di Tanjungsari dan mendatangi beberapa warung kecil, ternyata jajanan anak yang dijual di situ bukan lagi makanan tradisional kayak pisang goreng, kue lapis, jalabria, atau kue apem. Produk yang mereka jual adalah snack buatan pabrik berkemasan yang siap beli dari pasar. Ke-khasan sebuah kampung yang identik dengan kekayaan sumber alam dan kuliner menjadi seolah lenyap. Masyarakat kampung kini hanya menjadi konsumen produk industri tanpa mengimbangi dirinya dengan juga memasarkan produk hasil rumah tangga khas daerah mereka. Semoga ini hanya terjadi di satu atau beberapa kampung dan tidak di semua kampung.

Lanjut ke masalah terapi memperkenalkan makanan minim olah dan makanan tradisional, saya berdoa, mudah-mudahan hal itu juga akan membuat anak-anak menjadi orang yang luwes. Di manapun mereka tinggal, janganlah sampai persoalan makanan menjadi sangat mengganggu. Jangan sampai mereka menjadi anak-anak yang hanya kenal kelezatan yang "direkayasa" manusia dengan bumbu dan aneka proses olah yang rumit. Mereka juga harus kenal kelezatan alami karya cipta Allah Yang Maha Besar, yang tersuguh gratis pada segala jenis bahan makanan hasil bumi.

Mudah-mudahan, dengan mengenal makanan tradisional anak-anak juga terhindar dari sikap mengkastakan makanan. Makanan orang biasa dan makanan orang luar biasa? Meski bagaimanapun kondisi perekonomian keluarga kami, jangan sampai mereka mencitrakan dirinya atau orang lain sebagai orang-orang yang hebat hanya karena mereka makan makanan modern, dan menilai seseorang jadi nggak keren kalau mereka lebih suka makan makanan 'kampung'.

Setiap orang tua punya cara pandang sendiri-sendiri tentang hal ini. Tentunya boleh tidak setuju :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar