Jumat, 16 April 2010

Delapan Siswa SMA Xaverius Ikuti Olimpiade Sains


Wiyoto

LUBUKLINGGAU-Guna mempersiapkan mental sebelum mengikuti Olimpiade Sains (OSN) tingkat Kota Lubuklinggau, SMA Xaverius Kelurahan Tapak Lebar Kecamatan Lubuklinggau Barat II membentuk panitia persiapan olimpiade dan tim pengajar khusus dalam membimbing siswa yang akan diutus pada perlombaan tersebut. 

Kepala SMA Xaverius, Wiyoto mengatakan, untuk mengikuti OSN pihaknya telah mempersiapkan delapan siswa yang bakal diutus pada olimpiade, Sabtu (24/4), yang direncanakan berlangsung di SMAN 1 Lubuklingggau. “Siswa yang diutus pada olimpiade nantinya siswa kelas XI,” kata Wiyoto ketika ditemui wartawan koran ini di ruang kerjanya, Jumat (16/4).
Pada persiapan itu, lanjutnya, pihak sekolah menerapkan sistem bimbingan satu guru satu siswa. Namun, untuk pelajaran Fisika, Ekonomi, dan Kimia pihak sekolah menyiapkan dua guru pembimbing dalam satu pelajaran. “Sebab pelajaran tersebut dinilai tingkat kesulitannya lumayan tinggi, sehingga dengan cara ini akan mempermudah siswa dalam belajar,” ungkapnya.
Ditambahkannya, mengenai sistem bimbingan belajar (Bimbel) pihak sekolah mengadakan bimbel diluar jam belajar. “Hal itu dilakukan sejak menerima surat edaran dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Lubuklinggau, pihaknya membentuk tim belajar khusus yang dilakukan setiap hari diluar jam belajar dengan rata-rata belajar selama 1,5 jam,”jelasnya.
Untuk itu, kata Wiyoto, guru yang membimbing siswa tersebut diarahkan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Dengan demikian siswa benar-benar dapat menguasai materi yang diajarkan. Mengenai pelajaran yang akan diikutsertakan pada perlombaan nantinya, yakni mata pelajaran Fisika, Kimia Biologi, Matematika, Komputer/Informatika, Astronomi dan Kebumian, serta Ekonomi.
“Dengan adanya bimbingan ini kita berharap agar siswa dapat memenangkan perlombaan tersebut. Namun untuk kalah atau menang itu hal biasa,” ucapnya.
Wiyoto mengatakan, dalam perlombaan pihaknya tidak memiliki target untuk juara I. Sebab, hal ini dilihat dari kemampuan siswa. “Tidak mungkin kita memaksa siswa untuk memenangkan perlombaan ini,” jelasnya. (16)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar