Rabu, 19 Mei 2010

Tafsir Surah Al Baqarah 76-77

Ayat ke-76:

Artinya:
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kamipun telah beriman", tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?"
Kemudian, di dalam ayat selanjutnya Allah swt menjawab ucapan mereka itu.

Ayat ke-77:

Artinya:
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?

Pada awal kemunculan Islam, beberapa orang Yahudi, ketika melihat muslimin, mereka berkata: karena ciri-ciri Nabi kalian tertulis di dalam Taurat kami, maka kami juga beriman kepada agama kalian. Tetapi orang-orang tersebut, ketika bertemu dengan sesama mereka, mereka bertengkar satu dengan yang lain. Sebagian berkata kepada sebagian yang lain: mengapa kalian berbicara mengenai identitas Muhammad kepada muslimin ? mereka akan memanfaatkan hal itu untuk berhujjah terhadap kalian pada hari kiamat.

Akibat dari penyimpangan dan penyembunyian kebenaran yang dilakukan oleh para cendikiawan Yahudi ini yang membuat hingga sekarang masih banyak orang Yahudi dan Kristen di muka bumi.

Dari dua ayat di atas terdapat empat pelajaran yang bisa kita petik, antara lain:
1. Ketika manusia mengetahui akan kebenaran, seharusnya ia mengikutinya. Manusia jangan menyepelekan kebenaran sekalipun dengan ancaman.
2. Dalam pandangan orang-orang yang menyimpang, munafik dan menyembunyikan kebenaran untuk mempertahankan posisi dan fanatisme, tanda-tanda rasionalitas adalah mengamalkan apa yang diketahui.
3. Iman akan keberadaan Allah dan ilmu-Nya dapat mencegah manusia dari kesalahan.
4. Di sisi Allah tidak ada perbedaan antara yang tampak dan tersembunyi.

Ayat ke-78:

Artinya:
Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.

Ayat ini memperkenalkan kelompok lain dari Bani Israel yang berbeda dengan kelompok sebelumnya yang terdiri dari para cendikiawan yang menyimpangkan atau menyembunyikan kebenaran-kebenaran Taurat. Kelompok ini terdiri dari masyarakat awam yang tidak mengetahui isi kitab Taurat dan hidup dengan cita-cita mereka sendiri.

Mereka menyangka bahwa di dalam Taurat, kaum Yahudi dianggap sebagai etnis pilihan serta dicintai Tuhan, dan hanya merekalah yang selamat di hari kiamat dan tidak akan masuk neraka. Jika terdapat pengadilan terhadap mereka, maka hal itu tidak lebih dari beberapa hari. Mungkin, khayalan-khayalan dan harapan-harapan seperti itu juga terdapat di antara para pengikut agama-agama lain.

Tetapi kita harus mengetahui, bahwa semua itu adalah akibat kebodohan dan tidak adanya informasi yang mereka miliki tentang isi Kitab Allah swt. Karena pada kenyataannya tak satupun diantara ajaran-ajaran langit, yang terdapat di dalamnya khayalan-khayalan seperti ini.

Dari ayat di atas terdapat lima pelajaran yang bisa kita petik, antara lain:
1. Masyarakat harus mengenal dirinya dan memahami pemikiran dan akidah yang menguasai masyarakat.
2. Dengan adanya buku dan guru, keberadaan orang buta huruf merupakan kekurangan dan untuk itu harus ada usaha untuk menutupinya.
3. Kebodohan menjadi sarana tumbuhnya khayalan yang tidak pada tempatnya.
4. Penantian harus berdasarkan ilmu dan bukan khayalan.
5. Dalam akidah manusia dilarang untuk mengikuti persangkaan dan khayalan.

Ayat ke-79:

Artinya:
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan.

Di sepanjang sejarah selalu ada cerdik pandai yang menjadikan agama sebagai perantara untuk mencari kesenangan dunia. Sebagaimana pedagang yang menjual barang-barangnya untuk mendapat sejumlah uang; ada juga para penghamba harta yang memakai pakaian agama, menjual agamanya untuk memperoleh kekayaan. Membuat bidah di dalam agama Allah swt, dengan tujuan menarik perhatian masyarakat atau untuk memperoleh kedudukan di sisi para penguasa dan para raja, atau untuk menjaga kepentingan-kepentingan individu maupun golongan, adalah hal-hal yang termasuk diantara contoh-contoh nyata yang dimaksud oleh ayat ini; dimana Al-Quran, dengan nada yang paling keras, dengan mengulang-ulang kata-kata "Wail" (yang artinya celakalah) memperingatkan adanya bahaya tersebut.

Dari ayat di atas terdapat empat pelajaran yang bisa kita petik, antara lain:
1. Mengharapkan keimanan semua umat manusia adalah baik, tetapi kita ketahui bahwa sebagian besar umat manusia tidak siap menerima kebenaran. Oleh sebab itu, kekafiran mereka jangan sampai membuat ragu dan mengguncangkan keyakinan
kita.
2. Sebesar-besar kejahatan adalah kejahatan kebudayaan. Penyembunyian dan pemutarbalikan kebenaran adalah sebuah kejahatan yang akan membuat generasi-generasi berikut tidak mengetahui kebenaran dan menyeret kepada penyimpangan
dan kesesatan.
3. Keterjauhan para pengikut agama-agama dari ajaran Kitab-Kitab terutama al-Quran, membuka jalan berkembangnya penyimpangan-penyimpangan dan khayalan-khayalan tanpa dasar di antara mereka dan kebodohan adalah salah satu penyebab munculnya masalah besar ini.
4. Membuat agama (dengan menciptakan bidah) dan menjual agama adalah sebuah bahaya yang datang dari para musuh pembuat kerusakan, yang mengancam kehidupan manusia. Oleh sebab itu masyarakat harus berhati-hati dan tidak menerima setiap perkataan; walaupun pembicaranya adalah seorang yang lahirnya berpakaian agama .

Ayat ke-80:

Artinya:
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?"

Sebagaimana yang telah disebutkan, orang-orang Yahudi yang tidak mengetahui informasi mengenai kitab langit, menyangka hal yang salah ini, yaitu bahwa mereka lebih dekat disisi Allah dari pada orang lain, dan bahwa etnis Yahudi adalah etnis unggulan. Salah satu dari khayalan-khayalan sesat itu ialah mereka berkata jika umpamanya kami berbuat dosa, maka siksaan kami lebih sedikit dari pada orang lain dan hanya beberapa hari saja kami akan disiksa.

Ayat ini telah menarik garis salah diatas khayalan sesat ini dan berkata kepercayaan ini adalah suatu yang tidak benar yang telah kalian sandarkan kepada Allah swt, karena Allah swt menciptakan manusia dalam satu derajat dan tidak membedakan mereka dalam hal pemberian siksaan dan pahala. Pada dasarnya setiap bentuk keunggulan yang didasarkan pada etnis dan keturunan, sama sekali tidak sesuai dengan rasio. Hanya taqwa dan perbuatan baiklah yang merupakan sumber keutamaan manusia dan membedakan kemuliaan manusia antara satu dengan yang lain.

Dari ayat di atas terdapat lima pelajaran yang bisa kita petik, antara lain:
1. Salah satu ciri khas Yahudi adalah selalu ingin mendapat kelebihan dari yang lain.
2. Jangan biarkan pemikiran dan ucapan yang tidak baik begitu saja tanpa jawaban.
3. Merasa lebih, rasial dan keinginan tanpa perbuatan terlarang dalam agama.
4. Semua manusia sama di hadapan hukum dan Allah tidak pernah memberikan janji untuk menyelamatkan kaum tertentu.
5. Ketidaktahuan akan agama penyebab disandarkannya pelbagai khurafat kepada agama.
irbib indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar