Minggu, 23 Mei 2010

Nabi dan Pewaris

Apakah nabi Muhammad saw memiliki pewaris atau tidak? Apakah setelah Nabi Muhammad saw ada khalifah penerus atau tidak? Apakah hal ini penting untuk dikaji atau tidak?

Semua manusia memiliki kecenderungan untuk mengetahui hakikat kebenaran hakiki, hal ini sudah mereka miliki sejak mereka lahir kedunia tentu dengan intensitas berbeda-beda sesuai perkembangan akal pikiran mereka.
Manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, diantara pilihan-pilihan itu tidak bijak kalau manusia secara asal mengambil salah satu darinya. Bertanyalah agar engkau tidak tersesat, “fas alu ahla dzikri inkuntum la ta’lamun” bertanyalah pada ahli dzikr jika kalian tidak mengetahui.
Manusia dibekali akal pikiran ini berarti memang diciptakan untuk menjadi makhluk yang berfikir, yang cerdas dan sengaja disiapkan untuk memilih diantara pilihan-pilihan yang ada. Pilihan yang menjadi penentu keberhasilan, serta kebahagiaan mereka.
Disini kita tidak mebahas terlalu lebar terkait perbandingan madzhab, agama aqidah, atau lainnya, kita hanya akan membahas sepotong dari bagian kecil darinya. Disini akan kita ulas nilai penting keberadaan seorang khalifah nabi, apakah keberadaannya memang sesuatu yang urgent atau tidak.

Apakah yang diwariskan?

Dalam pembahasan ini warisan yang kami maksud adalah kepemimpinan, sebuah wewenang untuk bertanggung jawab atas seluruh umat manusia sebagaimana nabi telah menjalankan tugas itu sejak diangkat sebagai seorang Nabi dan Rasul hingga meninggal. Warisan untuk melanjutkan tugas Nabi Muhammad dalam memimpin umat manusia serta berperan sebagai sumber rujukan dalam berbagai permasalah yang dhadapi ummat manusia.

Siapakah yang layak menerima waisan itu?

Nabi Muhammad saw diantara umat manusia sebagai seorang dokter yang selalu siap untuk menerima berbagai keluhan yang disampaikan pada beliau, mendengarkan dan memberikan jalan pemecahan. Beliau ada sehingga manusia bisa bertanya dan mendapatkan petunjuk untuk sampai pada jalan hidayah, semua manusia dihadapan beliau seperti para pasien, hanya dokter yang mengetahui kebutuhan pasien bukan pasien itu sendiri, begitu juga hanya Nabi yang paling mengetahuai kebutuhan manusia dibanding manusia itu sendiri.
Seorang dokter ketika dia hendak pergi keluar kota maka hanya dokter yang dia minta tolong untuk menggantikan dia selama dia pergi, dia tahu tidak mungkin dia pergi tanpa memberikan solusi bagi para pasiennya seandainya tidak ada dokter maka setidaknya dia akan memilihkan orang yang memiliki kemampuan mencukupi guna menangani para pasiennya. Sangat aneh ketika ada yang berfikir bahwa dokter itu tidak perlu memilih seseorang sebagai pengganti tapi para pasien sendiri suruh berkumpul dan bermusyawarah guna menentukan seorang pengganti bagi dokter yang pergi.
Nabi Muhammad saw pada saat akan rihlat sudah diingatkan dengan turunnya ayat pada beliau, jadi belaiu tahu bahwa beliau akan segera meneinggal setelah turunnya ayat tersebut. Beliau sebagai seorang dokter bagi ummat manusia mungkinkah kalah bijak dari dokter kesehatan? Tentu tidak, pasti beliau sudah memilih seseorang dengan perintah Allah saw untuk meneruskan tugas beliau, karena setelah beliau tidak ada Nabi lagi maka walau penerus belaiua bukan seorang Nabi paling tidak penerus tersebut harus memiliki kecakapan untuk menangani ummat manusia. Jadi pasti nabi Muhammad pernah menentukan seseorang untuk menjadi penerus beliau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar